Rindu {lagi}

Seringkali aku tak mampu menahan lelehan air mata ini
Yang turun bagai buliran salju di musim dingin yang melingkupi Leningrad
Menerjang bumi tanpa tahu kapan berhenti

Ketika rindu ini menyapa lagi
Aku terpaksa bertahan di tengah gusarnya perasaan ingin bertemu denganmu
Pelita yang membawaku ke jalan terang, hingga aku dewasa kini
Melewati batas-batas kesanggupan manusia lain

Hari yang berganti kini sudah berganti bulan
Entah sudah berapa lama kita tak lagi bertemu
Kurindukan Kau ada di sampingku
Membelai diriku dan menemani dalam lelapku, meski dirimu lelah dan kepayahan

Cerita masa kecilku dan hari-hariku bersamamu
Sudah kubingkai dan kupahat dalam dinding hatiku
Kutambahkan hiasan-hiasan yang membuat rasa sayangku tak kan pernah mati padamu
Pemuas dahagaku ketika diriku tengah haus akan kasih sayang
Yang tulus dan tak meminta balas

Mama, Apa kabarmu di sana?
Setiap selesai sujudku
Tak lupa aku merekam wajah lelahmu yang berkeringat untukku
Untuk kuhadirkan dalam do’aku
Tak berkurang rasa sayangku
Tak kan hilang
Jika kau ada di sampingku, akan kuseka peluhmu yang mengucur karenaku
Dengan kain hatiku, kain terbaikku

Selalu rindu dengan senyummu
Senyum yang mengobati luka ketika hati ini lelah tak bertenaga untuk bertahan dari setiap masalah
Mama, kuhadirkan kau selalu dalam do’aku
Seperti kau menghadirkanku dalam tiap pintamu padaNya.

Jatinangor, 4 Januari 2011

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s