Mereka dan Saya

Beberapa hari setelah Idul Fitri tahun ini, seusai mengunjungi salah satu kerabat di daerah Cibening (Bekasi), dan dalam perjalanan pulang ke rumah, saya bertemu kembali dengan sang penjual senter. Seorang pria tua dengan usia yang telah melewati setengah abad. Sudah dua hari ini, di dalam kereta listrik tujuan Bogor, saya bertemu dengan pria tua itu. “Senter-senter, 10 ribuan senternya,” seperti itulah suara yang keluar dari mulutnya selama dua hari. Di usianya yang tak muda lagi, pria tua itu harus menghadapi dua pilihan yang sangat tidak menjanjikan, menjual senter untuk kelangsungan hidupnya, atau berdiam diri saja di rumah menunggu dan merutuki hidupnya. Entah di mana anaknya.

Mudah saja menemukan keadaan-keadaan seperti ini, seorang yang sudah tua, entah pria atau pun wanita, dengan keadaan yang terlihat menderita, terkadang bersama anak yang ada di dalam gendongannya, bahkan ada yang harus meminta-minta belas kasihan orang lain. Untuk mereka, pilihan terbaiknya hanyalah dengan berniaga, berpindah dari satu kereta ke kereta lainnya, bergelantungan dari satu bus ke bus lainnya, mengetuk pintu rumah yang satu dan yang lainnya, meski tak tentu hasilnya.

Mereka tidak punya pilihan untuk memiliki mobil dengan berbagai merk dan warna, berdiam diri di butik mewah sambil menunggu rancangan jas atau gaun Limited Edition dari desainer terkenal, atau mengganti gaya rambut sesuai dengan selera pasar. Mereka lebih banyak menggunakan kakinya untuk melangkah, memakai pakaian dengan desain seadanya, dengan potongan lusuh seperti tak pernah mandi. Hanya makan, bertahan hidup dan kadang sedikit berbagi.

Dan saya yang hidup dalam masa ini, yang tidak lagi menderita seperti mereka (*entahlah, ini hanya opini saya bahwa mereka menderita, padahal terkadang mereka justru merasa tidak sedang menderita), sehingga bisa memilih untuk hidup sederhana atau pun mewah, bukan menderita. Saya memilih untuk hidup sederhana. Setiap pagi pergi berkarya dalam hentakan semangat mencari nafkah dan beribadah. Dalam kesederhanaan ini, setidaknya saya menikmati dan menjalani pilihan saya, seperti halnya mereka yang tetap berusaha di samping keterbatasannya.

 

Simprug, 3 Oktober 2012

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s