Universitas Kehidupan

Seringkali teringat kehidupan di masa itu. Sekolah Menengah Atas. Mulai dari awal. Masuk SMA dengan nilai yang sangat biasa saja, sampai kena omel sekeluarga karena nilai itu. Delapan belas. Nilai yang sangat mengenaskan untuk ukuran seorang lulusan SD terbaik beberapa tahun sebelumnya. Dan akhirnya masuk juga SMA. Ya, saya lanjut sekolah. Ke SMA itu. Sebelumnya sudah berjanji dengan teman-teman di SMP agar masuk SMA yang sama. Ternyata, hanya saya dan beberapa teman yang berhasil masuk. Sementara yang lain, tersisih karena nilainya tidak lebih besar dari saya. Dari sekian banyaknya teman-teman yang mengikrarkan diri untuk melanjutkan SMA yang sama, tak lebih dari sepuluh yang diterima.

Tibalah hari pertama masuk sekolah. Di sinilah hidup saya dimulai. Masa Orientasi Siswa di sekolah, yang sangat biasa saja. Bagian meyenangkannya ternyata saya temukan di luar sekolah. Digamparin senior kelas 3 yang memang selalu menjadi raja dari masa ke masa. Makan permen dari mulut ke mulut (padahal antar sesama pria). Dan yang paling menyenangkan tentu saja, berantem paling depan dengan anak STM lain, dengan ancaman dari senior kelas 3, “awas ya kalo pada mundur!, haha. Bagi saya dan teman-teman seperjuangan waktu itu, jadi kelas satu tuh gak ada enaknya, dikolekin (red.palak), gak boleh makan di kantin kalo anak kelas tiga belum selesai, harus beli stiker (ilegal), harus ngikut bikin baju (ilegal juga). Dan keilegalan lain yang sebenarnya diketahui oleh para guru, tapi mereka diam saja, karena begitu perkasanya anak kelas tiga waktu itu. Enaknya hidup pada fase ini adalah kalo tawuran jarang kalah. Musuhnya gak ada yang berani. Biarpun dicegat setiap hari, tetap saja kita semua bisa pulang dengan selamat sampai di rumah. Jarang kekurangan satu apapun.

Tunggu sebentar. Rumah saya kan gak jauh dari sekolah. Hanya lima belas menit. Dan biasa kalo pergi juga jalan kaki saja. Aman. Tanpa gangguan. Kenapa harus pulang naik bus dengan arah memutar dan harus tawuran? Mending kalo bayar. Ini kan engga. Mending kalo selamat. Gak ada jaminan. Kadang-kadang naik ke atap kereta. Tanpa takut dengan tulisan “Awas High Voltage”. Pulang pun larut malam. Dasar anak nakal. Ke mana saja kamu sepulang sekolah. Haha, masa yang tak berulang.

Lanjut ke fase kedua. Naik kelas dan masuk kelas bahasa berdasarkan rekomendasi dari tim IQ yang mengetes saya waktu itu, hanya dengan pertanyaan, “Bagaimana pendapat Anda jika diadakan kelas bahasa? Perlukah? Bahasa Apa yang perlu ditambah?. Saya jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Akhirnya keluar nilai IQ saya, seratus lima belas. Dan saya harus masuk kelas bahasa. Jadilah, XI Ilmu Pengetahuan Bahasa. Tahun pertama. Jumlah murid dua puluh satu. Sembilan laki-laki. Sisanya wanita. Satu kelas. Katanya anak buangan semua. Enak aja. IQ saya 115. Sebelumnya sempat bersikeras juga untuk pendah ke Ilmu Alam. Tapi, setelah dipikir-pikir, kayanya seru juga jadi anak “bahasa”. Toh, sejak SMA, saya jadi gak suka Fisika. Biologi sama Kimia masih suka. Cuma, gak apalah masuk bahasa. Bagus tidaknya saya di sini, toh tergantung diri saya sendiri.

Sejak SMA saya jadi gak suka fisika. Emang pernah saya suka fisika?. Jawabnya, SANGAT PERNAH. Di SMP. Bahkan, itu pelajaran favorit saya, sebelum ketemu bab tentang vektor. Berangsur-angsur hilanglah kecintaan saya sama fisika. Gara-gara si vektor itu. Mulailah saya mencari kecintaan yang lain. Seni. Bukan seni lukis. Saya gak bisa bikin garis lurus. Saya tertarik dalam kehidupan para seniman dan seniwati di dunia musik. Berbekal suara yang sangat tidak enak untuk didengar, saya memberanikan diri jadi vokalis. Kenapa jadi vokalis, padahal suara sama sekali tak merdu?. Karena waktu itu saya gak bisa main alat musik apapun. Bahkan, ketika itu saya baru bisa gitar dengan kunci C, F dan G saja. Jadilah saya vokalis, yang konsekuensi terbaik buat saya adalah saya tidak memegang alat musik apa-apa.

Di kelas dua inilah saya mulai belajar tiga bahasa asing, Mandarin (dari kelas dua), Jepang, dan tentunya Inggris (dengan jam pelajaran yang lebih banyak dari kelas lain). Yang paling membanggakan buat saya pada masa ini adalah selalu juaranya kelas saya di turnamen antar kelas yang ada di sekolah. Dengan bermaterikan delapan pria tulen, saya dan teman-teman mampu membuat ibu wali kelas mencucurkan air mata ketika mengangkat piala. Bandingkan dengan kelas lain yang sebagian besar memang dihuni para pria. Bahkan kalau ada kejuaraan yang baru, di awal sudah santer terdengar, “pasti IPB lagi”. Inilah bagian menyenangkan waktu kelas dua. Tawuran tetap seperti sedia kala. Malahan, pada masa ini, saya mengalami masa ketika ternyata berada di ujung kematian itu tidak enak. Saya harus lari dari kejaran musuh yang mengacungkan senjata tajam, tepat di belakang saya. Untungnya saya selamat. Selebihnya saya malas mengingatnya.

Kemudian, naiklah saya ke kelas tiga. Inilah fase penentuan. Ujian Akhir Sekolah dan Nasional di penghujung mata. Pada masa ini, kegiatan sekolah lebih sering diisi dengan pelatihan-pelatihan ESQ sebagai pendongkrak semangat dalam menemani perjalanan menghadapi dua ujian. Sekolah dan Nasional. ESQ yang diadakan lebih banyak tentang saat-saat menjelang kematian. Aneh memang. Buat saya, gak ada hubungannya sama sekali. Tapi, begitulah sekolah saya. Kemudian mengisi hari-hari dengan mengikuti bimbingan-bimbingan belajar. Tawuran sudah jarang. Saatnya belajar. Fokus

Mata pelajaran yang diujikan dalam UAN sudah ditentukan. Bahasa Jepang, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Dengan materi soal untuk Bahasa Indonesia dan Inggris yang memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi, katanya. Anehnya, upacara kelulusan dilakukan sebelum ujian dilaksanakan. Sekitar dua minggu sebelum ujian. Memang sekolah yang aneh. Walaupun saya hidup dengan semua keanehan itu, saya berhasil melewatinya dengan gemilang. Nilai tertinggi di kelas. Rata-rata sembilan. Setidaknya sudah membuat Mama bangga. Karena beliaulah yang membiayai sekolah saya.

Paling tidak, inilah universitas kehidupan saya, jauh sebelum masuk ke universitas yang sebenarnya di luar kota sana. Di fase-fase iniliah kehidupan saya, benar-benar berawal. Mengenal kehidupan yang mungkin sangat berbeda dengan kehidupan orang lain. Ini juga merupakan cermin yang dapat saya pakai di masa depan. Untuk menemani. Untuk memotivasi diri agar dapat berkata “SAYA TIDAK TAKUT, kecuali pada ALLAH, yang ter-Maha”. Ini pula yang akan saya kenang dan akan saya ceritakan pada anak cucu saya nanti. Anak nakal ini sekarang sudah beranjak dewasa. Menyongsong hari depan dengan kepalan tangan untuk mendobrak segala yang menghadang. Dan bersiap dalam kondisi apapun untuk menghadapi semua. Membela Agama, Negara dan Keluarga.

“Semua ini hanya perjalanan yang tidak biasa. Dengan harapan, orang yang ada di dalamnya dan memaknai setiap prosesnya, suatu saat nanti menjadi luar biasa.”

9 thoughts on “Universitas Kehidupan

  1. wedeee…petarung jalanan rupanya ini anak..ckckckck

    IQ kamu gk jauh ternyata dari IQ saya…ahahhaha
    penjurusan disarankan ke Bahasa? Ok, sama….malah mirisnya kalau saya ada penjelasan tambahan kalau mau ke IPA mesti ditingkatkan semangat belajarnya…saran yang konyol ya? tahu darimana coba….padahal nilai eksak saya layak masuk IPA…
    tapi kelas bahasa itu sangat keren menurut saya, bisa sombong di banyak hal…
    35 siswa, 26 perempuan dan kok jumlah siswa laki-lakinya bisa sama juga? 9 laki-laki tapi tulen semua–ada si yang agak metroseksual gitu..wakakakka…
    saya menyebut kelas saya Major of minority

  2. haha…..Petarung jalanan?emangnya motor RX King….

    pasti IQ kamu dalam rentang 20-50 yah??itu mah bukan gak jauh, tapi jauh sekali….hehe

    Ohh, berarti kamu anak bahasa juga dari SMA?
    hmmm, kalo diliat dari tampang sih, jauh lha buat masuk IPA….:D

    Kelas bahasa emang keren, tapi saya gak mau sombong….:)
    ihh, nyama-nyamain aja nih…ckckckck

    kalo saya nyebut kelas saya, The King of The World…*sambil membentangkan tangan kaya di film Titanic….:)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s