Analisis Puisi ‘ЗАБЛУДИВШИЙСЯ ТРАМВАЙ’ atau ‘Trem Yang Kehilangan Arah’ Karya Nikolay Stepanovich Gumilev Berdasarkan Teori Semiotika Michael Riffaterre

Hingga saat ini, puisi belum dapat terdefinisikan dengan baik oleh para ahli sastra. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya perdebatan di antar para ahli mengenai keluasan dan kedalaman makna yang terkandung dalam sebuah karya yang berbentuk puisi, sehingga banyak ahli ataupun sastrawan sendiri yang memberikan definisinya masing-masing mengenai puisi. Secara etimologis, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani, poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat dan dalam bahasa Latin, poeta, yang memiliki arti membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Kemudian, seiring perkembangan zaman, muncul lagi definisi baru mengenai kata puisi, yaitu hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan. (Situmorang, 1980:10)

Sedangkan dalam Kamus Istilah Sastra, definisi puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. William Wordsworth pun memberikan definisinya sendiri mengenai puisi. Wordsworth mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian. Masih banyak lagi yang memberikan definisi mengenai puisi dan berikut adalah beberapa definisi mengenai puisi :

“Puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.” (Putu Arya Tirtawirya, 1980:9)
“Puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sedikit mungkin.” (Ralph Waldo Emerson dalam Situmorang, 1980:10)
“Puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.” (Watt-Dunton dalam Situmorang, 1980:9)
“Puisi merupakan pengucapan dengan perasaan.” (HB. Jassin, 1953:54)

Melalui beberapa pendapat mengenai definisi puisi di atas, dapat disimpulkan bahwa masih terlalu banyak perbedaan-perbedaan pikiran mengenai definisi puisi. Namun, bila unsur-unsur dari pendapat-pendapat mengenai puisi itu dipadukan, maka akan dapat ditarik garis besar tentang pengertian puisi yang sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. Dari unsur-unsur tersebut dapat disimpulkan tiga unsur pokok yang mendukung definisi mengenai puisi secara umum yaitu, hal yang meliputi ide, pemikiran atu emosi. Bentuk dari puisi itu sendiri. Kemudian, yang terakhir adalah kesan yang didapat dari sebuah puisi yang keseluruhan dari unsur-unsur pokok tersebut terangkum dalam media bahasa. (Shahnon Ahmad, 1978:3-4)

Jadi, puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, serta merancang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan member kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.

Seperti yang dikatakan A. Teeuw (1980:12), puisi sebagai sebuah karya seni, dapat dikaji dari berbagai aspek yang terdapat di dalamnya. Puisi dapat dikaji melalui struktur dan unsur-unsur pembentuknya, mengingat puisi itu adalah struktur yang tersusun dari berbagai macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Sepanjang zaman, puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang di dalamnya selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaruan (inovasi). Michael Riffaterre (1978:1) juga mengatakan bahwa puisi selalu berubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Oleh karena itu, puisi perlu dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis.

Nikolay Stepanovich Gumilev adalah yang berasal dari keluarga bangsawan. Gumilev dianggap sebagai penyair berpengaruh di Rusia sekaligus dikenal pula sebagai kritikus sastra yang banyak menuangkan ide tentang cinta, kehidupan, serta pertanyaan-pertanyaan filosofis. Pada masa-masa awal kepengarangannya, ia sangat dipengaruhi oleh sajak-sajak kaum simbolis. Namun setelah itu, ia mencoba bereksperimen dan menemukan gaya persajakannya sendiri. Gaya persajakannya sangat dipengaruhi oleh kegemarannya yang menyukai petualangan. Hal lain dari kehidupannya yang mepengaruhi gaya persajakannya adalah pernikahannya, walaupun berujung dengan perceraian serta pengalamannya ketika menjadi tentara yang ikut dalam Perang Dunia I dan sempat mendapatkan dua bintang jasa kehormatan. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadikan sajaknya berisi antara campuran keindahan dan keganasan hidup yang pernah dialaminya. Oleh sebab itu, bentuk dan gaya persajakannya pun bersifat lugas dan jelas yang karena gaya-gaya itu pula, Gumilev akhirnya ditangkap dan dihukum mati. Pada masa-masa akhir hidupnya inilah puisi-puisinya seakan terlihat ‘rumit’ atau sulit untuk dimengerti, bahkan dapat dikatakan ‘gelap’. Hal inilah yang mengakibatkan penulis tertarik untuk mengkaji salah satu puisinya yang berjudul ‘Заблудившийся Трамвай’ atau ‘Trem yang Kehilangan Arah’.

Analisis puisi bertujuan untuk memahami makna yang terdapat di dalam sebuah puisi. Dengan menganalisis puisi, sesorang dapat menangkap dan memberikan makna pada sebuah teks sastra. Karya sastra merupakan sebuah struktur yang bermakna. Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dan bermediumkan bahasa. Bahasa itu sendiri sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Hal ini terjadi karena, walaupun dahulu bahasa dianggap belum digunakan dalam karya sastra, bahasa itu sendiri sudah merupakan lambang yang mempunyai arti dan ditentukan oleh perjanjian masyarakat atau ditentukan oleh konvensi masyarakat. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti dalam konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang didasarkan atau ditentukan oleh konvensi atau perjanjian masyarakat. Sitem ketandaan inilah yang disebut semiotika.

Karena hal-hal yang diuraikan di atas, mengkaji dan memahami puisi tidak dapat dilepaskan dari anailisis semiotik. Puisi secara semiotik merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna serta ditentukan oleh konvensi masyarakat. Memahami puisi adalah berusaha memahami makna yang terdapat di dalamnya. Makna puisi adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yaitu arti yang bukan semata-mata hanya arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan. Oleh karena itu, diperlukan analisis semiotik dalam mengkaji sebuah puisi karena puisi itu sendiri merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna.

Berikut adalah lirik puisi ‘Заблудившийся Трамвай’ atau ‘Trem yang Kehilangan Arah’, karya Nikolay Stepanovich Gumilev :

ЗАБЛУДИВШИЙСЯ ТРАМВАЙ
Шёл я по улице незнакомой
И вдруг услышал вороний грай,
И звоны лютни, и дальние громы,
Передо мною летел трамвай.
Как я вскочил на его подножку,
Было загадкою для меня,
В воздухе огненную дорожку
Он оставлял и при свете дня.
Мчался он бурей тёмной, крылатой,
Он заблудился в бездне времён…
Остановите, вагоновожатый,
Остановите сейчас вагон!
Поздно. Уж мы обогнули стену,
Мы проскочили сквозь рощу пальм,
Через Неву, через Нил и Сену
Мы прогремели по трём мостам.
И, промелькнув у оконной рамы,
Бросил нам вслед пытливый взгляд
Нищий старик,- конечно, тот самый,
Что умер в Бейруте год назад.
Где я? Так томно и так тревожно
Сердце моё стучит в ответ:
“Видишь вокзал, на котором можно
В Индию Духа купить билет?”
Вывеска… кровью налитые буквы
Гласят: “Зеленная”,- знаю, тут
Вместо капусты и вместо брюквы
Мёртвые головы продают.
В красной рубашке с лицом, как вымя,
Голову срезал палач и мне,
Она лежала вместе с другими
Здесь в ящике скользком, на самом дне.
А в переулке забор дощатый,
Дом в три окна и серый газон…
Остановите, вагоновожатый,
Остановите сейчас вагон!
Машенька, ты здесь жила и пела,
Мне, жениху, ковёр ткала,
Где же теперь твой голос и тело,
Может ли быть, что ты умерла?
Как ты стонала в своей светлице,
Я же с напудренною косой
Шёл представляться Императрице
И не увиделся вновь с тобой.
Понял теперь я: наша свобода
Только оттуда бьющий свет,
Люди и тени стоят у входа
В зоологический сад планет.
И сразу ветер знакомый и сладкий
И за мостом летит на меня,
Всадника длань в железной перчатке
И два копыта его коня.
Верной твердынею православья
Врезан Исакий в вышине,
Там отслужу молебен о здравьи
Машеньки и панихиду по мне.
И всё ж навеки сердце угрюмо,
И трудно дышать, и больно жить…
Машенька, я никогда не думал,
Что можно так любить и грустить!
1919

Trem yang Kehilangan Arah
Aku berada di jalan yang tak dikenal
Dan tiba-tiba terdengar suara burung gagak,
Dan suara yang sayup-sayup kemudian keras, dari kejauhan,
Melintaslah trem di depanku.
Bagaimana aku melompat ke anak tangga,
Adalah sebuah misteri bagiku,
Di udara dia meninggalkan jejak-jejak kecil
Seperti api di siang hari.
Dia berlari dengan kencang bagai badai hitam bersayap,
Dan menghilang di kedalaman jurang waktu
Berhentilah, Kondektur,
Hentikan Tremnya sekarang!
Terlambat. Kita telah melewati tembok,
Kita melewati hutan palem
Di atas Neva, di atas Nil dan Sheine
Kita berlari melewati tiga jembatan.
Dan, tampaklah dari balik jendela,
Pandangan menyelidik terhadap trem
Seorang lelaki tua, tentu saja, yang sama itu,
Yang telah meninggal di Beirut tahun lalu.
Di mana aku? Sangat lemah dan cemas
Suara hatiku menjawab :
Apakah aku melihat stasiun, tempat di mana
Kau bisa membeli jiwa dengan tiket ke India
Sebuah tanda, surat yang ditulis dengan huruf-huruf berdarah
Tertulis : Hijau, aku tahu bahwa selain dengan itu
Bersama kubis dan sejenisnya,
Dijual kepala orang mati.
Dalam balutan kaos merah, wajah seperti kerbau
Sang jagal memotong kepalaku,
Dia tergeletak di sana bersama yang lain
Di sini, dalam peti mati
Tetapi di ujung jalan padang rumput abu-abu
Sebuah rumah dengan tiga jendela dan pagar kayu
Berhentilah, Kondektur
Hentikan tremnya sekarang!
Mashenka, disinilah kau tinggal dan bernyanyi
Kau tenunkan sebuah karpet, untukku, pengantinku
Di manakah suara dan tubuhmu sekarang?
Mungkinkah, kau telah mati?
Betapa menderitanya kau di ruangan sendirian,
Sementara aku dengan menggunakan rambut palsu
Pergi untuk mempersembahkan diriku kepada sang ratu
Dan takkan pernah bertemu denganmu lagi.
Kini aku mengerti : kebebasan kita
Hanya dari mana datangnya cahaya,
Orang – orang dan bayangan berdiri di pintu masuk
Ke planet taman binatang.
Dan tiba – tiba angin yang dikenal dan yang manis
Dan di balik jembatan waktu berlalu dengan cepatnya pada diriku,
Seorang penunggang kuda dengan tangan yang memakai sarung tangan besi
Dan dua kuku kudanya
Kebenaran itu benteng gereja Ortodoks
Berhenti di Gereja Isak di ketinggian
Di sana aku akan menahan pelayanan untuk kesehatan
Mashenka dan upacara kematian untuk diriku
Dan hatiku pergi untuk selamanya dalam kemuraman,
Dan sangat berat untuk bernafas, dan sangat kesakitan untuk hidup…
Mashenka, aku takkan pernah bermimpi
Di mana kemungkinan ada cinta dan kesedihan!
1919

• Parafrase :
Dia adalah seseorang yang berada di sebuah jalanan luas yang asing baginya dan dia tidak menemui ujung dari jalan tersebut. Dari kejauhan, dia mendengar suara burung gagak yang menyalak dan deru suara trem yang mendekat dan semakin lama semakin keras. Trem tersebut berhenti di hadapannya dan dia memutuskan untuk naik, walaupun dia tadak tahu kenapa dirinya harus menaiki trem tersebut. Trem tersebut melintas sangat cepat seperti badai yang datang menghancurkan suatu tempat. Hal ini menyebabkan ia ketakutan sehingga dia meminta kondektur untuk menghentikan laju tremnya.

Namun, semua sudah terlanjur terjadi. Sangat terlambat. Trem tersebut sudah melintas sangat jauh. Bahkan jika diibaratkan jauhnya, trem itu sudah melintasi batas antara dunia nyata dan dunia lainnya. Kemudian, ia melihat ke luar melalui jendela yang ada di trem tersebut. Dalam penglihatannya tersebut, ia melihat seorang laki-laki tua berpakaian lusuh yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang tajam. Dia tahu bahwa laki-laki tersebut adalah seseorang yang terbunuh di Beirut pada tahun-tahun sebelumnya. Dia pun ketakutan dan kebingungan. Dia tak tahu di mana dirinya berada saat itu. Dia pun mencari petunjuk atau tanda yang dapat menjawab kebingungannya akan tempatnya berpijak.

Tidak seberapa jauh dari tempatnya berdiri, terpampang sebuah papan reklame bertuliskan “Hijau” yang tulisannya berwarna merah seperti darah. Di tempat itu pula, terlihat dijual sayur-sayuran seperti kubis yang diantaranya terlihat seperti kepala manusia. Hingga tiba-tiba datang menghampirinya seseorang berpakaian merah yang memenggam golok dan hendak memenggal kepalanya. Lalu kepalanya benar-benar terpotong dan tergeletak berampur dengan kubis dan sayuran-sayuran lain.

Dia kaget dan tersadar. Ternyata yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi karena kenyataanya, dirinya masih berada di dalam trem. Kemudian dia melihat lagi ke luar jendela. Pandangannya dia arahkan ke ujung jalan, di mana terletak sebuah rumah yang asri dan teduh. Itu adalah rumah di mana ia biasa tinggal dengan istrinya. Mashenka, nama istrinya. Di rumah itulah mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Namun, sekarang Mashenka telah pergi dan tak tahu kabar beritanya. Mungkin saja Mashenka telah meninggal karena terlalu lama menunggui dirinya. Mungkin pula Mashenka sakit dan menderita ketika ditinggal sendirian olehnya yang bekerja di Istana Kerajaan.

Dia pun memahami tentang makna kebebasan. Bahwa kebebasan adalah sebuah pilihan dan yang memutuskan untuk memilih kebenaran adalah diri kita sendiri sebagai manusia, walaupun banyak yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Kemudian datanglah seorang penunggang kuda yang gagah dan dengan cepat telah tiba di hadapannya seperti mengajaknya terhadap sesuatu. Ternyata ia diajak untuk berlindung di bawah naungan paham Ortodoks. Dia pun berpikir bahwa dengan dirinya berlindung di bawah naungan paham Ortodoks, maka dapat menimbulkan kesembuhan bagi Mashenka. Dia juga mengharapkan agar kelak ketika ia mati, maka ia dapat dikuburkan secara Ortodoks, tentu saja dengan upacara kematian yang sangat indah. Dia pun menjadi sangat kuat keimanannya terhadap paham Ortodoks yang dianutnya.

Demi Mashenka dan keinginan kuat untuk hidup bersamanya, ia rela menjalani kehidupan yang penuh dengan kesedihan dan kesakitan sampai akhir hayatnya. Hingga akhirnya, dia terjebak dan harus mengubur dalam-dalam impiannya itu, karena ternyata semua sudah terlambat. Mashenka telah pergi entah kemana dan dia hidup tidak dalam kebebasan yang diimpikannya.

• Analisi Puisi berdasarkan Semiotika Michael Riffaterre
Bahasa yang digunakan dalam sebuah puisi biasanya bersifat konotatif atau bukan arti sebenarnya atau multi interpretasi. Hal ini terjadi karena karakter puisi itu sendiri yang berusaha mengatakan atau memberitahukan sesuatu secara tidak langsung. Bahasa yang digunakan dalam sebuah puisi biasanya juga berusaha menyatakan sesuatu dengan maksud yang lain.

Dalam puisi ‘Trem yang Kehilangan Arah’, yang dijadikan bahan utama dalam penulisan makalah ini, bahasa puisi ini sudah terlihat konotatif sejak kita membaca judulnya. Trem tergambarkan seperti sebuah simbol dari sesuatu atau seseorang yang sedang mengalami disorientasi dalam hidupnya. Dia seperti tidak tahu apa yang dipikirkannya, siapa yang dipikirkannya, serta bagaimana dia seharusnya berpikir. Simbol trem yang digunakan dalam puisi ini sebagai sesuatu atau seseorang yang sedang mengalami disorientasi dalam hidupnya merupakan sebuah hal yang unik, karena trem jarang sekali digunakan dalam puisi. Saya hanya bisa menduga bahwa penulis berusaha memaknai secara lain trem tersebut yang mungkin saja merupakan sebuah refleksi kehidupan dari pengarang sendiri.

Dalam hal ini, kita juga dapat melihat bahwa telah terjadi pergeseran, perusakan serta peniptaan makna baru. Hal ini dapat terjadi sekaligus apabila kita membandingkan konsep trem yang terdapat dalam puisi dengan konsep trem sebenarnya dalam kehidupan nyata. Trem adalah kendaraan yang berfungsi sebagai angkutan umum yang sudah memiliki jalurnya sendiri. Hal ini mengakibatkan sebuah trem hanya bisa berjalan sesuai jalur yang telah disiapkan untuknya, karena trem tidak akan bisa jalan apabila berjalan di luar dari jalurnya. Tentu saja telah terjadi pergeseran makna dalam puisi tersebut yang dimulai dari judulnya ‘Trem yang Kehilangan Arah’, ketika trem tersebut digambarkan kehilangan arah dan tak tahu akan kemana. Hal ini juga dapat berarti sebagai sebuah perusakan makna terhadap sesuatu, karena sesuatu yang sudah dijadikan ukuran ideal dalam kehidupan nyata (trem berjalan di jalurnya), dijadikan pemahaman yang begitu saja (trem kahilangan arah atau keluar dari jalurnya) bahkan terkesan sangat bertolak belakang dengan kehidupan nyata. Ini juga menimbulkan pemaknaan baru terhadap trem, di mana trem dianggap dapat tetap berjalan walaupun sudah keluar dari jalurnya.

Puisi ‘Заблудившийся Трамвай’ atau ‘Trem yang Kehilangan Arah’ ini juga memberikan sebuah gambaran kepada kita mengenai gaya-gaya yang digunakan oleh Gumilev dalam fase akhir masa hidupnya yang penuh dengan kemuraman. Kita dapat melihat pada bait pertama, ketika digambarkan seseorang yang terasing dengan segala keterbatasannya dalam mengetahui segala sesuatu dan penuh kewaspadaan. Kemudian pada bait kedua terlihat bahwa Dia ‘lirik’ mengalami kebingungan dan ketakutan yang sangat, seolah-olah akan terjadi suatu hal yang sangat buruk akan menimpanya. Gambaran kemuraman dan keputusasaan itu berlanjut ke dalam tiap-tiap bait berikutnya, yang seolah-olah tidak ada rasa optimis sedikit pun dalam puisi ini. Ini bisa saja merupakan sebuah refleksi kehidupan Gumilev yang sesungguhnya di fase akhir kehidupannya, di mana Gumilev ditangkap, diancam, dibuang hingga akhirnya dihukum mati pada saat pemerintahan Komunis mulai berkuasa. Hal itulah yang menjadi salah satu kemungkinan Gumilev menulis puisi dengan gaya seperti ini.

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi ‘Заблудившийся Трамвай’ atau ‘Trem yang Kehilangan Arah’ merupakan sebuah puisi yang sangat menarik untuk dikaji. Hal ini karena, kita sudah dapat menemukan simbol yang mewakili tiga jenis ketidaklangsungan makna yang terdapat dalam sebuah puisi hanya dengan mengamati secara seksama judul puisi tersebut. Tiga jenis ketidaklangsungan tersebut adalah pergeseran makna, perusakan makna, dan pemberian makna baru terhadap kata yang dijadikan salah satu unsur utama yang membentuk puisi tersebut.

Melalui puisi ini, Gumilev hendak memperlihatkan kondisi seorang manusia ketika sedang terjadi kekisruhan dalam kehidupannya. Kondisi Gumilev yang dituduh melakukan sebuah perbuatan subversif oleh pemerintah, karena menggunakan kata-kata yang dianggap ‘keras’ dalam karya-karyanya yang memang ia tujukan kepada pemerintah, tentu saja menimbulkan tekanan yang sangat besar dalam kehidupannya. Namun, walaupun begitu, Gumilev berusaha menyajikan sebuah puisi yang oleh banyak orang dianggap sebagai puisi modern dengan kondisi apa adanya atau tidak dibuat-buat. Kata-kata yang digunakan dalam puisinya memang sederhana, namun untuk memahaminya, dibutuhkan penghayatan dan pembahasan yang mendalam mengenai keunggulan Gumilev dalam merangkai kata menjadi sebuah puisi. Itulah yang penulis rasakan dalam proses penulisan makalah ini, hingga akhirnya makalah ini dapat selesai. Tentu saja masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun agar dapat melakukan penulisan yang lebih baik lagi.

Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA
Zeffry, 1999. Dari Pushkin sampai Perestroika. Depok : Fakultas Sastra UI–Depok.
Materi kuliah Dasar-dasar Teori Sastra Program Studi Sastra Rusia Universitas Padjadjaran semester IV.
Dasar-dasar analis puisi, tanpa penulis, tanpa penerbit
SUMBER INTERNET
http://www.lib.ru

2 thoughts on “Analisis Puisi ‘ЗАБЛУДИВШИЙСЯ ТРАМВАЙ’ atau ‘Trem Yang Kehilangan Arah’ Karya Nikolay Stepanovich Gumilev Berdasarkan Teori Semiotika Michael Riffaterre

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s