Mari Menyenangi…

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari kedua atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil”. ( Al Isra 23-24 )

“Bapak jahat. Bapak bohong sama Dito. Katanya mau ngajak Dito jalan-jalan, terdengar jerit tangis seorang anak kecil di kamarnya.”
“Bukannya Bapak tidak mau mengajak kamu jalan-jalan. Tadi siang Bapak dirampok, Dito. Uang hasil penjualan sepeda untuk mengajak kamu jalan-jalan itu dirampok, jawab sang Bapak sambil menangis tersedu-sedu.”

Keesokan pagi:
“Dito mau berangkat sekolah?, tanya sang ayah.”
“Iiya, Bapak gak usah nanya-nanya dulu sama Dito. Pokoknya Dito tetap gak mau tahu, Bapak harus ngajak Dito jalan-jalan, jawab anaknya ketus.”
“Bapak akan tetap mengajak kamu jalan-jalan kalau Bapak ada rezeki. Tapi nilai matematika kamu juga harus bagus.”
“Ahh, itu mah gampang Pak. Yang penting Bapak harus janji ngajak Dito jalan-jalan.”
“Iiya, Bapak janji.”
Berakhirlah percakapan di pagi hari itu.

Sang ayah hanyalah penjual koran. Pekerjaan tersebut biasa ia lakukan dengan berkeliling menggunakan sepeda. Namun, sepeda itu akhirnya dijual demi memenuhi permintaan anaknya yang menginginkan jalan-jalan. Dan hasil dari penjualan sepeda itu, dirampok.
Ia pun dipecat dari agen koran yang memperkerjakannya karena dianggap sudah tidak mampu bekerja dengan baik lagi. Namun, ia tidak putus asa. Dia bekerja apa pun, mulai dari tukang sapu jalan sampai tukang parkir liar ia lakoni demi memenuhi permintaan anaknya. Hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan uang memenuhi permintaan tersebut.

“Pak, ini nilai matematika Dito”. Tergambar jelas angka 5 dengan tinta berwarna merah.
Namun, sang ayah tidak marah.
“Dito, kamu harus belajar lebih giat lagi. Jangan kebanyakan main yah. Namun, walaupun nilai kamu kurang bagus, Bapak akan tetap mengajakmu jalan-jalan.”
“Hah, beneran Pak?.”
“iiya, karena Bapak kan juga berjanji akan mengajak kamu jalan-jalan kalo ada rezeki. Nah, sekarang Bapak ada cukup rezeki untuk mengajak kamu jalan-jalan.”
“Berarti sekarang bapak punya uang. Hore, aku jalan-jalan. Makasii yah pak.

Mereka pun berjalan-jalan keliling kota. Segala hal yang diinginkan Dito dipenuhi oleh sang ayah. Hingga pada suatu momen ketika Dito dan ayahnya ingin memasuki tempat permainan yang baru, mereka melihat dua orang anak yang sedang merengek-rengek kepada Ibunya agar bisa masuk ke sebuah tempat pemandian. Ternyata sang ibu tidak mempunyai cukup uang untuk masuk ke tempat pemandian tersebut. Ditambah lagi ibu dan kedua anaknya berasal dari daerah yang jauh dari kota.
Dito dan ayahnya merasa iba dengan keadaan itu. Akhirnya mereka memberikan uangnya kepada sang ibu dan kedua anaknya.
Dan Dito mengucapkan kalimat yang menyenangi hati bapaknya :
“Dito bangga punya ayah seperti Bapak.”

*ditulis ketika hati tersentak melihat sebuah tayangan berjudul ‘Mata Hati’*

Yah, sadar ataupun tidak. Mungkin saja pernah mengalami hal seperti ini. Mengucapkan kata ‘ahh kepada orang tua. Marah ketika permintaan tak dituruti, bahkan seringkali dengan cacian. Namun, pernahkah berpikir bahwa para orang tua bekerja begitu keras demi memenuhi kewajiban terhadap anak-anaknya. Sedangkan, yang kita ketahui hanya tinggal menikmati saja. Menikmati hasil jerih payah kedua orang tua. Dan apakah kita pernah memuji orang tua dengan ikhlas atas kebaikan yang dilakukannya?. Mungkin sudah bahkan pasti belum. Maka, mulailah dengan semua itu. Hiasilah hari-hari mereka dengan perkataan-perkataan mulia. Senangkanlah mereka. Setidaknya hati mereka.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibu telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapih dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada Allah dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Allah lah kalian kembali.”
( Luqman : 14 ).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s