Segenggam lamunan di kala fajar

Dua pekan yang luar biasa. Jika dirunut, maka bisa sedikit digambarkan dengan rangkaian kalimat seperti ini. Pagi selepas shalat Subuh, saya berjalan ke kampus sendirian untuk menepati janji lari pagi. Berlari bersama Dea, Alfa, Asep, Diah dan Sitta. Mulai dari pemanasan yang gak jelas. Menunggu Asep yang ‘sibuk’ di kamar mandi. Alfa yang setelan baju larinya gak berubah-berubah. Dea yang jam segitu masih belum terlihat melek (emang gak akan keliatan melek juga sih..hehe). Kedua guru kita, Diah dan Sitta yang satu hari sebelumnya dikerjain tapi tetep mau balik lagi ke sekre (bahkan kemungkinan besar jadi keluarga baru di sekre, Subhanallah). Pagi yang indah tentunya bersama mereka. Namun, sayangnya ada yang tertinggal. Andri namanya. Satu orang ‘gila’ lain, selain Dea, yang menemani saya naik Manglayang. Jadi, komposisinya tuh gini, Andri orang gila pertama, Dea yang kedua dan saya bukan ‘orang gila’…hehe…

Banyak bercerita tentang perjalanan hati di Manglayang. Awalnya, semua dimulai dengan basa-basi. Terus dibicarakan tapi tidak pernah bertemu dengan kata yang tepat untuk menyatakan kepastian berangkat. Hingga akhirnya 2 orang yang sebelumnya sama sekali belum berpredikat gila ini, terpaksa saya sematkan predikat itu, ‘Orang Gila’. Kesepakatan untuk berangkat ini akhirnya diikrarkan di sebuah tempat yang dikelilingi gambaran-gambaran nyata tentang luar biasanya kumpulan segala makhluk hidup. Di sana belajar berbuat baik dengan menyenangkan sesama menggunakan cara kita masing-masing. Dan apakah kita berhasil???tentu saja tidak. Kita hanya sedikit membuat mereka tersenyum.

Dan akhirnya, perjalanan pun dimulai saat itu. Mulai dari dua ‘orang gila’ itu kabur dari sebuah momen iseng, sampai akhirnya semua tepar 1 jam sebelum mendaki si Manglayang. Sebelum tepar, saya sempat nganterin dua manusia aneh yang bener-bener bikin melatih kesabaran waktu itu. Dalam perjalanan nganterin mereka berdua, bahasan dan perbincangan selama perjalanan gak jauh-jauh dari batu nisan. Terlontar beberapa celetukan seperti, ‘kenapa sih pada suka naik gunung??’…’nyari mati tau’…nyari sensasi, minta maaf dulu tuh sebelum naik gunung’..yang bikin seketika layar pandang di depan mata seperti hitam putih berbayang-bayang, wong mau naik gunung malah dideketin sama batu nisan terus dibuat-buat suasana horor kaya gitu. Tapi, untungnya saat ketemu dua ‘orang gila’ tadi, musnahlah sedikit demi sedikit layar gelap itu. Perjalanan pun dimulai dari jam 1. Dimulai dari nyari senter ke sekre di sekitar. Dilanjutkan dengan pembagian tugas untuk jalan duluan dan beli makanan. Dua ‘orang gila’ itu mengawali perjalanan ke atas, Saya membeli perbekalan buat mendaki. Hingga akhirnya kita semua pun berkumpul dan memulai pendakian. Sebelum menanjak yang sebenarnya, perjalanan 3 manusia ini diselingi suara-suara dari si ‘inu’ yang agak kelaparan atau mungkin juga lagi iseng.

Terus kicauan burung-burung malam yang menambah suram suasana. Sampai akhirnya tiba di pos terakhir sebelum naik dan memulai lagi perjalanan dengan mengambil air wudhu di tengah jernihnya arus sungai di terang bulan. Dan 3 manusia ini pun bersujud secara bergantian di sebuah saung yang hening. Kemudian mulailah penanjakan yang sebenarnya. Menyeberangi sungai yang mengalir indah ke samudra di bawahnya. Ladang-ladang para petani yang mungkin sedikit terganggu kaki-kaki yang tidak berperikeladangan. Sampai akhirnya agak menyimpang dari jalan yang sebenarnya *kualat mungkin karena gak berperikeladangan*. Namun 3 manusia ini bersepakat bahwa memang udah jalannya kita agak menyimpang dulu, Allah ngasih kita bertiga kesempatan buat berpikir dan kembali ke jalan yang benar. Bukankah Allah menciptakan semua yang ada di dunia ini agar makhluknya berpikir..*mulai keluar lagi deh kata-kata bijak kalo lagi tidur bertiga di sekre*. Dan akhirnya menemukan jalan yang benar selepas subuh, setelah melalui perjuangan yang menguras tenaga, pikiran, semangat, jiwa, raga, harta dan cinta..*lho koq?*. Sempat beberapa kali proses syuting terjadi di ketinggian sana, yang dalam proses pengambilan gambarnya hanya ditemani cahaya lampu senter yang sedemikian redupnya. Sempat beberapa kali melirik ke arah seberang dengan sesekali menggumam kapan yah mataharinya muncul. Matahari hari ini seperti menunggu kita mengaguminya dari puncak sana. Semangat pun terpacu untuk semakin menapak ke atas sana. Hingga akhirnya ‘berkibarlah BPMku, lambang suci aktualia’, di salah satu puncak Manglayang yang demikian gagahnya itu. Perasaan sedih, resah dan gelisah menunggu di sana. Ada yang teriak-teriak gak jelas. Ada yang menunduk mungkin untuk merenungi segala perjuangan yang telah mengantarkan kita semua ke pintu gerbang kebersamaan Manglayang. Ada yang tak lama kemudian benar-benar ‘berbagi dengan alam’ *mungkin saking gembiranya*. Dan kemudian bergelatakan di tanah air tercinta dengan hanya beralaskan sehelai koran dan ada juga yang benar-benar polos kembali ke tanah dan hanya dipayungi tahta langit yang begitu tingginya, sambil ditemani cahaya ilahi yang mengalun lembut menemani ketundukan dan rasa terima kasih kepada sang Pencipta. Namun, intinya kita semua ikhlas menerima semua itu dan bersyukur atas apa yang telah dicapai serta mungkin mempunyai niat untuk kembali menikmati seluruh anugerah itu.

Hingga turun pun, tak berkurang rasa syukur itu menari-nari mendominasi tiap-tiap hati dari yang ada di sana. Semakin yakin bahwa masalah dunia itu hanyalah kecil, gundukan sebesar itu pun dengan masalah-masalah yang ada di dalamnya berhasil didaki. Semua masalah di bawah terasa kecil. Dan kita yakin akan hal itu. Kemudian, kembali pada cerita di awal, di mana akhirnya lari keliling kampus tercinta, entah untuk yang keberapa kali. Menikmati keindahan pagi dengan tertunduk mengucapkan syukur yang tiada habisnya. Tersenyum dan tertawa dalam bingkai persahabatan. Tak tergantikan. Tak akan pernah tergerus waktu. Selalu terkesan dengan yang ada. Jelas, tak ada kebosanan dan keengganan untuk terus berlari. Dan tak ada lagi yang bisa menggambarkan semua peristiwa luar biasa itu dengan tulisan biasa ini. Semua itu sungguh luar biasa dan ingin saya mengulanginya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s