Orang Betawi di Era Postmodern (Sebuah Kajian Budaya)

“Tempus mutantur, et nos muta mur in illid.”
“Waktu berubah dan kita (ikut) berubah di dalamnya.”
(Pepatah latin)

Itulah sebuah pepatah latin kuno yang masih sangat relevan kenyataannya saat ini. Waktu terus berlalu dan seiring berlalunya waktu tersebut, manusia mengalami banyak perubahan menemani perjalanan waktu. Dalam perubahan yang terus menerus tersebut, pemikiran-pemikiran manusia tentang kehidupan sangat mendominasi dan mengambil peran yang sangat strategis dalam mempengaruhi perubahan lainnya. Begitu halnya dengan yang terjadi dalam ranah kebudayaan (culture), ketika manusia sebagai subjek dan objek dari perubahan tersebut terus bergerak untuk menjawab setiap pertanyaan tentang kehidupan yang melingkupi dirinya.

Menurut Rene Char, kebudayaan adalah “warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat” (notre heritage n’est precede d’aucuntestament). Pendapat tersebut dapat dibenarkan. Seringkali kita menerima begitu saja sebuah proses perubahan atau pembaruan tanpa kita tahu apa itu dan tanpa kita bisa menolaknya. Seperti halnya dalam fase-fase kebudayaan, yang saat ini sudah mencapai tahap yang disebut zaman Postmodern.

Postmodern merupakan wacana pemikiran yang muncul sebagai akibat dari modern. Modern sendiri digambarkan sebagai wacana pemikiran yang meyakini adanya kebenaran mutlak. Hal ini dibantah oleh postmodern. Dalam definisinya saat ini, postmodern sering diindetikkan dengan hal-hal yang negatif, karena tidak bisa menempatkan atau menentukan kebenaran kolektif yang disepakati secara luas. Postmodern tidak mengenal adanya kebenaran mutlak. Kebenaran hanya dimiliki oleh segala hal yang populer dan menjadi rujukan masyarakat umum atau mungkin lebih dikenal dengan budaya populer. Dengan kata lain, segala hal yang populer itu dapat dibenarkan. Hal ini pula yang terjadi pada masyarakat Betawi.

Suku Betawi berasal dari percampuran antar berbagai suku bangsa. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa. Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Kategori orang Betawi pertama kali muncul sebagai kategori baru dalam data sensus pada tahun 1930. Jumlah orang Betawi pada saat ini menjadi mayoritas dengan jumlah sebanyak 778.953 jiwa Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, sebenarnya sudah muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi, mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Pada saat itu pula seluruh orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Namun, selain banyaknya jumlah orang Betawi, ada sebuah masalah yang dinyatakan oleh antropolog Universitas Indonesia, Prof Dr Parsudi Suparlan, bahwa di awal keberadaannya. kesadaran sebagai orang Betawi belum mengakar, karena terpengaruh oleh ego tentang asal usul daerah asalnya. Dalam kehidupan sehari-hari, orang Betawi saat itu lebih senang menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Di era postmodern saat ini, masyarakat Betawi semakin kehilangan identitasnya. Sudah jarang kita temui orang yang dapat disebut sebagai “orang Betawi asli” di Jakarta. Hal ini disebabkan tercecernya masyarakat Betawi dari kehidupan aslinya di Jakarta. Mereka kini banyak tersebar di daerah yang dahulu menjadi “pinggiran” atau “penyangga” kota Jakarta. Ini juga mengakibatkan tercerabutnya akar agama sebagai landasan utama berperilaku masyarakat Betawi, terutama yang beragama Islam.

Jika dahulu, orang Betawi dikenal sebagai orang yang taat beragama dan menjadikan agama sebagai landasan utamanya dalam menentukan kebenaran mutlak. Maka hal ini sudah sangat jarang kita lihat dalam kehidupan sekarang. Derasnya perpindahan penduduk Betawi dari Jakarta ke kota-kota di sekitarnya, serta dikelilinginya orang-orang Betawi yang masih bertahan di Jakarta oleh berbagai macam pengaruh yang tidak dapat diserap dengan baik memungkinkan hal itu terjadi secara terus-menerus. Sudah akan sangat jarang kita lihat, anak muda betawi yang bersarung dan berkopiah berjalan-jalan dengan bebasnya. Bahkan terkadang mereka malu mengakui keBetawiannya.

Oleh karena itu, saya sebagai seorang yang lahir dan tumbuh besar dalam lingkungan keluarga Betawi, memiliki kepentingan untuk mengembalikan lagi nilai-nilai luhur yang dahulu dianut oleh sebagian besar masyarakat Betawi. Seiring dengan perubahan zaman, nilai-nilai tersebut telah hilang. Saya juga mengajak kepada seluruh orang-orang Betawi, khususnya pemuda Betawi, agar tidak melupakan budaya Betawi yang taat agama dan ramah kepada semua orang, yang dibuktikan dengan diterimanya berbagai suku bangsa yang berkunjung ke Jayakarta (pada saat itu) untuk hidup bersama-sama. Jangan sampai orang Betawi hanya diingat keburukannya saja, sebagai pemalas dan hanya berani di “kandang” sendiri.

4 thoughts on “Orang Betawi di Era Postmodern (Sebuah Kajian Budaya)

  1. Setuju dengan pendapat ente. Ane nyang tumbuh berkembang dilingkungan betawi juga merasakan ini. Udeh banyak orang betawi nyang intelek kok. Cuman ane rasa mereka ini rada nasionalis, jadi kagak mementingkan kedaerahan (ke-betawi-annya), namun lebih sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara Indonesia. Hidup Betawi! Hidup Indonesia!

  2. Sipp. Sebenarya kalo ane sih kaga masalah mau jadi nasionalis apa kaga, karena kalo mementingkan keBetawian di atas segalanya juga gak baik, bisa jadi kan ada kepentingan yang lebih besar lagi, bang. Yang bagi ane miris tuh, yang kita sebut “mereka” itu, seringkali malu untuk mengakui bahwa mereka orang Betawi. Seenggaknya, masih ada lah orang seperti abang ini yang peduli dengan Betawi.

    Makasii bang udah berkunjung. Mari kita saling menginspirasi..:)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s