Dan apakah kita akan menyerah?

‘……jangan lupa, kita sudah pernah hampir sampai kawan, kepada apa yang dinamakan rasa takut, putus asa, dan kelelahan……’ (Renungan Perjalanan, Ahmad Ilham Danial)

Ada sebuah kisah menarik dari sebuah blog yang kira-kira seperti ini:

Tersebutlah sebuah negeri yang sangat indah. Pun, rakyat negeri tersebut sangat makmur. Mereka memiliki segala macam sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari, sehingga mereka tidak pernah merasakan kekurangan sedikitpun (dalam hal materi). Ditambah lagi, di negeri tersebut berkumpul para ahli dalam segala bidang. Namun, sangat disayangkan, negeri ini diperintah oleh penguasa yang menahbiskan dirinya sebagai Tuhan. Seluruh rakyat negeri tersebut harus mengakuinya sebagai Tuhan. Bagi yang tidak mengikuti keinginan sang penguasa dalam hal meyakini keberadaannya sebagai Tuhan, maka akan dihadapkan padanya siksaan yang berat hingga menjelang ajal.

Hingga akhirnya, ada tiga orang penduduk negeri itu yang tidak mengikuti kemauan penguasanya. Tiga orang ini meyakini bahwa ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah’. Pada awalnya mereka berusaha mengajak penduduk di negeri tersebut untuk segera menanggalkan kekafiran mereka. Dan segala cara telah mereka tempuh, mulai dari berdakwah secara sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Namun, tidak ada satu orang pun yang merespon dengan baik niat mulia mereka tersebut. Bahkan, akhirnya mereka dilaporkan kepada penguasa, hingga mereka pun mendekam di penjara.

Di dalam penjara mereka mendapatkan siksaan yang sangat berat. Mereka dipukuli, ditelanjangi dan diberi makanan yang bisa setiap hari. Hal itu dilakukan oleh penguasa, agar mereka keluar dari keyakinan yang mereka yakini secara menyeluruh dalam bingkai kalimat syahadat. Namun, perbuatan penguasa tersebut ternyata sia-sia. Mereka tetap teguh pada pendiriannya walaupun dengan ancaman hukuman mati.

Kemudian, tiba saatnya pelaksanaan hukuman mati. Sebelum dilaksanakan eksekusi terhadap mereka bertiga, sang penguasa menanyakan kembali kepada mereka :

‘Apakah kalian tetap teguh pada pendirian kalian dengan tidak menyembahku?’, tanya sang penguasa.

Mereka serentak menjawab :

‘Tidak, Tuhan kami bukan Anda wahai penguasa yang sombong. Allahlah Tuhan kami, yang ter-Maha, yang menciptakan kami dan Anda sekalian. Maka kami pun sekali-kali tidak akan pernah luput dari kalimat syahadat yang kami ucapakan.’

Sang penguasa pun bertambah berang dan memerintahkan para algojo untuk mempercepat proses hukuman. Penguasa tersebut menginginkan mereka dihukum satu persatu. Tibalah giliran yang pertama. Sang penguasa bertanya lagi :

‘Apakah kamu tidak mau menyembahku sebagai Tuhan?’.

Ia pun menjawab :

‘Tidak.’

Dan putuslah seketika leher orang yang pertama. Dan untuk menambahkan efek ngeri terhadap yang lainnya, penguasa tersebut menyuruh kepada para algojo untuk melemparkan jasad orang yang pertama ke kolam buaya.

Orang yang kedua pun mendapat gilirannya. Sebelum dibunuh, sang penguasa bertanya lagi kepada orang yang kedua.

‘Apakah kamu meyakini aku sebagai Tuhanmu?.’

Jawaban sama pun terlontar :

‘Tidak.’

Orang yang kedua akhirnya dimasukkan ke dalam kerangkeng yang berisi singa-singa yang kelaparan. Ia pun menjadi rebutan singa-singa tersebut hingga tubuhnya hancur tak berbentuk.

Orang ketiga yang masih hidup merasa ngeri sekali dengan apa yang dilihatnya. Namun, ia berusaha tetap meyakini kalimat syahadat dengan sepenuh hatinya. Cobaan terakhir pun datang. Dan sang penguasa kembali bertanya :

‘Apakah kamu tetap berpendirian seperti teman-temanmu itu?, dan jika itu tetap menjadi pendirianmu, maka aku tidak akan pernah sekalipun membiarkan tubuh dan sisa-sisa tulangmu terlihat lagi. Aku akan membiarkan tubuhmu dicabik-cabik buaya dan singa-singaku yang lain. Setelah itu, jika masih ada bagian tubuhmu yang tersisa, aku akan memasukkannya ke dalam kuali yang sangat panas hingga tak ada benar-benar yang tersisa.’

Ia akhirnya menyerah dan berkata beda dengan teman-temannya.

‘Baiklah Tuan penguasa, saya akan mengakuiMu sebagai Tuhanku dan keluar dari kepercayaan yang saya yakini.’

Sang penguasa bertanya lagi :

‘Sudah berapa tahun kamu meyakini kepercayaan itu?.’

‘Empat puluh tahun, jawab orang yang ketiga.’

Sang penguasa pun memerintahkan algojo untuk memotong tubuh orang yang ketiga tersebut menjadi dua bagian dan melemparkannya ke kandang buaya dan singa. Orang yang ketiga protes. Dia bertanya:

‘Kenapa saya tetap dibunuh?.’

Sang penguasa menjawab :

‘Karena kamu tidak setia pada keyakinanmu. Untuk keluar dari keyakinan yang telah kamu yakini selama 40 tahun saja begitu mudah, apalagi jika nanti kamu mengikuti saya, bisa jadi kamu tidak akan bertahan lama meyakini saya sebagai Tuhanmu.’

Akhirnya, orang yang ketiga pun mati dengan mengenaskan. Padahal, jika ia bersabar di detik-detik terakhir godaan itu, tentu saja Allah sudah menjanjikan balasan surga bagi dirinya seperti yang akan diberikan kepada dua temannya. Namun, akhirnya ia menyerah dan hilanglah semua yang telah diperjuangkan sebelumnya. Dan apakah kita akan menyerah sebelum sampai akhirnya?. Wallahualam

‘Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’ (Al-Baqarah : 153)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s