Penantian

Tak kudapati diriku terlelap ketika malam menerjang menandaskan waktu
Sejauh itu pula aku tenggelam di keheningan malam
Terantuk kerikil dalam hamparan perasaaan

Dia berhasil mencuri perhatianku
Dan terus menerus datang menghampiri tanpa lelah
Membentuk pusaran keinginan yang terus menari di pelupuk mata

Dia datang, menghampiriku dalam lelapku lagi, malam ini
Tak bosankah, ia?
Tak lelahkah, ia?
Oh, akulah yang memintanya datang?
Dan baik sekali ia mau datang
Sambil tetap tersenyum, tersenyum padaku, menahan tawanya
Hanya senyumnya yang ia keluarkan padaku

Sayangnya, aku terjaga
Hingga kudapati sinar keemasan itu menghilangkan semuanya
Karena aku kembali dihadapkan pada penantianku akan dirinya

Aku tak ingin seperti penyair platonik lainnya
Yang mengatakan : Cintai aku atau benci saja aku sekalian
Asal jangan kau acuhkan diriku
Aku hanya ingin katakan : Cintai aku, cintai aku dan cintai aku
Jangan pernah kau benci aku sekalipun
Jangan pula kau acuhkan aku
Biarkanlah aku ada di hatimu
Seperti kau menerangi malamku dengan senyummu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s