Proses Akulturasi dan Perkembangan Tradisi Orientasi Studi Pengenalan Kampus ( OSPEK ) Sebagai Salah Satu Warisan Budaya Kolonial

Metode adaptasi seseorang terhadap lingkungan kehidupannya yang baru, terkadang terjadi melalui sebuah proses yang luar biasa. Proses adaptasi ini bertujuan agar seseorang dapat dengan cepat bersinergi dengan kehidupannya yang baru. Hal ini merupakan sebuah keharusan bagi seorang manusia agar tidak tergerus oleh perubahan itu sendiri. Tempus mutantur, et nos mutamur in illid. Waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. Itulah sebuah pepatah latin kuno yang memang masih dapat kita lihat kenyataannya dalam kehidupan umat manusia saat ini. Waktu terus berubah beriringan dengan cara seorang manusia untuk lebih mengenalkan dirinya terhadap perubahan itu.

Perubahan itu juga yang dapat kita lihat dalam kehidupan kemahasiswaan. Mahasiswa yang didaulat menjadi agen dari perubahan, memiliki suatu tantangan yang luar biasa dalam prosesnya untuk menghadapi perubahan, hingga akhirnya mereka diharapkan dapat mengendalikan sebuah perubahan yang terjadi. Proses peralihan dari kehidupan Sekolah Menengah Atas ( SMA ) ke dalam kehidupan perkuliahan, memiliki karakteristik tersendiri dalam pelaksanaannya. Universitas sebagai sebuah institusi yang memiliki keunggulan dalam banyak hal dan juga merupakan salah satu bentuk tindak lanjut untuk pengembangan kemampuan yang lebih luas, memiliki iklim yang berbeda dengan kehidupan yang ada ketika seseorang masih berada di bangku sekolah menengah.

Oleh karena itu, dibutuhkanlah sebuah proses untuk memfasilitasi bentuk peralihan tersebut, yang bertujuan untuk memudahkan seorang mahasiswa yang baru memulai kehidupannya di lingkungan yang baru. Namun, setiap hal yang terjadi di lapangan, pada saat proses itu berlangsung, ternyata ditemukanlah unsur – unsur yang sama sekali tidak mewakili semangat untuk memudahkan pengenalan dan pengendalian perubahan tersebut. Ternyata, dalam tindakan – tindakan ataupun proses – proses adaptasi yang terjadi, terdapat penyimpangan – penyimpangan yang menjurus ke arah perbuatan yang dapat dikategorikan ke dalam perbuatan anarkis. Terdapat keinginan untuk berkuasa yang dimiliki oleh setiap individu yang merasa bahwa dirinya memiliki ‘rekam jejak’ yang lebih panjang dari individu – individu yang baru bergabung.

‘ Vivat academica ! Vivant professors !
Pereat tristitia, Pereant osores.
Pereat diabolus, Quivis antiburschius
Atque irrisores.
Panjang umur akademi ! Panjang umur para pengajar !
Enyahlah kesedihan, Enyahlah kebencian.
Enyahlah kejahatan dan siapa pun yang anti mahasiswa
Juga mereka yang mencemooh kami’.

Demikian penggalan syair sebuah lagu berjudul Gaudeamus, gubahan Christian Wilhelm Kindleben ( 1781 ), yang merupakan lagu himne di berbagai universitas di Eropa pada saat prosesi kelulusan, yang sudah diterjemahkan pula ke dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia. Sekitar awal tahun 1960 – an, lagu ini merupakan salah satu lagu wajib yang harus dinyanyikan para mahasiswa baru pada saat prosesi penerimaan mahasiswa baru. Lagu ini memiliki unsur penghargaan yang tinggi terhadap para pengajar yang juga merupakan senior mereka serta penghormatan yang lebih tinggi lagi terhadap keilmuan. Kemudian, timbullah pertanyaan – pertanyaan besar. Apakah lagu ini masih dikumandangkan pada saat ini dalam proses – proses tersebut?. Apakah jika lagu ini masih berkumandang, apa yang disebut OSPEK atau MABIM pada saat sekarang ini masih menghargai nilai – nilai senioritas yang positif?. Apakah dengan semua metode pengenalan kampus yang ada, masih terdapat penghormatan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan?. Jawabannya tentu saja mengarah kepada sebuah kata, tidak.

OSPEK yang dikenal pada saat ini ternyata merupakan sebuah bentuk perubahan nama dari proses penerimaan mahasiswa baru, yang menurut istilah dalam bahasa Belanda disebut Ontgreening, yang memiliki arti hijau. Istilah ini muncul setelah berdirinya perguruan tinggi di Hindia – Belanda pada tahun 1920. Oleh karena itu, pihak kolonial merasa bahwa mahasiswa baru ini adalah tunas – tunas yang masih ‘hijau’, sehingga harus dididik dan diberi pemahaman sesuai dengan kepentingan pihak kolonial. Tentu saja hal – hal tersebut bertentangan dengan maksud dari lagu Gaudeamus di atas.

Kemudian, setelah Republik Indonesia merdeka, prosesi penerimaan mahasiswa baru ini kembali melakukan perubahan nama menjadi Masa Prabakti Mahasiswa ( Mapram ). Pelaksanaan Mapram ini lebih cenderung ke arah perbuatan yang anarkis. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan – kebijakan ataupun peraturan – peraturan yang dikeluarkan terhadap mahasiswa baru, misalnya para mahasiswa baru tersebut disuruh lari mengelilingi lapangan, memakai baju rombeng, hingga dicukur rambutnya sampai ‘gundul’. ‘Mapram ini juga merupakan praktek – praktek yang dungu, kotor , jorok dan hanya akan menimbulkan dendam terhadap mahasiswa baru tahun berikutnya’( Mochtar Lubis). Setelah Mapram, muncul prosesi penerimaan mahasiswa baru yang dinamakan Pekan Orientasi Studi ( POS ). Hal ini terjadi karena Pemerintah pada saat itu menganggap bahwa proses penerimaan mahasiswa baru yang sudah lebih dulu ada, sangat bertentangan dengan norma – norma yang berlaku. Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat untuk mengubahnya. Maka dimunculkanlah nama Pekan Orientasi Studi ( POS ). Namun, ternyata hanya terjadi perubahan pada tingkat penyebutan namanya saja, karena dalam praktek di lapangan masih terjadi hal – hal yang cenderung mengarah ke dalam perbuatan anarkis. Proses – proses penerimaan mahasiswa baru dengan nama Pekan Orientasi Studi ( POS ) ini berlangsung hingga sekitar tahun 1990 – an. Pada masa ini nama Pekan Orientasi Studi ( POS ), berubah nama lagi menjadi Orientasi Studi Pengenalan Kampus ( OSPEK ), yang masih dikenal hingga pada masa sekarang ini, dengan metode pelaksanaan yang tidak berbeda jauh dengan metode yang sudah ada sebelumnya, walaupun pada tahun 2000, pemerintah secara resmi telah menghapuskan praktek – praktek penerimaan mahasiswa baru yang cenderung mengarah ke dalam perbuatan anarkis, dengan menerbitkan Surat Keputusan ( SK ) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ( Dikti ) No. 38 /Dikti/2000. Dengan keluarnya surat tersebut, pemerintah menyerahkan sepenuhnya kegiatan penerimaan mahasiswa baru kepada perguruan tinggi yang bersangkutan tetapi dengan tetap menitikberatkan pada kegiatan akademik. Meskipun peraturan tersebut telah dikeluarkan, ternyata masih terdapat praktek – praktek penerimaan mahasiswa yang serupa dengan apa yang terjadi pada saat prosesi itu masih bernama Ontgreening, Mapram, POS, maupun OSPEK, yang cenderung mengarah ke dalam perbuatan anarkis. Bahkan, terjadi kasus – kasus anarkis yang mengakibatkan kematian. Selama 3 tahun terakhir telah terjadi sediktnya 6 kasus kematian ( yang tercatat ) akibat kekerasan yang berdasarkan kepada tradisi – tradisi anarkis pada masa – masa sebelumnya. Misalnya, kasus yang menimpa seorang madya praja IPDN, Cliff Muntu, pada 2 April 2007, yang meninggal disebabkan oleh luka – luka akibat pukulan para seniornya, hanya karena terlambat menghadap ketika dipanggil sehabis latihan drum band. Kemudian, kasus yang terakhir menimpa Wisnu Anjar, pada 27 September 2009, mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara ( STSN ) Bogor, yang diduga tewas pada saat masa orientasi pengenalan kampus. Walaupun belum pernah terjadi kasus – kasus seperti itu, ternyata di Universitas Padjadjaran pun masih terdapat tradisi – tradisi tersebut. Sebagai contoh, sistem pengenalan kampus yang terdapat di Fakultas Sastra Unpad, dengan tradisi PFSnya. Dalam praktek – praktek pengenalannya masih ditemukan unsur – unsur intimidasi yang berlebihan, terutama secara verbal, padahal melihat kondisi terakhir waktu pelaksanaan, kegiatan tersebut berlangsung pada bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, mulai saat ini diperlukan peraturan – peraturan tegas dan mengikat dari pimpinan – pimpinan perguruan tinggi yang ingin dan akan melaksanakan kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan dan memberikan efek jera apabila terjadi hal – hal yang tidak diinginkan dalam kegiatan tersebut. Kemudian, resapilah kembali penggalan lagu Gaudeamus, gubahan Christian Wilhelm Kindleben, sehingga dapat menjadi sebuah cerminan bahwa unsur-unsur tradisi warisan kolonial tersebut harus segera diputus dan dihilangkan, karena sudah banyak menimbulkan efek – efek negatif secara berkelanjutan.

Sumber :
Sutrisno, Mudji & Hendar Putranto. 2005. Teori – Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius
Radjagukguk, Kisar & Dede Susianti. 2009. Mahasiswa STSN Tewas saat Plonco. Jakarta : Media Indonesia
Rivki . 2009. Kala Ontgreening dan Gaudeamus Tutup Usia. Jatinangor : Lembaga Penerbitan Pers Mahasiswa ( LP2M ) djatinangor

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s