Geng Motor : Sebuah Dekadensi Moral

“Ilmu termahal buat anak kita bukan matematika, bukan bahasa Inggris, bukan kmputer, itu mah hanya pelengkap saja. Ilmu termahal buat anak kita adalah bagaimana dia bisa ngomong gini, “Pa, udah adzan, hayo kita shalat.”
(Ust.Yusuf Mansyur)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata moral memiliki arti sebagai sebuah ajaran tentang baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap kewajiban, dsb. Sedangkan segala tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan dapat berimplikasi pada kehidupan masyarakat banyak disebut immoral. Hal ini sangat bertentangan dengan pemahaman yang ada bahwa “segala tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan dapat berimplikasi pada kehidupan masyarakat banyak disebut amoral. Padahal menurut perkuliahan pada mata kuliah Dasar-dasar Filsafat, yang lebih tepat untuk mendefinisikan hal itu adalah kata immoral. Lalu, kata amoral memiliki arti sebagai sebuah tindakan yang tidak memiliki implikasi apa-apa atau tidak ada hubungan sama sekali dengan moral.

Sedangkan menurut situs wikipedia.org, moral adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu. Tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang ini mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan disekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya.

Moral adalah nilai keabsolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah tingkah laku atau ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dll.

Namun, janganlah terlalu memperdebatkan perihal definisi dari kata-kata tadi. Karena memang banyak orang yang mengartikan kata-kata tersebut menurut versinya tersendiri. Lebih penting saat ini, sedikitnya sudah dapat ditarik satu kesimpulan bahwa kata moral adalah mengenai perilaku, serta baik dan buruknya perilaku tersebut berdasarkan nilai-nilai yang disepakati di dalam kehidupan bermasyarakat. Saat ini salah satu yang menarik untuk dibahas perihal moral tersebut adalah apa yang kita kenal dengan sebutan “geng motor”.

Fenomena “geng motor” yang terlihat akhir-akhir ini di Bandung dan beberapa daerah di sekitarnya, merupakan sebuah bukti bahwa telah terjadi sebuah krisis yang sangat berbahaya, yakni apa yang disebut sebagai krisis moral. “Geng motor” yang sebagian besar anggotanya masih belia ini seringkali melakukan kegiatan-kegiatan yang meresahkan masyarakat. Penjambretan, perusakan fasilitas-fasilitas umum, pelecehan seksual, bahkan sampai pembunuhan merupakan “kelakuan-kelakuan” dari anggota “geng-geng motor” yang menjadikan masyarakat sangat kesal dan membenci anggota-anggota “geng motor”.

Menurut Bapak Wawan Suryanto, Kepala Desa Salam Mulya, Kecamatan Pondok Salam, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, perilaku “geng motor” di wilayahnya sudah sangat meresahkan. Bahkan, belum lama ini telah terjadi pembunuhan terhadap dua remaja yang masih menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas, yang dilakukan oleh salah satu “geng motor” yang berkeliaran di daerahnya. Masih menurut pak Wawan, salah satu syarat untuk menjadi anggota salah satu “geng motor” yang ia ketahui adalah dengan meminum darah binatang (anjing) dan manusia. Tentu saja hal ini merupakan sebuah degradasi pemikiran yang sedang terjadi di kalangan anak muda yang mendominasi kehidupan dalam “geng motor”. Hal ini didasari karena agama yang seharusnya bisa dijadikan sebagai landasan utama dalam mengatur perilaku setiap manusia, sudah terlalu jauh ditinggalkan. Demikian halnya dengan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat sudah tidak mampu membatasi manusia untuk memperlakukan hak serta kewajibannya dengan baik.

Oleh karena itu, sebagai kaum terpelajar, saya merasa perlu untuk membuat tulisan ini, setidaknya untuk mengingatkan hal-hal yang seringkali dilupakan. Telah jelas bahwa saat ini sedang terjadi penurunan kualitas akhlak manusia, khusunya generasi muda yang tercermin dalam kejadian-kejadian yang terkait dengan “geng motor”. Hal ini disebabkan kurang ditanamkannya pendidikan agama secara benar sejak usia dini. Dewasa ini para orang tua lebih senang jika anaknya lebih menguasai matematika bahasa inggris, ataupun pelajaran-pelajaran sekolah umum lainnya, meskipun anaknya tidak pandai bahkan tidak bisa mengaji (bagi yang muslim). Ini juga merupakan tanggung jawab saya sebagai mahasiswa, terutama yang mempelajari bidang humaniora untuk membantu masyarakat yang telah lepas dari “rel” kehidupannya. Tulisan ini sekiranya dapat membantu kita untuk “membuka mata” kita terhadap hal-hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s