WCU (World Class Umi)

Awalnya saya mengira bahwa ada yang tidak beres dengan rambut saya, karena di saat gelombang air terus menerus tertumpah dari langit, orang-orang di trotoar depan Puskesmas itu tetap menyunggingkan senyum keheranan, sambil menatap bagian wajah ke atas. Saya sadar bahwa rambut saya sudah tak seperti dulu lagi, bahkan lebih rapih. Lantas, apa yang membuat mereka ikhlas tersenyum seperti itu?. Jawabannya : Payung Hijau Tua. Ternyata payung ini akan mengeluarkan motif bunga-bunga apabila terkena air. Inilah yang membuat orang-orang itu tersenyum. Mungkin karena saya yang memakainya. Mungkin juga karena, ….., ahhh, saya tidak ingin menerka-nerka tak tentu arah. Saya pun ikut tersenyum. Tentu saja ini senyum bahagia.

Terngiang kembali kisah sang payung, hingga sekarang berada di tangan saya. Ketika itu pagi hari menjelang keberangkatan saya kembali ke perantauan, setelah sehari penuh di hari sebelumnya, ingin membuktikan bahwa saya berani untuk belajar terbang ke angkasa. Berani berkata bahwa saya tidak takut. Walaupun sang operator akan semakin senang dengan teriakan-teriakan yang semakin keras dari peserta. Yah, permainan menjual ketakutan orang lain. Hampir sama halnya apabila saya melihat tukang gali kubur yang senang sekali jika ada yang meninggal. Mungkin ini hanya dugaan saja.

Pagi itu sekitar 8.00 A.M :

“Kok gak kuliah, Al?”

“Ngambil jatah libur. hehe”

“Lho? Emang bisa?”

“Iya, batasnya sampe tiga kali.”

“Uang kamu masih cukup kan?”

“Masih. Uang beasiswa yang kemarin masih ada.”

“Yauda nih, Mama kasih buat ongkos aja yah.”

“Mama ada gak? Masih ada kok yang kemarin.”

“Udah, kamu pegang aja.”

Dahsyat nian pemegang kunci surgaku yang satu ini. Beliau pun bertanya kembali :

“Sekarang di sana sering hujan yah?”

“Iya, hampir tiap sore.”

“Terus kamu ujan-ujanan yah kalo pulang kuliah?”

“Gak lah, kalo ujan paling juga neduh atau gak, main ke kosan temen yang deket kampus.”

“Lho? Emang gak ada payung? Kan waktu itu dikasih payung!

“Hilang. hehehe”

“(Sambil terlihat kesal) Kamu tuh kalo dikasih barang gak pernah awet yah.”

“(Nyengir).”

“Pake nih. Jangan sampe hilang lagi yah! (Sambil menyerahkan payung yang nampaknya masih baru dan tak lupa dengan senyum malaikatnya).

“Nanti Mama gimana?”

“Udah bawa aja”.

“mhsoawgywgejavdufdjfgjhvjdvej (Mama memang World Class Umi dah)

Dan sekarang, bagaimana riwayat payung itu?. Rusak. Kepentok dinding yang di kedua sisinya menyempit. Tak ada senyum lagi yang dihasilkan dari motif bunga-bunganya. Dan masih saja ketika hujan, saya tak berpenghalang lagi. Terkadang, ketika saya teringat Sang World Class Umi, saya merasa bersalah. Tapi saya yakin, walaupun begitu, hanya akan terurai senyum dari Sang Malaikat melihat anaknya yang satu ini.🙂

Mama, Apa kabarmu di sana?
Setiap selesai sujudku
Tak lupa aku merekam wajah lelahmu yang berkeringat untukku
Untuk kuhadirkan dalam do’aku
Tak berkurang rasa sayangku
Tak kan hilang
Jika kau ada di sampingku, akan kuseka peluhmu yang mengucur karenaku
Dengan kain hatiku, kain terbaikku
(Rindu {Lagi})

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s