Siap-siap Kehilangan?

Betapa indahnya, jika kita siap mendapatkan dan juga siap menghadapi kehilangan?. Kehilangan apa pun itu. Jika kita mendapatkan, apa reaksi kita?. Tentu saja senang, bukan?. Namun, jika kita kehilangan, apakah yang akan kita lakukan?. Marah. Merasa terpuruk bahkan mungkin saja bisa bunuh diri. Padahal sudah ada jalan lain yang lebih baik dan sederhana, yakni merelakan semuanya dengan ikhlas dan yakin bahwa semua itu akan tergantikan. Ada sebuah pepatah tentang kehilangan ini, “Manusia tak memiliki apa-apa, kecuali pengalaman hidup”. Jadi, jika sadar bahwa kita tidak pernah memiliki apa pun, kenapa harus tenggelam dalam kesedihan yang berlebihan dan berlarut-larut?. Bila saat ini kita sedang merasa jatuh dan kehilangan, yakinlah bahwa masih ada media kebaikan lain yang masih menanti di depan, yang akan membelah hari-hari berikut dengan keindahan. Bergeraklah menjemputnya!.

Alangkah baiknya ketika kita kehilangan, kita menyadari bahwa inilah saatnya untuk melihat dunia sekitar dan berbagi dengan yang lain. Beban kita tentunya akan banyak berkurang manakala kita sudah membagi kesedihan. Kita juga dapat melihat kenyataan bahwa orang lain pun pernah merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih buruk lebih lagi. Jadi, apakah harus terus menerus menekuri langit-langit dan dinding kamar hanya karena kehilangan sesuatu yang bukan sepenuhnya milik kita. Lebih baik membatasi pergerakan kesedihan yang setiap waktu menggugah tangisan. Biarkanlah aroma KEBANGKITAN yang mendominasi, sehingga kita menjadi kuat dan siap menghadapi kehilangan-kehilangan berikutnya, karena kita memang tidak punya apa-apa.

Nukilan kata-kata mutiara yang terlantun indah dari para pujangga seringkali menjadi penawar ketika seseorang tidak siap menerima kehilangan. Membonsai pohon kesedihan yang sudah membesar dan mengebiri kesuburannya. Andaikan saja kita mulai dari titik nol, dan mengumpulkan tenaga lagi untuk segera bangkit, mungkin kita sudah siap untuk berlari lagi. Mengutuki kenyataan bahwa kita kehilangan hanya akan memberikan jalan buntu atas segala pemikiran positif yang keluar. Jangan pernah menyerah terhadap keadaan. Kebahagiaan tidak hanya berbentuk kesenangan, tapi terkadang ia muncul dalam bentuk lainnya, yaitu kemenangan, dengan arti memenangkan keadaan serta merubah situasi buruk menjadi lebih baik. Bukankah ketika nasi sudah menjadi bubur, kita tinggal memikirkan bagaimana bubur tersebut tetap dapat dimakan dengan enak, yakni dengan menambahkan bumbu-bumbu atau segala bahan pelengkap makanan yang kita sukai. Sederhana, kan?

Garis besar kehidupan ini sudah terpampang jelas. Jalani dan nikmatilah. Seperti yang dijcontohkan oleh sang Kekasih yang selalu kita rindukan, Rasulullah Saw., manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara itu berganti. Muda sebelum tua. Kaya sebelum miskin. Senang sebelum susah. Sehat sebelum sakit. Serta hidup sebelum mati. Apa yang kita miliki belum tentu kita punyai esok hari. Maka nikmati dan aktualisasikan apa yang kita miliki hari ini untuk berbuat kebaikan, karena belum tentu kita masih punya kesempatan itu di esok hari. Bentuklah pemahaman diri bahwa yang sedang kita miliki hari ini adalah media pembelajaran untuk terus bersemangat, ceria, dan tersenyum. Ada sebuah pepatah lain mengenai kehilangan ini: “Kehilangan uang adalah kehilangan banyak, kehilangan sahabat adalah kehilangan lebih banyak, dan kehilangan semangat adalah kehilangan segalanya. Oleh karena itu, kita tinggal mempertahankan semangat kita untuk menghadapi hari depan yang gemilang dan hidup dengan bahagia.

Upaya terakhir kita hanyalah tinggal menghitung hari. Minggu demi minggu telah kita lalui dengan indahnya. Tinggal kita optimalkan apa yang kita punya saat ini. Tidak akan ada lagi perdebatan-perdebatan penuh perseteruan yang akan menggoyahkan tegaknya kaki kita ketika berdiri. Membatukan hati kita hingga tidak dapat menerima hak orang lain yang berpendapat beda. Lalu, tak akan ada lagi yang mempertanyakan kedewasaan. Hilang pula sikap saling menyalahkan. Namun, sebelum semua itu terjadi, kenapa tidak kita menuju ke sana dengan indah. Kenapa kita masih menghabiskan hari-hari kita dengan tak saling menyapa. Kecuali memang sudah tak ada keinginan untuk mengakhiri semua ini dengan indah. Biarkanlah dirimu sendiri saja yang tahu dan mengubahnya.

Nikmatilah sisa perjalanan hidup yang hanya sekali ini kita jalani karena itulah salah satu tujuan hidup yang sebenarnya. Sadari bahwa masih ada pintu lain yang masih terbuka. Kemudian hadapi dengan berani dan setelah energi kita sudah terisi penuh, BANGKITLAH UNTUK BERBUAT SESUATU!

Inspired by E.M
Jatinangor, 13 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s