Celoteh Siap-siap (Coba-coba Belajar dari kisah Napoleon)

Begini ceritanya, tulisan kali ini berjudul ‘Celoteh’. Celoteh yang muncul sehabis membaca novel bersampul hitam itu. Entah untuk yang ke berapa kali baca. Lagi, dan lagi Dalam novel tersebut ada kisah tentang Napoleon yang sejak kecil memiliki keinginan untuk menjadi seorang tentara. Ceritanya, sewaktu Napoleon masih bersekolah dia bawa bekal dari rumah.

Alkisah, Napoleon yang menggebu-gebu ingin menjadi tentara, selalu menukarkan bekal makanannya tersebut dengan ransum atau makanan khas tentara. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk mencapai keinginannya menjadi seorang anggota militer dan dengan cara seperti ini Napoleon berusaha merasakan atmosfer seorang militer lewat ransumnya. Menurut Napoleon, ketika seseorang menginginkan sesuatu atau memiliki obsesi yang tinggi terhadap sesuatu, maka kejarlah. Dan salah satunya dengan membiasakan diri untuk lebih sering berhubungan dengan hal-hal yang akan dialami nantinya. Mungkin menurut Napoleon, supaya kita gak kaget nantinya. Proses itu juga bisa jadi pelajaran untuknya agar tidak selalu makan makanan yang terlihat enak-enak saja dan terlihat mewah-mewah saja. Kalaupun gak jadi tentara juga dan hidup susah, Napoleon sudah siap dengan makanan yang apa adanya dan bukan ada apa-apanya.

Zaman sekarang kan banyak tuh orang kaya (berlebihan harta) yang tiba-tiba jatuh miskin, entah karena ketauan korupsi, ditipu, atau apalah itu, yang kemudian turut serta memiskinkan hatinya. Mereka (baca:orang-orang kaya yang kasiian itu) gak pernah mencoba merasakan kehidupan seorang miskin sehingga mereka gak siap menjadi orang miskin. Padahal gak ada jaminan mereka akan terus-terusan kaya (Walopun mereka bilang kekayaannya tujuh turunan gak akan abis, tetep gak ada jaminan). Mereka gak siap dengan kemiskinannya, kemudian hidup jauh dari Allah dan segala ciptaannya. Bahkan ada yang sampai mengalami gangguan kejiwaan.

Belajar memahami hidup seorang miskin bukan berarti mau menjadi miskin. Jika, ditanya ke setiap orang juga jawabannya akan sama, yaitu “TIDAK MAU!” Belajar memahami dan menikmati kehidupan seorang miskin adalah sebuah persiapan untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang beserta manusianya yang akan terus berubah sesuai hakikatnya yang kadang di atas, dan lebih banyak di bawah. Segala hal bisa terjadi, meskipun kita tidak pernah mau dan mengharapkan akan kehilangan kekayaan dan kekuasaan yang kita punya saat ini untuk kemudian menjadi miskin. Jadi, siap-siap yah.

Eh, nanti dulu, sebelum ditutup, saya jadi teringat celotehan siap-siap juga dari seorang kawan. Beliau pernah berkata (terkait keinginan saya nih, yang saya terus memohon kepada Allah agar dikabulkan, tapi yang jelas Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan manusia melebihi apa yang menjadi keinginan mereka), “kalo lu mau punya bini dokter, lu harus biasa sama jarum suntik dan darah. (Mengenai jarum suntik, teman saya ini bukan junkies, lho. Untuk darah, di SMA, waktu masih menjadi ‘pecandu’ tawuran, saya udah sering ngeliat dan saya juga suka nonton film action yang kadang-kadang, bahkan sering banyak darahnya, jadi ya, udah biasa. Tapi, kenapa yah sampe saat ini saya masih takut sama jarum suntik? Padahal dari SD sering ikut yang program suntik-suntik dari pemerintah. Kalo ke dokter juga pernah disuntik. Sebenarnya gak takut sih, kulit saya malu-malu aja. hehe.) Jadi, ketika lu punya bini dokter, lu udah biasa menghadapinya dan sudah siap dengan segala konsekuensinya. (hehe, nyambung gak yah sama kisah di atas. Udah, nyambungin aja. Hehehe, dokter di pulau seberang, tungguin saya yah, bentar lagi saya mau lulus, bantuin do’a juga deh, hehehe.

Selamat menikmati. Selamat menempuh hidup baru. Mohon do’a restu.🙂🙂🙂

(Ditulis di sebuah tempat nun dekat di sana. Di tengah hantaman dari pengurus beasiswa yang banyak alasannya, sehingga saya gak jadi gantiin sisa uang kosan dan beli komputer. Ketika musim hujan mulai turun sesering mungkin yang mengakibatkan pendakian ke Mahameru ditutup dan saya gak jadi naik. Sewaktu, saya mulai kembali menemukan semangat untuk lebih memaknai hidup. Dan ketika setiap waktu menjadi momen yang paling indah. Mari nikmati saja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s