Trem yang Kehilangan Arah

Aku berada di jalan yang tak dikenal
Dan tiba-tiba terdengar suara burung gagak,
Dan suara yang sayup-sayup kemudian keras, dari kejauhan,
Melintaslah trem di depanku.

Bagaimana aku melompat ke anak tangga,
Adalah sebuah misteri bagiku,
Di udara dia meninggalkan jejak-jejak kecil
Seperti api di siang hari.

Dia berlari dengan kencang bagai badai hitam bersayap,
Dan menghilang di kedalaman jurang waktu
Berhentilah, Kondektur,
Hentikan Tremnya sekarang!

Terlambat. Kita telah melewati tembok,
Kita melewati hutan palem
Di atas Neva, di atas Nil dan Sheine
Kita berlari melewati tiga jembatan.

Dan, tampaklah dari balik jendela,
Pandangan menyelidik terhadap trem
Seorang lelaki tua, tentu saja, yang sama itu,
Yang telah meninggal di Beirut tahun lalu.

Di mana aku? Sangat lemah dan cemas
Suara hatiku menjawab :
Apakah aku melihat stasiun, tempat di mana

Kau bisa membeli jiwa dengan tiket ke India
Sebuah tanda, surat yang ditulis dengan huruf-huruf berdarah
Tertulis : Hijau, aku tahu bahwa selain dengan itu
Bersama kubis dan sejenisnya,
Dijual kepala orang mati.

Dalam balutan kaos merah, wajah seperti kerbau
Sang jagal memotong kepalaku,
Dia tergeletak di sana bersama yang lain
Di sini, dalam peti mati

Tetapi di ujung jalan padang rumput abu-abu
Sebuah rumah dengan tiga jendela dan pagar kayu
Berhentilah, Kondektur
Hentikan tremnya sekarang!

Mashenka, disinilah kau tinggal dan bernyanyi
Kau tenunkan sebuah karpet, untukku, pengantinku
Di manakah suara dan tubuhmu sekarang?
Mungkinkah, kau telah mati?

Betapa menderitanya kau di ruangan sendirian,
Sementara aku dengan menggunakan rambut palsu
Pergi untuk mempersembahkan diriku kepada sang ratu
Dan takkan pernah bertemu denganmu lagi.

Kini aku mengerti : kebebasan kita
Hanya dari mana datangnya cahaya,
Orang – orang dan bayangan berdiri di pintu masuk
Ke planet taman binatang.

Dan tiba – tiba angin yang dikenal dan yang manis
Dan di balik jembatan waktu berlalu dengan cepatnya pada diriku,
Seorang penunggang kuda dengan tangan yang memakai sarung tangan besi
Dan dua kuku kudanya

Kebenaran itu benteng gereja Ortodoks
Berhenti di Gereja Isak di ketinggian
Di sana aku akan menahan pelayanan untuk kesehatan
Mashenka dan upacara kematian untuk diriku

Dan hatiku pergi untuk selamanya dalam kemuraman,
Dan sangat berat untuk bernafas, dan sangat kesakitan untuk hidup…
Mashenka, aku takkan pernah bermimpi
Di mana kemungkinan ada cinta dan kesedihan!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s