Setiap saat adalah lebih baik

Walaupun lelah, mari terus berusaha untuk melangkah lebih jauh, agar hidup lebih baik lagi, dengan mendayagunakan waktu sebaik-baiknya. Walaupun waktu terus berjalan dengan kejam. Tanpa berhenti. Namun, apa guna mengeluh. Tak guna, bukan?. Lebih baik mematri dan menguatkan lembaran hati lagi bahwa setiap saat adalah lebih baik. Itu harus. Waktu saja tak mau berhenti walaupun sejenak. Jadi, untuk apa berhenti bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kalau berhenti, pastilah saya tertinggal jauh.

Ada sebaris perkataan seorang bijak perihal waktu, yaitu bahwa, “waktu itu kejam, tapi manusia lebih kejam”. Dan hal tersebut benarlah adanya. Tak ada lagi sepertinya makhluk yang lebih kejam mendayagunakan waktu, selain saya sebagai manusia. Iblis dan kerabatnya saja memanfaatkan waktunya yang sampai hari kiamat, dengan sebaik-baiknya, untuk menggoda manusia. Setiap saat. Oleh karena itu, sudah seharusnya saya mendayagunakan sebaik-baiknya untuk melawan dominasi Iblis dan setan di dunia kejahatan yang akan mendekatkan diri pada aroma api neraka yang panas.

Kalimat-kalimat penuh perenungan luhur para pemikir hebat di bumi ini perihal waktu, sudah terlalu banyak berserakan. Bahkan, pada juz ketiga puluh dari kitab terbaik yang pernah ada sampai nanti dunia usai, waktu menjadi bahasan tersendiri yang berisikan makna teramat dalam. Dan masihkah saya mengingkari waktu. Tentu sudah tak pada tempatnya saya melakukan itu. Menggembosi sedikit demi sedikit, bermanfaatnya diri saya secara konsisten, hanya dengan tidak setia kepada waktu. Sama saja menggali jurang yang sangat dalam di depan pintu kamar saya, sehingga ketika saya membuka pintu, langsung terlihat pemandangan mengerikan tentang cadasnya bebatuan di sekitar jurang tersebut, dan sesekali berseteru dengan kengerian apabila saya jatuh ke dalamnya. Andai saya tidak berhemat dengan waktu.

Tak ada pujian lain, selain ungkapan penuh rasa syukur kepada sang Khalik, yang selalu bertanya, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang Kamu dustakan?”, yang selalu memberikan kasihnya kepada setiap makhluk tanpa membedakan antara pengingkar dan yang taat, dan yang selalu memberikan waktu kepada saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Hanya sebuah kalimat yang tersusun indah, “Alhamdulillah”, “Segala puji bagi Allah. Hanya itu yang semoga bisa mewakili rasa syukurku.

Untuk yang terakhir kali tentang waktu. Aku hanya tak bisa menggenggammu walaupun kau berkeliaran di sekitar. Hanya sedikit menyadari, bahwa engkau telah pergi ketika aku dalam buaian kenikmatan. Pergi yang tak akan pernah berjumpa lagi. Seandaianya dirimu diberikan mulut untuk berbicara, kau pasti menghardikku dengan sumpah serapahmu karena aku telah menyia-nyiakan dirimu. Namun, dengan wujud yang diberikan kepadamu, kau hanya membalasku dengan pergi jauh meninggalkanku. Ingin sekali menghentikanmu dan memutar balik lagi atas apa yang pernah terjadi. Hingga ketika akhirnya kusadari hadirmu, aku bisa memastikan bahwa setiap saat adalah lebih baik. Yah, setiap saat adalah lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s