Kumpulan Catatan Mata Kuliah Analisis Puisi

1. Sekilas Tentang Puisi

Puisi menggabungkan segala hal yang berkaitan dengan makna, emosi, bahasa, dan imaji. Puisi juga berbicara tentang pengamatan dan ide-ide. Belum ada definisi mengenai puisi yang disepakati. Karena, pada intinya puisi dan prosa adalah sama. Hanya tingkat kepadatan dan pemilihan kata yang dapat membedakan itu semua.

Makna dalam puisi berarti setiap pembuatan puisi selalu dilandasi dengan proses pencarian makna seseorang tentang kehidupan ini untuk kemudian dituliskan dalam bentuk bait-bait. Sedangkan, emosi adalah salah satu aspek dalam puisi yang berarti segala hal dalam diri manusia berkaitan dengan perasaan senang ataupun sedih yang dijadikan landasan untuk membuat sebuah puisi. Sementara bahasa dalam proses pembuatan puisi erat sekali kaitannya dengan hakikat manusia yang melakukan proses komunikasi melalui media bahasa. Hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Terakhir imaji, yang merupakan sebuah citraan atau bayangan tentang sesuatu, dapat disebut juga pengandaian terhadap sesuatu yang menjadi latar sebuah puisi dibuat. Imaji adalah “gambaran-gambaran kata” yang sangat konkret, berkaitan dengan panca indera seperti sentuhan, bau, rasa, suara, gerakan, dan terutama apa yang terlihat. Imaji membuat pembaca mendapat pengalaman akan sesuatu dengan jelas. Untuk mengetahui pencitraan dalam puisi, pembaca pertama sekali harus membuat daftar setiap gambaran mental, atau gambaran visual, yang masuk ke dalam pikiran saat ia membaca puisi. Dia kemudian bisa kembali dan menemukan ide-ide lain yang berhubungan dengan sensasi fisik seperti suara, rasa, bau dan sebagainya. Akhirnya, dia bisa kembali dan berpikir tentang semua ide yang mungkin diimplikasikan oleh citra-citra yang berbeda ini untuk mengetahui makna konotatif dalam puisi.

Keempat hal inilah yang kemudian digabung dengan memperhatikan suara dan irama sebuah puisi. Pada sebuah puisi, suara atau bunyi memainkan fungsi estetiknya. Sifat estetik ini berfungsi sebagai salah satu unsur puisi yang digunakan untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Suara, selain sebagai “hiasan” dalam puisi, juga mempunyai fungsi yang lebih penting lagi, yakni untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, atau menimbulkan suasana yang khusus.

Kemudian, irama. Pergantian berturut-turut secara teratur. Suara-suara yang berulang, pergantian yang teratur dan variasi suara yang menimbulkan suatu susunan yang hidup. Gerak tersebut mengalir tak putus-putus. Itulah yang disebut dengan irama. Oleh karena itu, dari unsur-unsur pembentuk puisi yang telah disebutkan di atas, dapat dibangkitkan sebuah sense/indera, yang berkaitan dengan perasaan dan pikiran. Komponen-komponen tersebut bekerja sama membentuk sebuah puisi.

Objek dalam penulisan puisi biasanya bahkan mungkin selalu membuat pernyataan yang sangat rumit dengan menggunakan kata-kata sedikit mungkin. Laurence Perrine mendefinisikan puisi sebagai sejenis bahasa yang mengatakan banyak dan “mengatakannya” lebih intens daripada bahasa biasa. Jadi, dapat dikatakan bahwa setiap kata dan bait dikemas dengan makna-makna. Bahasa puitis dalam puisi memiliki rasa yang sangat kuat.

Seorang penulis puisi berusaha berkomunikasi dengan pembaca dengan kuat. Dia menggunakan unsur-unsur puisi untuk mendapatkan penekanan, agar maksud yang ingin diampaikan dalam karyanya dapat tersampaikan kepada pembaca. Hingga muncul dua pertanyaan mengenai suatu analisis terhadap puisi. Pertanyaan tersebut harus ditanyakan pada pembaca sendiri, yakni, “Apa yang penyair ingin katakan?”, dan “Bagaimana penyair mencoba mengatakan itu?.”

2. Analisis

Analisis adalah sebuah proses decoding, atau sebuah proses penerjemahan dari kode-kode yang ada. Dalam analisis puisi, hal ini berarti proses penerjemahan kode-kode yang terdapat dalam puisi, agar puisi bersama makna-makna yang ada di dalamnya dapat terkomunikasikan dengan baik kepada pembaca. Hal ini karena, dalam sebuah puisi, seorang penyair tidak akan pernah menyampaikan maksudnya secara langsung kepada pembaca. Mereka menggunakan berbagai cara dan alat untuk menyampaikan maksudnya tersebut secara “tidak biasa”. Kombinasi-kombinasi antara hal-hal inilah yang akhirnya membentuk sebuah kode dalam suatu karya. Analisis yang dilakukan adalah dengan melihat unsur-unsur seperti citra, metafora, bahasa puitis, skema rima, dan seterusnya. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana unsur-unsur tersebut bekerja sama dalam menghasilkan pemaknaan dalam puisi.

Hal ini erat kaitannya dengan apa yang biasa dikenal dengan kritik. Kritik berarti menilai kelebihan dan kekurangan sebuah puisi. Pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan sebuah kritik terhadap karya sastra, khusunya puisi adalah dengan melihat, “Apakah penyair telah menggunakan elemen-elemen puisi dengan baik, dan apa yang kurang baik?”. “ Apakah penyair berhasil mengungkapkan tema yang ingin diangkatnya?”. Kemudian, “Apakah penyair menulis puisi ‘bagus” atau puisi “agung” menurut standar tertentu?.”

3. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam analisis puisi

Berikut adalah langkah-langkah untuk membaca puisi, hingga kemudian mengeksplorasinya secara lebih dalam :
• Baca puisi lebih dari sekali,
• Gunakan kamus ketika menemukan kata-kata yang kurang dimengerti artinya,
• Baca puisi secara perlahan,
• Perhatikan hal-hal yang ingin dikatakan puisi tersebut, namun jangan terganggu oleh rima dan ritme puisi,
• Terakhir, cobalah baca puisi dengan suara keras. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan rasa melalui suara puisi yang berefek pada maknanya.

4. Semiotika dalam Puisi (Makna Denotasi dan Konotasi)

Kata-kata dalam puisi memiliki makna denotatif, atau secara literal adalah arti kamus yang mudah dipahami, atau dapat juga didefinisikan dalam bahasa yang sederhana, jelas dan dapat dipahami langsung. Selain itu, kata-kata dalam puisi juga memiliki makna konotatif atau figuratif yang secara singkat dapat diartikan sebagai kata-kata yang memiliki makna tidak spesifik dan tidak langsung. Makna konotatif inilah yang lebih penting dalam sebuah puisi. Makna konotatif atau figuratif sebuah kata berarti apapun yang dimplikasikan oleh kata tersebut selain arti sebenarnya dalam kamus.

Sebagai contoh adalah kata apel. Dalam perspektif makna denotatif, kata apel adalah arti sebenarnya dari buah yang berasal dari pohon apel. Sedangkan hal ini berbeda dalam pemaknaan konotatif. Sebuah apel yang misalkan berwarna merah, bukan berarti apel merah belaka. Namun, itu bisa berarti sebuah symbol yang melambangkan semangat, kesuburan, kemarahan, atau apa pun selain hal-hal tadi yang dapat diasosiasikan dengan warna merah. Kemudian bisa digambarkan sebagai Pohon Kehidupan, bisa melambangkan pengetahuan, Adam dan Hawa (kejatuhan mereka dari surga), panen di musim gugur, tentang pelaranga, tentang Sir Isaac Newton atau Jhonny Appleseed, atau mungkin saja kombinasi dari hal-hal tersebut. Dengan cara inilah, penyair menggunakan kata atau ide dalam sebuah puisi untuk mengekspresikan berbagai ide-ide sekaligus.

Hal ini dilakukan untuk membangkitkan/memperdalam pengalaman pembaca. Jadi, dalam membaca sebuah puisi harus memperhatikan kata-kata yang memiliki dua jenis makna. Kata-kata yang memiliki makna langsung, tetapi juga berarti hal-hal lain. Setiap orang harus melihat kata-kata secara individual maupun frasa dalam puisi melalui proses brainstorming, yaitu, berpikir tentang makna literal, tetapi kemudian mencoba untuk memikirkan setiap ide yang mungkin dibuat tersirat oleh kata atau frasa. Terpenting, kata-kata tersebut tidak berarti sesuatu atau segala sesuatu di dalam puisi. Jadi pembaca harus melihat puisi sebagai sebuah keseluruhan dan mencoba untuk mencari tahu implikasi-implikasi apa yang paling terasa dalam puisi itu.

5. Majas-majas dalam puisi

• Simile adalah perbandingan antara dua hal secara eksplisit, atau jelas dan langsung. Pada dasarnya, terlihat dengan penggunaan kata-kata “seperti”, “seolah-olah”, “tampaknya”, “mirip dengan”, “daripada”, atau “sebagai”. Contoh, “Perempuan itu bergerak seperti ikan”, yang memiliki arti, dia bergerak seolah-olah tidak memiliki beban seperti ikan dalam air. Gerakan perempuan itu tentu anggun dan cair sebagaimana makhluk laut. Dia tampak siap untuk berenang setiap saat”. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa kata perempuan memliki makna sebenarnya, sedangkan ikan, makhluk laut dan gaya ikan adalah makna figuratif atau konotatif.

• Metafora adalah perbandingan yang tidak dibuat secara eksplisit. Artinya, tidak dibuat secara jelas dan langsung serta tidak dibuat dengan memakai kata petunjuk seperti, “seperti” atau “sebagai”. Sebaliknya, metafora adalah sebuah perbandingan tidak langsung antara dua hal yang pada dasarnya tidak mirip. Dalam metafora, kata-kata figuratif digantikan atau diidentifikasi dengan masalah literal, yaitu sesuatu yang dibandingkan. Hal ini dilakukan untuk membuat makna puisi yang lebih kuat. Misalnya, istilah “apel tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya” mengandung metafora di mana orang tua atau keluarga (istilah literal) dibandingkan dengan pohon (istilah figuratif), sementara anak-anak (istilah literal) dibandingkan dengan apel (istilah figuratif)

• Personifikasi adalah suatu bentuk metafora dan itu berarti berkaitan dengan hal-hal yang bukan manusia, seperti musim, unsur alam, benda, Negara, dll, dengan mengibaratkan mereka adalah seseorang. Dengan kata lain, personifikasi adalah menyamakan seseorang dengan benda atau sebaliknya.

• Sinekdot adalah cara penamaan sesuatu atau lebih tepatnya kata sebagai sebuah bagian dari sesuatu yang menggantikan keseluruhan. Hal ini dapat dilihat pada kata “seekor”.

• Metonimia adalah cara penyebutan/penamaan sesuatu yang mempunyai hubungan erat dengan penyebutan itu. Sebagai contoh, “Dia datang dari darah sangat baik” penggunaan istilah ” darah ” untuk menggantikan “keluarga”, dan mengungkapkan gagasan bahwa seseorang berasal dari keluarga “baik”, mungkin yang bangsawan. “Darah” dan “keluarga” berhubungan karena keluarga yang terdiri dari orang-orang yang memiliki karakteristik yang mirip; orang memiliki darah, dan orang-orang dalam keluarga yang terkait satu sama lain, seringkali dikatakan memiliki darah yang sama.

• Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun symbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya.

• Alegori adalah narasi atau deskripsi yang memiliki arti kedua di bawah permukaan. Ini juga berarti bahwa di samping permukaan makna puisi itu, ada juga arti yang lebih penting dan lebih dalam.

• Paradoks terjadi bila dua hal yang seharusnya tidak mungkin terjadi pada saat yang bersamaan. Sebagai contoh, adalah mustahil bahwa ada siang dan malam, musim semi dan gugur dulu dan sekarang pada saat yang bersamaan. Sebagai contoh, jika puisi adalah untuk mengatakan bahwa pembicara dari puisi mengalami masa lalu dan sekarang pada saat yang sama, ini mungkin berarti bahwa kenangan dari masa lalu yang begitu hidup bahwa masa lalu tampaknya ada pada saat ini.

• Ironi adalah sebuah situasi di mana suatu hal yang dikatakan, tapi yang dimaksud adalah lain, atau ketika hasil dari sebuah situasi adalah kebalikan dari apa yang diharapkan.

4 thoughts on “Kumpulan Catatan Mata Kuliah Analisis Puisi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s