Biarkan Saya Bermimpi, Kawan

21 Juli 2011 (21.13-mulai menulis)

Bulan ini sudah dua kali saya pulang ke Jakarta. Pertama, ketika saya berniat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (susulan) pada awal bulan di rumah dosen (walaupun tidak jadi). Serta tepat seminggu yang lalu untuk menghadiri seminar yang diadakan oleh salah satu Kementerian, plus ke rumah dosen lagi. Sungguh, sebuah hal yang tak biasa, saya pulang ke Jakarta dalam waktu yang berdekatan.

Ada kejadian yang membuat saya geram, ketika kepulangan saya untuk waktu yang kedua kalinya. Sepulang dari seminar, saya langsung pulang ke rumah dan mendapati bahwa di rumah saya sedang diadakan pengajian menyambut bulan Ramadhan. Dan saya pun tidak bisa masuk ke dalam rumah, karena memang rumah saya penuh sesak manusia (yang hampir semuanya ibu-ibu), dan semoga juga penuh dengan berkah orang-orang yang ada di dalamnya. Saya pun memutuskan untuk ‘main’ ke ‘warung sederhana’ milik teman sekolah saya di sekitar stasiun J.

Di sana saya bertemu dengan empat teman saya semasa Sekolah Menengah Pertama. Pertama, yang mempunyai warung itu. Dan terjadilah percakapan di antara kami :
P (Teman saya yang punya warung) : Wey Nan, dari mana lu?
D (Saya): Dari rumah.
P : Mau minum apa lu?. Ambil aja yah.
D : Sip. Yang berwarna boleh yah.🙂
P : Udah, ambil aja.

Saya pun mengobrol banyak dengannya. Tentang Jakarta dan kabar teman-teman sekolah yang pernah mengisi hari-hari kita. Tak lama kemudian, datanglah satu orang lagi teman saya. Ia baru pulang dari kantornya. Saya pun mencoba menyapanya lebih dahulu :
D : Wey Ji. Makin ganteng aja lu?
O : Haha, bisa aja lu, Nan. Lu libur, Nan?
D : Iya nih.
O : Iya, Nan. Sekolah lu yang bener, biar jadi orang.
D : Haha, emang sekarang gue jadi apa?

Percakapan itu tidak berlangsung lama, selain hanya bercerita tentang kabar masing-masing, kami hanya berbicara seputar pekerjaannya di bidang perangkat komputer. Dan saya juga bercerita tentang usaha pembuatan ‘baju’ yang sedang saya jalani. Tak lama kemudian ia pun pulang. Tujuannya ke warung itu awalnya (mungkin) memang hanya untuk membeli peralatan rumah tangga.

Kemudian saya pun menghubungi salah satu kawan SMP saya yang memang sudah lama tidak berjumpa. Dia datang sekitar satu jam setelah saya menghubunginya lewat sebuah pesan singkat. Namanya W. Dia pun mentraktir saya Mie Ayam yang ada tak jauh dari warung. Mungkin pertimbangan saya yang masih mahasiswa dan dia sudah bekerja (padahal sejak dulu saya memang jarang mentraktir). Banyak sekali yang saya bicarakan dengannya. Salah satunya adalah tentang Laptop yang ingin saya beli (mudah-mudahan dalam waktu dekat….Amiiiin).

Lalu, datang lagi seorang teman SMP saya (sekelas waktu kelas 1). Sebut saja namanya T. Dia adalah salah seorang yang menurut saya pintar ketika di SMP. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa perbedaan nilai saya dengan dia ketika awal masuk, sangat jauh. Nilai saya hanya tiga puluh satu dari lima pelajaran, sedangkan dia, tiga puluh tujuh dari lima pelajaran. Dan kenyataannya dia memang ‘cukup’ pintar di kelas. Kami pun mengobrol panjang lebar tentang kehidupan masing-masing yang sedang dijalani. Saya dan punya warung masih kuliah. Sedangkan dua yang lainnya sudah bekerja. Keduanya bekerja di bidang yang tidak terlalu jauh, perangkat alat elektronik dan komputer (juga). Saya lebih banyak berbicara dengan W. Dan dalam satu kesempatan saya bertanya kepada W :
D : Udah lu nikah aja! Mau dikemanain lagi tuh duit. he
W : Gue kerja tuh buat kuliah, Nan. Gue ngumpulin duit buat kuliah.
D : Wah, keren tuh. Mantaplah kalo gitu.
W : Iya, paling yang kuliah sambil kerja.

Tiba-tiba T menimpali :
T : Kalo ijazahnya SMP doang bisa kuliah gak tuh?

Saya yang mengira pertanyaan ini serius, menjawab :
“Bisa, ikut aja paket C. Murah kok. Banyak kampus-kampus yang nerima ijazah paket C.
(Saya tak tahu apakah pertanyaan T ini sekedar bergurau atau serius, tapi yang jelas, saya serius menjawab pertanyaan tersebut).

T pun menambahkan :
“Gue ngikut kata orang dulu aja dah, –Ngapain sekolah tinggi-tinggi, belum tentu bisa dapet kerja. Gue aja yang SMP bisa kerja-.

Saya hanya mengiyakan dengan anggukan lemah. Dan percakapan sempat berhenti di situ. Saya pun berpikir, kenapa anak yang dahulu punya otak cemerlang, harus berpikir realistis atau mungkin lebih tepat saya sebut sebagai sikap pesimis. Dia tak seperti Lintang dalam cerita Laskar Pelangi, yang semangatnya untuk menimba ilmu hanya terhenti karena punya tanggung jawab menggantikan peran ayahnya yang meninggal. Saya tahu, dia tidak bernasib seperti Lintang. Dia tak semiskin Lintang dan tidak mengemban amanah yang sangat berat seperti Lintang. Walaupun begitu, kekurangannya (kemiskinannya) telah menghilangkan semangatnya untuk bermimpi, tidak demikian halnya dengan Lintang. Apa karena dahulu belum ada cerita Laskar Pelangi, yang mengajarkan manusia untuk bermimpi setinggi-tingginya?. Mimpi yang hanya bisa dicapai dengan usaha yang sangat keras.

Dan saya, sebenarnya hanya sedikit lebih beruntung dari T. Sejak ayah saya memutuskan untuk menganggur permanen, saya hanyalah seorang anak manusia yang seluruh hidupnya disubsidi oleh saudara-saudara saya. Bahkan, saya tak pernah menyadari kelebihan itu. Saya adalah anak yang sangat tidak penurut dan terkenal ‘cukup’ nakal di sekolah, seolah tak tahu cara berterima kasih dalam menggunakan subsidi yang diberikan.

Setelah SMP, T dan teman-teman yang lain memang banyak yang memutuskan untuk masuk STM. Katanya, biar bisa langsung kerja. Tapi nyatanya, hanya sedikit yang bertahan. Momok bernama ‘biaya’ dan solidaritas antar teman yang ‘terlalu’ kelewatan, melucuti impian mereka satu persatu. Biaya erat kaitannya dengan kemiskinan, yang memang menjadi masalah yang belum dapat diselesaikan hingga saat ini, bahkan entah sampai kapan. Mungkin saja karena salah kebijakan yang diambil oleh pemerintah, atau pun memang mental masyarakat yang belum ‘siap’ untuk kaya (saya enggan menggali lebih jauh lagi). Tentang solidaritas antar teman yang saya sebut ‘kelewatan’ adalah mengenai efek domino apabila ada seorang teman yang memutuskan untuk berhenti sekolah, maka yang lain pun mulai malas untuk bersekolah dan akhirnya berhenti sekolah juga. Tapi, ini hanya dugaan saya saja.

Dari percakapan malam itu, saya pun teringat dengan koran pagi yang saya baca di Bus Transjakarta. Ada artikel menarik mengenai kemiskinan yang diawali perkataan Ali Bin Abi Thalib, “Kalaulah kemiskinan itu berbentuk manusia, sungguh aku akan membunuhnya”. Ya, itu bisa dibenarkan, dan memang harus dibenarkan. Kemiskinan sudah menjadi momok banyak anak muda yang cemerlang untuk pesimis dalam menjalani hidupnya. Masalah kemiskinan itu bagaikan badai yang datang terus menerus tanpa pernah berhenti. Dan di negeri ini, setiap hari ada orang yang bertambah miskin, dan (tak sedikit) bertambah pula yang kaya atau semakin kaya. Sungguh sebuah paradoks yang mengiris hati. Padahal konsep-konsep pengentasan kemiskinan, salah satunya yang pernah berhasil adalah zakat. Tapi sayang, pemerintah yang bebal itu selalu tak mau mendengar solusi yang brilian ini.

Saya sendiri sudah memutuskan, bahwa sampai kapanpun, saya tidak akan menyerah kepada kemiskinan. Biarlah ia menari-nari di depan saya tanpa pernah bisa mengajak saya menari. Saya akan tetap bergeming terhadap ‘tarian’nya. Dan saya selalu bersama kalian wahai orang-orang yang tak pernah menyerah pada keadaan yang sulit.Saya akan mengejar mimpi saya sampai batas yang sejauh-jauhnya. Meskipun nanti saya mungkin mendapati kenyataan bahwa saya akan tetap dalam keadaan seperti saat ini. Seperi yang dikatakan Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi, “Kita tak akan mendahului kenyataan”. Biarkan saya bermimpi, kawan. Biarkan saya mengejar harapan-harapan. Jangan kau halangi saya dengan geliat-geliat keadaan yang menggenaskan.

“12.56 (Selesai)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s