Analisis Puisi ‘Я ВАС ЛЮБИЛ‘ Ya Vas Lyubil Karya Aleksandr Sergeyevich Pushkin ‘АЛЕКСАНДР СЕРГЕЕВИЧ ПУШКИН‘ Berdasarkan Lapis Norma Roman Ingarden dan Teori Semiotika Michael Riffaterre

Seperti yang dikatakan A. Teeuw (1980:12), puisi sebagai sebuah karya seni, dapat dikaji dari berbagai aspek yang terdapat di dalamnya. Puisi dapat dikaji melalui struktur dan unsur-unsur pembentuknya, mengingat puisi itu adalah struktur yang tersusun dari berbagai macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Sepanjang zaman, puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang di dalamnya selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaruan (inovasi). Michael Riffaterre (1978:1) juga mengatakan bahwa puisi selalu berubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Oleh karena itu, puisi perlu dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis.

Puisi menggabungkan segala hal yang berkaitan dengan makna, emosi, bahasa, dan imaji. Puisi juga berbicara tentang pengamatan dan ide-ide. Belum ada definisi mengenai puisi yang disepakati. Karena, pada intinya puisi dan prosa adalah sama. Hanya tingkat kepadatan dan pemilihan kata yang dapat membedakan itu semua. Berdasarkan kepadatannya tersebut, seringkali ada prosa yang dikatakan puitis, karena memiliki sifat puisi yaitu padat. Sebaliknya puisi yang tidak padat disebut prosais atau memiliki sifat prosa. Puisi berusaha mengatakan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin (Ralph Waldo Emerson dalam Situmorang, 1980:8).

Pemaknaan dalam puisi berarti setiap pembuatan puisi selalu dilandasi dengan proses pencarian makna sang penyair tentang kehidupan ini untuk kemudian dituliskan, hingga terbentuklah sebuah puisi. Sedangkan, emosi adalah salah satu aspek dalam puisi yang berarti segala hal dalam diri manusia berkaitan dengan perasaan senang ataupun sedih yang dijadikan landasan untuk membuat sebuah puisi. Bahasa dalam proses pembuatan puisi erat sekali kaitannya dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang melakukan satu-satunya proses komunikasi melalui media bahasa. Hal ini pula yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Lalu, ada imaji, yang merupakan “gambaran-gambaran kata” yang sangat konkret, berkaitan dengan panca indera seperti sentuhan, bau, rasa, suara, gerakan, dan terutama apa yang terlihat. Imaji membuat pembaca mendapat pengalaman akan sesuatu dengan jelas.

Puisi merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya diperlukan analisis agar dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Untuk menganalisis puisi dengan tepat, perlu diketahui wujud sebenarnya dari puisi tersebut. Menurut Rene Wellek (1968:150), puisi adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Oleh karena itu, puisi harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. Norma itu harus dipahamai secara implisit untuk menarik setiap pengalaman individu karya sastra dan bersama-sama merupakan karya sastra yang murni sebagai keseluruhan.

Karya sastra itu tidak hanya berupa satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa lapis norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya. Rene Wellek (1968:51) menganalisis norma-norma itu sebagai berikut :
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Jika orang membaca puisi, maka yang terdengar itulah yang merupakan rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Namun, suara itu bukan hanya suara yang tak memiliki arti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa yang disusun sedemikian rupas sehingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara tersebut, orang yang mendengarnya dapat memahami artinya. Lapis bunyi ini kemudian menimbulkan lapisan di bawahnya, yaitu lapis arti.

Lapis arti (units of meaning) merupakan rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab, dan keseluruhan cerita ataupun sajak. Rangkaian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, yaitu berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan. Lapis-lapis norma tersebut dikemukakan Rene Wellek (1968:151) berdasarkan analisis Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia, yang menuliskan perihal lapis norma tersebut dalam bukunya Das Literarische Kunstwerk (1931). Romna Ingarden juga menambahkan dua lapis noma lagi, yang kemudian dianggap oleh Wellek dapat dimasukkan dalam lapis yang ketiga. Lapis tersebut adalah lapis dunia dan lapis metafisis.

Lapis dunia dipandang sebagai suatu hal yang tak perlu dinyatakan, karena sudah terkandung dalam sebuah puisi. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat” dapat memperlihatkan aspek “luar” atau “dalam watak tokoh. Sebagai contoh, pintu berbunyi halus dapat memberikan sugesti bahwa yang membuka pintu memiliki watak sangat hati-hati. Lalu, kondisi kamar yang terlihat dapat memberikan sugesti watak orang yang tinggal di dalamnya. Kemudian lapis metafisis, yang merupakan lapisan yang memiliki sifat-sifat metafisis, yaitu sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan suci. Sifat-sifat ini dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Namun, tidak setiap puisi memiliki lapis metafisis tersebut.

Selain itu, analisis puisi bertujuan untuk memahami makna yang terdapat di dalam sebuah puisi. Dengan menganalisis puisi, sesorang dapat menangkap dan memberikan makna pada sebuah teks sastra. Karya sastra merupakan sebuah struktur yang bermakna. Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dan bermediumkan bahasa. Bahasa itu sendiri sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Hal ini terjadi karena, walaupun dahulu bahasa dianggap belum digunakan dalam karya sastra, bahasa itu sendiri sudah merupakan lambang yang mempunyai arti dan ditentukan oleh perjanjian masyarakat atau ditentukan oleh konvensi masyarakat. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti dalam konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang didasarkan atau ditentukan oleh konvensi atau perjanjian masyarakat. Sitem ketandaan inilah yang disebut semiotika.

Karena hal-hal yang diuraikan di atas, mengkaji dan memahami puisi tidak dapat dilepaskan dari anailisis semiotik. Puisi secara semiotik merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna serta ditentukan oleh konvensi masyarakat. Memahami puisi adalah berusaha memahami makna yang terdapat di dalamnya. Makna puisi adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yaitu arti yang bukan semata-mata hanya arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan. Oleh karena itu, diperlukan analisis semiotik dalam mengkaji sebuah puisi karena puisi itu sendiri merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna.

Untuk membuktikan lapis-lapis tersebut, penulis berusaha menganalisis puisi ‘Я вас любил’, Ya Vas Lyubil, karya Aleksandr Sergeyevich Pushkin. Sekilas tentang Pushkin, dia adalah pelopor yang menggerakkan kesusastraan Rusia modern. Meskipun pada awalnya, karya-karya Pushkin bernafaskan romantisme, dia kemudian cenderung bergerak secara progresif. Hal ini pula yang dilakukannya dalam mengolah budaya dan seni sastra Rusia. Gagasannya sebagai kaum pembaharu bertahan hingga sekarang. Kehebatannya dalam mengolah kata menggunakan bahasa Rusia menjadikan orang Rusia begitu bangga dengan bahasa yang mereka miliki. Karya-karyanya berusaha mengungkapkan secara mendalam kehidupan masyarakat Rusia dari segala sisi. Mengenai puisi yang akan penulis bahas, puisi ini ditulis pada tahun 1827. Berikut adalah lirik puisi tersebut :

Я вас любил : любовь еще, быть может,
В душе моей угасла не совсем;
Но пусть она вас больше не тревожит;
Я не хочу печалить вас ничем,
Я вас любил безмолвно, безнадежно,
То робостью, то ревностью томим;
Я вас любил так искренно, так нежно
Как дай вам бог любимой быть другим.

Analisis berdasarkan lapis norma:
-Lapis suara (sound stratum)
Puisi terdiri dari satuan-satuan suara, suara suku kata, kata, yang berangkai ddan menghasilkan keseluruhan bunyi sajak itu. Jadi, yang dimaksud dengan lapis bunyi dalam puisi adalah satuan bunyi yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu, dalam hal ini bahasa Rusia. Bahasa Rusia merupakan bahasa yang berubah menurut kasus, jumlah dan kalanya. Misalnya dalam kalimat pertama terdapat akhiran yang merupakan akhiran dalam bentuk lampau, yaitu ‘любил’. Ini merupakan bentuk tata bahasa yang benar dan berkaitan dengan kata-kata berikutnya, sehingga menimbulkan urutan yang jelas bahwa sosok ‘Aku’, pernah, sedang dan masih mencintai seseorang atau sesuatu. Begitu halnya yang terlihat pada kalimat-kalimat berikutnya yang merupakan sebuah konsensi bahasa yang terdapat di sana.

-Lapis arti (units of meaning)
Satuan terkecil berupa fonem. Satuan fonem terdiri dari suku kata dan kata. Kemudian, kata tersebut bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita yang akhirnya membentuk satuan arti.

Pada kalimat pertama, ‘Я вас любил : любовь еще, быть может’, yang berarti, ‘Aku dulu mencintaimu, masih mencintaimu, mungkin masih mencintaimu’ berarti bahwa sosok “Aku”, kemungkinan besar masih mencintai “Kamu” seperti dahulu. Kemudian, ‘В душе моей угасла не совсем’, ‘Di dalam jiwaku tidak akan pernah padam’ berarti cinta ‘Aku’ tidak padam pada ‘Kamu’, apapun yang terjadi.

Lalu, kalimat ketiga, ‘Но пусть она вас больше не тревожит’, ‘Tetapi jangan biarkan dia mencemaskanmu’, memiliki arti janganlah ‘Kamu’ membuat orang lain khawatir. Selanjutnya kalimat ‘Я не хочу печалить вас ничем’, ‘Aku sama sekali tidak menginginkan kamu murung’ : jangan sampai ‘Kamu’ murung karena akan membuat ‘Aku’ cemas. ‘Я вас любил безмолвно, безнадежно’, ‘Aku dulu mencintaimu diam-diam, tidak mengharapkan apa-apa, artinya ‘Aku’ adalah seorang pemuja rahasia yang ikhlas. Kemudian, ‘То робостью, то ревностью томим’, ‘Terkadang aku takut, terkadang aku tersiksa karena cemburu. Kalimat ini berarti, ‘Aku’ kadang-kadang takut kehilangan ‘Kamu’, dan itu membuatnya mencemburui segala hal yang berusaha mendekati atau ‘mengganggu’ ‘kamu’. Sayangnya hal ini belum tentu diketahui oleh ‘Kamu’ karena ‘Aku’ mencintainya secara diam-diam, sehingga membuat ‘Kamu’ tidak tahu.

Berikutnya adalah kalimat ‘Я вас любил так искренно, так нежнo’, ‘Aku dulu mencintaimu begitu tulus, begitu penuh kasih sayang’, yang mengandung arti bahwa ‘Aku’ sangat mencintai ‘Kamu’. Hal ini dilakukan ‘Aku’ dengan tulus dan penuh kasih sayang. Terakhir adalah kalimat, ‘Как дай вам бог любимой быть другим’, yang berarti ‘Seperti cinta Tuhan yang diberikan kepadamu dan lainnya. Hal ini berarti bahwa cinta ‘Aku’ kepada ‘Kamu’ begitu dalam sehingga diibaratkan seperti cinta dan kasih sayang Tuhan kepada setiap makhluknya yang tak pernah putus dan selalu tercurah tanpa henti. Bisa saja hal ini merupakan manifesto dari sebuah rasa nasionalisme yang dimiliki penyair. Dia begitu mencintai bangsa dan negaranya. Sayang hal tersebut tidak pernah berbalas, karena dia mencintai bangsa dan negaranya secara diam-diam, sehingga mereka pun tak tahu.

-Lapis ketiga
Lapis satuan arti menimbulkan lapis yang ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang. Objek-objek yang dikemukakan adalah, jiwaku, dan Tuhan. Pelaku adalah sosok ‘Aku’. Mengenai latar, tidak terdapat latar yang jelas dalam puisi tersebut. Namun dalam hal lain (tidak berhubungan dengan analisis lapis ketiga), penulis menduga bahwa latar tempat yang digunakan dalam puisi adalah sebuah tempat yang memungkinkan penyair untuk berkontemplasi. Hal ini didasarkan atas objek-objek yang dikemukakan dalam puisi, yang memiliki kaitan erat dengan sebuah proses kontemplasi, yakni jiwa dan Tuhan. Sedangkan dunia pengarang adalah cerita yang merupakan dunia yang diciptakan oleh penyair. Ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, pelaku, latar, serta struktur ceritanya.

Alurnya seperti berikut :

‘Aku’ yang masih mencintai ‘Kamu’ seperti dahulu, Tidak akan pernah padam cinta itu di dalam jiwanya. Terkadang ‘Kamu’ membuat orang lain cemas. ‘Aku’ juga tidak ingin yang dicintainya itu murung. Tetapi, ‘Aku’ tetap diam-diam memendam rasa cintanya. Bagi ‘Aku’, biarlah ini terjadi karena memang ia tidak mengharapkan balasan apapun. Mencintai secara diam-diam inilah yang terkadang membuat ‘Aku’ tersiksa karena cemburu. Walaupun ‘Aku’ mencintai ‘Kamu’ secara diam-diam, ‘Aku’ mencintai ‘Kamu’ dengan tulus dan penuh kasih sayang. Menurut ‘Aku’, cintanya kepada kamu, bagaikan cinta Tuhan kepada makhluknya.

-Lapis keempat
Lapis ‘dunia’ yang tak perlu lagu ditanyakan karena sudah terdapat di dalamnya secara jelas. Jika dipandang dari sudut tertentu, cinta ‘Aku’ kepada kamu begitu dalam. Meskipun cinta itu dirasakannya secara diam-diam, ‘Aku’ tetap tulus memberikan cinta itu kepada ‘Kamu’. Sampai-sampai ‘Aku’mengibaratkan cintanya seperti cinta Tuhan kepada makhluknya

-Lapis kelima
Lapis kelima adalah lapis metafisis yang memungkinkan pembaca berkontemplasi ketika membacanya. Dalam puisi ini pembaca dapat menemukan sebuah perenungan bahwa cinta itu harus tulus meskipun terkadang menyakitkan. Tidak boleh setengah-setengah dalam memberikan sesuatu kepada yang dicintai, tentunya ada pula batasan cinta sepenuhnya tersebut. Dalam memberikan cinta kepada siapapun dan apapun, sudah seharusnya seperti Tuhan yang memberikan cinta kepada makhluknya. Tidak mengharap balas, tulus dan penuh kasih sayang.

Analisis berdasarkan semiotika
Jika dilihat dari latar kehidupan Pushkin yang terdapat dalam buku Dari Pushkin sampai Perestroika, karangan Zeffry Alkatiri, kita dapat melihat bahwa Pushkin adalah seorang bangsawan yang dibesarkan dalam gemerlap kehidupan kota. Sejak kecil dia sudah mengenal dengan baik kehidupan sastra dan teater. Kemudian, setelah menamatkan sekolahnya pada tahun 1817, Pushkin bekerja sebagai juru tulis di Departemen Luar Negeri. Saat bekerja di sini, ia merasakan ketimpangan yang sangat terlihat dalam kehidupan masyarakat Rusia, ketimpangan antara si kaya dan si miskin.

Karena prihatin akan hal tersebut, Pushkin pun membuat sajak-sajak yang satir dan revolusioner terhadap Negara. Sajak-sajak tersebut kemudian disebarkan secara illegal kepada masyarakat yang mengakibatkan ia ditangkap dan dibuang ke Rusia Selatan. Setelah dipanggil kembali ke Moskow pada tahun 1826, karena ampunan Tsar Nikolai I, Pushkin diizinkan untuk menerbitkan karyanya. Namun, hal ini seakan terlihat percuma, karena ia terus diawasi selama sisa hidupnya.
Hal inilah yang menurut penulis menjadi titik berat persoalan yang diangkat dalam puisi ‘Я вас любил’. Penulis melihat bahwa Pushkin dengan cintanya yang begitu besar terhadap negara, seakan diperlakukan tidak adil dengan ditangkap dan dibuang. Bahkan, setelah dibuang pun, ia tetap tidak bebas merasakan hidupnya. Padahal, sajak-sajak yang dibuatnya, hanyalah bentuk manifestasi kecintaannya terhadap Negara. Dia berusaha menyadarkan setiap elemen yang ada di Negara, khususnya pemerintah, untuk sadar bahwa sedang terjadi sesuatu yang tidak beres di Rusia. Oleh karena itu, harus segera dilakukan perbaikan-perbaikan untuk kehidupan yang lebih baik.

Ini jelas terlihat dari simbol-simbol yang dibangun melalui kata-kata dan ditampilkan dalam puisi, seperti cinta yang tulus tak mengharap apa. Hal tersebut bisa diartikan sebagai bentuk nasionalisme terhadap Negara yang memang tak kan pernah mengharp balasan. Hal tersebut pula yang terlihat dalam kalimat terakhir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa puisi ini melambangkan sebuah rasa cinta atau nasionalisme yang besar terhadap Negara.

“Jangan tanyakan apa yang bisa Negara berikan kepada Anda. Tapi apa yang bisa Anda berikan untuk Negara.” (John Fritzgerald Kennedy)

Berdasarkan analisis di atas, dapat dilihat bahwa proses analisis terhadap sebuah karya, dalam hal ini puisi, harus melibatkan segala aspek yang memungkinkan untuk digunakan. Tidak bisa didikotomikan antara analisis berdasarkan lapis norma saja atau semiotika belaka. Namun, proses analisis harus melibatka keduanya. Hal ini dilakukan agar dapat mengurai isi sebuah puisi, hingga dapat ditemukan maksud yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Hal ini juga dilakukan agar sebuah puisi tidak kehilangan fungsi estetiknya.

Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih atas bimbingan Pak Trisna Gumilar, M.A., selama perkuliahan Analisis Puisi ini. Begitu banyak ilmu yang diberikan, namun kapasitas saya dalam menyerap ilmu tersebut tentu saja tidak sebesar ketika ilmu itu berpencar mencari tempat untuk didiaminya. Oleh karena itu, saya sadar akan kekurangan yang pasti ditemukan dalam makalah ini. Saya juga mengharapkan saran dan kritik yang membangun terhadap tulisan saya ini ataupun secara pribadi dalam hal-hal lain, agar saya dapat melakukan revolusi terhadap diri saya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, setiap saat.

DAFTAR PUSTAKA
Zeffry, 1999. Dari Pushkin sampai Perestroika. Depok : Fakultas Sastra UI–Depok.

SUMBER LAIN
Materi kuliah Dasar-dasar Teori Sastra Program Studi Sastra Rusia, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.
Materi kuliah Analisis Puisi Program Studi Sastra Rusia, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.
Kumpulan puisi Aleksandr Sergeyevich Pushkin, tanpa nama, tanpa penerbit.
Buku-buku lain tentang analisi puisi, tanpa nama, tanpa penerbit.

4 thoughts on “Analisis Puisi ‘Я ВАС ЛЮБИЛ‘ Ya Vas Lyubil Karya Aleksandr Sergeyevich Pushkin ‘АЛЕКСАНДР СЕРГЕЕВИЧ ПУШКИН‘ Berdasarkan Lapis Norma Roman Ingarden dan Teori Semiotika Michael Riffaterre

  1. terimakasih kak.. sangat membantu saya dan teman-teman nih😀 *lagi menganalisis puisi ini juga, trus iseng setelah selesai analisis, browsing ke internet ternyata ada yang lebih lengkap. hehe😀

    salam kenal dari teman-teman sastra Rusia 2011 – UI ^^v

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s