Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu Karya Leo Tolstoy : Pesan-pesan Tolstoy Untuk Manusia Modern

“Hanya Tuhanlah yang tahu kejadian sebenarnya, maka kepada Tuhanlah sepantasnya aku memohon ampun, karena Dialah satu-satunya yang sanggup memberi pertolongan.” (Leo Tolstoy)

Salah satu tradisi yang berlandaskan nilai-nilai religiusitas adalah pernikahan. Pernikahan, dalam setiap agama, dipandang sebagai sesuatu yang sakral dan memiliki banyak manfaat, diantaranya seperti meneruskan keturunan, menyatukan dua keluarga yang berbeda, sarana untuk lebih bertanggung jawab serta sebagai solusi untuk mengurangi penyakit-penyakit fisik maupun kemunduran moral yang terjadi di masyarakat. Ternyata pernikahan merupakan sarana ampuh untuk mengubah prilaku seseorang menjadi lebih baik. Hal ini justru terjadi pada kehidupan Aksenof, penyampai pesan Tolstoy dalam cerpen, yang telah meninggalkan kebiasaannya mabuk-mabukan yang ketika ia mabuk dan seringkali berbuat onar di lingkungannya. Prilaku-prilaku buruknya tersebut mulai berubah setelah ia menikah. Secara tidak langsung terlihat bahwa pernikahan, sebagai sebuah lembaga yang dilandasi nilai-nilai religiusitas memang dapat dijadikan solusi untuk mengubah prilaku seseorang. Namun, secara umum, Tolstoy ingin menyampaikan pesannya kepada kita agar kembali ke dalam tradisi yang dibangun dari nilai-nilai religiusitas.

Melalui Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu, Leo Tolstoy berusaha mengingatkan kita kembali kepada hal-hal yang transeden bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari manusia, yaitu Tuhan. Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu adalah suatu realitas kehidupan masyarakat modern, di mana beberapa pesannya, seperti sifat jujur dan pemaaf yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, laksana sebuah gelas kristal mewah yang hanya muncul pada saat-saat tertentu. Hal ini terjadi karena salah satu efek dari modernitas, yaitu ketika tradisi-tradisi yang dibangun dari nilai-nilai religiusitas, telah jauh terpisah dari kehidupan sehari-hari. Melalui cerpen ini, Tolstoy berusaha menyampaikan pesan bahwa sifat jujur dan pemaaf yang mahal serta hanya muncul pada saat-saat tertentu itu, seharusnya dapat dijadikan solusi dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi manusia modern, agar permasalahan-permasalahan tersebut tidak berlarut-larut dan menimbulkan efek-efek buruk yang berkelanjutan. Sifat jujur dan pemaaf harus tetap dimiliki oleh kita, manusia yang hidup di zaman modern, meskipun jika dengan menjunjung tinggi dan melaksanakannya dapat menimbulkan kerugian terhadap orang lain maunpun diri kita sendiri. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa manusia memang sudah seharusnya kembali kepada nilai-nilai religiusitasnya.

Sedikit menceritakan kembali cerpen ini, sekali waktu setelah menikah, Aksenof memutuskan untuk pergi ke kota lain untuk mengunjungi pasar malam, istrinya menyarankan agar ia membatalkan rencana untuk pergi karena merasakan firasat buruk mengenai suaminya. Hingga akhirnya, setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dengan istrinya, Aksenof tetap memutuskan untuk berangkat. Di tengah perjalanan, Aksenof bertemu dengan temannya. Hingga terjadilah peristiwa pembunuhan terhadap temannya di mana hampir seluruh bukti yang tersaji mengarah kepadanya, sehingga membuat ia tidak bisa berkelit lagi dari tuduhan pembunuhan yang disangkakan padanya. Aksenof pun harus mendekam dalam hotel prodeo dengan jangka waktu yang sangat lama. Hingga suatu ketika, masuklah ke penjara tersebut seseorang yang ternyata merupakan pelaku sebenarnya dari kasus pembunuhan yang disangkakan kepada Aksenof. Suatu ketika, Makar, lelaki tersebut, berusaha lari dari penjara dengan menggali tanah-tanah yang ada di bawah bangku kamarnya. Aksenof melihat kejadian tersebut, namun berusaha untuk mengacuhkannya. Tiba-tiba Makar menghampirinya dan mengancam akan membunuhnya apabila Aksenof melaporkan perbuatan yang dilakukannya kepada kepala penjara. Aksenof tidak takut akan ancaman tersebut. Dia merasa bahwa sudah tidak ada gunanya untuk takut terhadap kematian, karena menurutnya kehidupan yang ia miliki sudah habis sejak ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara serta permohonannya kepada Tsar tidak dikabulkan. Akhirnya, kepala penjara pun tahu dengan sendirinya, mengenai galian tersebut dan berusaha untuk mencari tahu pelaku sebenarnya yang melakukannya. Ketika tidak seorang pun yang mengaku dan bertanggung jawab atas perbuatannya tersebut, kepala penjara memutuskan untuk menanyai Aksenof karena hanya Aksenoflah orang yang paling dipercaya di penjara tersebut. Sayangnya, Aksenof bersikeras untuk tidak memberitahu pelaku sebenarnya yang melakukan penggalian tersebut. Hal tersebut menjadikan kepala penjara tidak berhasil menemukan pelaku sebenarnya. Makar pun merasa bersalah ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ia ditolong oleh orang yang telah dicelakakannya. Situasi tersebut yang membuat Makar meminta maaf kepada Aksenof atas kesalahannya terhadap Aksenof dan juga Makar mengakui segala kejahatannya dan menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib.

Tolstoy, melalui Aksenof, berusaha mengembalikan kesadaran kita untuk kembali lagi pada sifat-sifat mulia manusia yang dibangun dari tradisi-tradisi dari nilai-nilai religiusitas. Aksenof, tokoh utama dalam novel tersebut mengajarkan kepada kita tentang keteguhan dalam menjalani cobaan. Keteguhan tersebut tentu saja telah dibalut dengan keyakinan akan kuasa Tuhan, sehingga Aksenof tak sedikit pun menjadi ragu-ragu akan keputusan yang diambilnya karena merasa segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan ini akan kembali kepada-Nya. Sifat-sifat inilah yang jarang kita lihat dalam kehidupan manusia saat ini. Aksenof adalah gambaran laki-laki yang memiliki salah satu sifat mulia manusia, yaitu pemaaf. Aksenof juga merupakan seorang yang jujur, sehingga membuatnya dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya serta memiliki kepasrahan dan kepercayaan kepada Tuhan ketika segala upaya yang sudah dilakukannya, tidak mencapai hasil yang diharapkan.

Hal itu merupakan usaha sungguh-sungguh yang memang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia atas apa yang diyakini. Ketidakberhasilannya tersebut tak lantas membuatnya menyalahkan Tuhan bahwa kehidupan di dunia ini seperti tidak adil, justru itulah jalan utama yang mengantarkannya kepada pintu kesadaran, bahwa manusia itu lemah dan sering melakukan kekeliruan serta Tuhanlah tempat kembalinya. Aksenof, karena orang-orang mengetahui bahwa ia dapat dipercaya, seringkali diminta untuk melakukan hal-hal penting oleh para penjaga dan tahanan, seperti menjadi juru damai atas setiap perselisihan yang terjadi dan meminta ia berkata siapa yang menggali tanah dan berusaha untuk melarikan diri dari penjara ketika terbongkarnya usaha Makar untuk melarikan diri. Dirinya juga yakin bahwa Tuhan adalah muara segalanya sekaligus Maha Pemaaf dan baginya memaafkan merupakan solusi terbaik yang harus ditempuh untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, karena tidak ada manusia yang hidup tanpa pernah berbuat kesalahan. Bahkan, dalam beberapa kisah dalam Al-Qur’an dan mungkin juga kitab suci lainnya, seorang nabi pun pada dasarnya memiliki kecendurungan serta pernah berbuat salah, karena kembali lagi bahwa kesempurnaan itu hanya milik Tuhan sekalian alam. Hal-hal tersebutlah yang sudah sangat jarang dimiliki oleh setiap manusia yang hidup pada zaman modern.

“Tuhan akan memaafkanmu, mungkin aku seratus kali lebih celaka daripada kamu!”
(Leo Tolstoy)

Istilah modern yang saya gunakan dalam tulisan ini adalah suatu masa di mana ilmu pengetahuan dan teknologi menggantikan tradisi-tradisi yang dibangun dari nilai-nilai religiusitas yang melekat pada masa sebelumnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut menggantikan peran religiusitas dalam menyelesaikan berbagai permasalahan manusia. Manusia yang hidup pada zaman modern ini, lebih mengutamakan tentang pemahaman dan kesadaran manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tampil sebagai kekuatan tersendiri yang terpisah dari tradisi maupun nilai-nilai religiusitas atau dengan kata lain, telah terjadi sekularisasi kehidupan, pemisahan religi beserta nilai-nilai di dalamnya dengan kehidupan sehari-hari, yang merupakan salah satu efek dari modernitas. Pada masa inilah manusia terlihat seperti makhluk yang kehilangan arah dan berjalan tanpa tuntunan untuk mencapai tujuannya. Masa ini merupakan masa ketika moral manusia mengalami degradasi yang sangat dalam, sehingga menjadikan segala bentuk kejahatan atau perbuatan tercela sebagai sebuah hal yang biasa terjadi Hal ini seperti yang dituliskan oleh sastrawan besar Rusia lainnya yang hidup pada masa yang sama dengan Tolstoy, yaitu Fyodor Mikhailovich Dostoevsky, dalam novelnya The Brothers Karamazov bahwa “jika Tuhan tidak ada maka segala sesuatu diperbolehkan”. Pada masa ini banyak pula terdapat orang-orang yang tidak jujur dan kata-katanya tidak dapat dipercaya serta tidak memiliki keikhlasan untuk saling memaafkan yang merupakan salah satu nilai utama dalam tradisi-tradisi yang dibangun dari nilai-nilai religiusitas. Hal ini disebabkan oleh hilangnya kesadaran manusia terhadap nilai religiusitasnya, dengan kata lain “manusia-manusia pada zaman modern ini telah melupakan dan kehilangan Tuhannya, sehingga menjadikan mereka lebih mudah untuk melakukan suatu perbuatan tercela dan segala hal yang tidak disukai Tuhan”.

Melalui cerpen ini, Tolstoy juga mengingatkan kita kembali bahwa mudah saja sebenarnya bagi Tuhan untuk mengetahui segala niat dan prilaku baik serta niat dan prilaku buruk yang dilakukan oleh hambanya. Kemudian, Dia mengganjarnya dengan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Namun, Dia hanya menunggu usaha sekeras mungkin yang bisa dilakukan dalam segala hal yang kita ikhtiarkan. Dia juga menunggu pengakuan kita terhadap setiap kekeliruan kita dalam menjalani kehidupan ini. Tolstoy menekankan bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti bermuara kepada Tuhan. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya memasrahkan dan mempercayakan setiap permasalahan yang sudah diusahakan untuk diselesaikan kepada Sang Pencipta. Hal itu berarti setiap orang tidak boleh putus asa dan menyalahkan Tuhan atas segala yang diterima dari segala sesuatu yang diusahakan, karena mungkin saja usaha yang sudah dilakukan belum maksimal dan tentu saja Tuhan lebih tahu apa yang dibutuhkan manusia atau mungkin saja kita pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat Tuhan murka, sehingga mengakibatkan terhalangnya kasih sayang Tuhan kepada kita.

Sementara itu, jika kita belajar dari tokoh Makar, maka kita akan menemukan sebuah kenyataan bahwa seringkali kita melakukan perbuatan yang serupa dengannya yang banyak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Pesan tersebut tergambar melalui pengakuan Makar yang terdapat dalam penggalan percakapan di bawah ini :

Makar masih berlutut, dipukulkannya kepalanya ke tanah sambil berkata, “Ivan Dimitrivich, maafkan aku! Aku lebih suka dicambuk daripada melihat keadaanmu sekarang ini…kau telah melindungiku, sungguh pun kau telah kujerumuskan…kau tak mengatakan bahwa akulah yang menggali lubang itu…demi Tuhan, maafkanlah aku! Maafkanlah aku, biarpun aku ini orang celaka!”

Oleh Makar, kita seperti diajarkan bahwa segala keburukan yang dilakukan, hanya akan menimbulkan keburukan yang lain. Kita bisa mengambil contoh dari penggalan percakapan di atas ketika Makar yang melakukan pembunuhan, mengakibatkan Aksenof menjadi tersangka hingga Aksenof pun dipenjara, karena memang naluri kejahatan Makar yang ingin menjadikan Aksenof sebagai tersangka. Hal tersebut seperti menjadi cambuk bagi kita untuk tidak berusaha mencelakakan orang lain dengan menjadikannya ‘kambing hitam’ atas segala kejahatan yang kita lakukan. Makar juga mengajarkan kepada kita mengenai keharusan meminta maaf kepada orang lain serta mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan, walaupun hal itu datangnya terlambat.

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu merupakan salah satu karya sastrawan besar Rusia, Lev Nikolayevich Tolstoy, atau lebih dikenal dengan nama Leo Tolstoy yang termuat dalam kumpulan cerita “Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu”, terjemahan Anton Kurnia yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh penerbit Jalasutra. Seperti cerita-cerita lainnya yang terdapat dalam kumpulan cerita “Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu”, yaitu Sebutir Gandum dari Tanah Tuhan, Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang?, Ziarah, serta Tuhan dan Manusia, cerpen ini juga sarat dengan nuansa-nuansa religius. Melalui nuansa-nuansa tersebut, Tolstoy berusaha menyampaikan pesan-pesannya kepada manusia modern mengenai tuntunan bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupan di zaman modern, di mana modernitas yang terjadi, seperti memisahkan kita dari tradisi-tradisi yang dibangun dari nilai-nilai religiusitas. Saya berusaha menghadirkan kembali pesan-pesan pengarang kepada manusia modern dalam Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu, agar pesan-pesan tersebut tersampaikan dan nilainya dapat diaktualisasikan saat ini.

Secara keseluruhan, dalam cerpen ini Tolstoy menyampaikan pesannya dengan tegas kepada kita bahwa modernitas tidaklah berarti harus meninggalkan dan menghilangkan tradisi-tradisi lama yang berpegang kepada nilai-nilai religiusitas. Pengagung-agungan yang berlebih-lebihan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dengan merasionalisasikan segala hal, hanya menimbulkan ‘kekeringan hati’ manusia, karena tidak diisi dengan pemahamannya akan Tuhan. Padahal, secara alamiah, manusia mengakui bahwa ada hal-hal yang transeden, atau kekuatan lain yang lebih besar dari manusia beserta aturan-aturan yang ada di dalamnya. Hal ini seperti yang pernah diucapkan oleh Emerson bahwa “segala yang kulihat mengajarkan kepadaku untuk percaya kepada Pencipta yang tak pernah kulihat”. Hal ini berarti bahwa kemajuan yang terjadi seharusnya menambah keyakinan kita tentang nilai-nilai religi yang berujung pada kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu, tidak harusnya kita berpikir untuk memisahkan antara ilmu pengetahuan dan religi, karena keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Memahami ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa diimbangi dengan pemahaman akan nilai religiusitas hanya akan melahirkan generasi-generasi ataupun penemuan-penemuan ilmiah baru yang sifatnya merusak. Sedangkan hanya memiliki dan memahami nilai-nilai religiusitas tanpa dibarengi dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadikan manusia tidak berkembang dalam menghadapi kehidupan di dunia ini serta dapat menimbulkan gerakan-gerakan fanatik yang berpikiran sempit dan dapat mengganggu stabilitas kehidupan manusia.

Cerpen Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu masih sangat relevan untuk dibaca saat ini oleh siapa pun, karena melalui cerpen ini, kita dapat melihat bagaimana seorang manusia itu seharusnya memahami kehidupan dunia, ketika harus terjadi keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tradisi-tradisi yang dibangun dari nilai-nilai religiusitas. Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu juga wajib dibaca, terutama oleh para pemimpin bangsa ini serta orang-orang yang berkecimpung di bidang pemerintahan dan masih belajar untuk menemukan sosok ideal seorang manusia, karena sarat dengan pesan-pesan yang dapat dijadikan tuntunan dalam mengarungi kehidupan, seperti perlunya sifat-sifat jujur, bertanggung jawab, pemaaf dan tentu saja kebesaran hati untuk meminta maaf. Hal ini diperlukan mengingat banyaknya pemimpin bangsa ini yang telah jauh sekali dari sifat-sifat pemaaf, jujur dan dapat dipercaya sekaligus menegaskan mengenai pentingnya tanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan, dengan tidak berusaha menyalahkan bahkan mencelakakan orang lain. Sementara untuk para pemerhati serta penikmat sastra, cerpen ini sangat menarik untuk ditelaah lebih jauh mengenai kemungkinan adanya pesan lain yang masih tersembunyi hingga akhirnya dapat ditemukan dan diaktualisasikan dalam kehidupan umat manusia.

“Manakala kita menyadari bahwa kita menyeleweng, maka adalah kewajiban kita untuk berbalik dan kembali meneruskan perjalanan yang benar.” (Mahatma Gandhi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s