Kemenangan Putin, Kemenangan Iran, dan Kemenangan Suriah : Momentum Penyelesaian Krisis Secara Lebih Adil

“Kami akan melakukan segala kemungkinan untuk mencegah konflik militer baik di Iran atau di sekitarnya,” kata Putin. (Republika, 2 Maret 2012)

Itulah pernyataan Vladimir Putin, Perdana Menteri Federasi Rusia, dua hari menjelang Pemilihan Presiden Rusia 2012. Putin yang saat ini sudah dipastikan memenangi Pilpres 2012, akan memimpin Rusia selama enam tahun ke depan. Pada dua fase kepemimpinannya terdahulu, Putin sangat terkenal dengan pernyataan-pernyataan kerasnya terhadap segala bentuk intervensi militer Barat (AS dan sekutunya) dalam memulihkan keamanan atau menyelesaikan masalah di sebuah negara. Bahkan, pada konferensi tahunan internasional tahun 2007, mengenai kebijakan keamanan di Munich, Jerman, Putin pernah mengeluarkan pernyataan bahwa AS dan sekutunya telah secara liar dan sembrono membuat dunia ini menjadi lebih berbahaya akibat kebijakan perangnya dan keinginan untuk mendikte dan memaksakan kehendak di negara lain (Kompas, 14 Desember 2007).

Kemenangan Putin dalam Pilpres tahun ini dapat dianggap sebagai bagian dari kemenangan Iran dan Suriah. Sebagai Presiden Rusia, ia memiliki kewenangan penuh atas kebijakan luar negeri Rusia, jika dibandingkan ketika menjadi Perdana Menteri di era Medvedev. Putin selama ini dikenal dengan sikap kerasnya terhadap intervensi dan embargo militer negara Barat atas negara-negara yang “bermasalah”. Ia akan terus mempertahankan Rusia pada jalur yang adil dalam melihat permasalahan nuklir Iran dan krisis Suriah. Putin akan tetap melakukan upaya-upaya dialogis untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan internasional seperti ini.

Hal inilah yang tercermin dalam penyelesaian masalah nuklir Iran dan krisis Suriah. Keinginan AS dan sekutunya untuk melakukan intervensi militer dan memberikan sanksi ekonomi terhadap kedua negara tersebut ditolak oleh Rusia. Meskipun Rusia juga memiliki kekhawatiran terhadap Iran mengenai potensi pengayaan nuklir sebagai senjata, namun permasalahan ini seharusnya diselesaikan dengan dialog-dialog yang seimbang bagi semua pihak. Rusia bersikeras bahwa serangan militer ataupun sanksi ekonomi terhadap Iran tidak akan menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Opsi tersebut malah akan membuat permasalahan menjadi semakin rumit untuk diselesaikan.

Sementara itu terkait kebijakan Rusia terhadap krisis Suriah, Rusia telah memveto resolusi PBB pada sidang DK PBB, 5 Februari 2012. Rusia menyatakan keberatan atas campur tangan asing di negara tersebut. Penolakan juga disebabkan oleh redaksi yang digunakan dalam resolusi yang menyatakan bahwa DK PBB mendukung penuh rencana Liga Arab mendesak Presiden Bashar al-Assad menyerahkan kepemimpinan kepada wakilnya dan menyelenggarakan pemilu bebas. Menurut Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia untuk PBB, resolusi tersebut akan menempatkan Suriah pada kondisi yang pernah terjadi di Libya. Churkin juga menambahkan bahwa redaksi yang terdapat dalam resolusi tidak mencerminkan keadaan sebenarnya dan tidak berimbang dalam mewakili permalahan yang terjadi di Suriah. Melalui upaya dialog, Rusia berusaha untuk meminta pemerintah Suriah agar menyelesaikan permasalahannya dengan sebaik-baiknya, tanpa harus dicampuri negara lain.

Secara keseluruhan, sikap Rusia atas permasalahan nuklir Iran dan krisis Suriah tidak bisa diterima secara bulat-bulat. Sikap ini mungkin saja merupakan upaya Rusia untuk mengamankan kepentingannya di kedua negara tersebut. Selama ini, Iran dan Suriah merupakan wilayah utama pasar ekspor persenjataan dan uranium dari Rusia. Rusia juga mengirimkan ilmuwan-ilmuwan yang dimilikinya untuk membantu perkembangan teknologi kedua negara tersebut. Sehingga kedekatan antar negara-negara ini juga akan mempengaruhi keputusan-keputusan Rusia sebagai anggota tetap DK PBB. Dan Putin, sang Presiden, sebagai pemegang kendali urusan diplomasi luar negeri Rusia, tentu saja lebih memlih untuk mengamankan kepentingan nasional negaranya.

Namun, sudah saatnya masyarakat dunia melihat secara lebih adil. Sikap Rusia atas kedua permasalahan tersebut patut diapresiasi. Keinginan atau itikad baik untuk mengedepankan upaya-upaya dialogis terhadap permasalahan nuklir Iran merupakan langkah maju dalam membina hubungan antar negara yang lebih adil dan seimbang. Kebijakan luar negeri Rusia atas pengutamaan hak otonomi pemerintah Suriah terhadap krisis di negaranya juga harus dilihat secara lebih adil. Sikap Rusia bukan berarti sebagai pembiaran terhadap penggunaan kekerasan yang dilakukan pemerintah Suriah terhadap warga negaranya. Melainkan hanya sebagai upaya untuk memberikan kewenangan bagi pemerintah Suriah untuk menyelesaikan permasalahan bangsanya. Karena, intervensi militer hanya akan membuat masalah ini menjadi semakin rumit. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya di Irak, Afganishtan dan Libya, bahwa opsi ini hanya akan membuka kran kekerasan menjadi semakin deras.

*Opini ini ditulis oleh Ahmad Ilham Danial, mahasiswa semester delapan Program Studi Sastra Rusia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s