Drunken Marmut : Dan Saya Pun Mabuk

Drunken Marmut. Judul buku ini menggugah minat saya untuk membelinya ketika sedang ‘mampir’ di sebuah toko buku di wilayah Depok. Beberapa pertanyaan sempat muncul seolah-olah menebak isi buku (buku ini masih dibungkus plastik, sehingga saya tidak bisa melihat isinya. Ahh, betapa pelitnya toko buku itu … hehe), “Bagaimana kisah hidup seekor Marmut yang sedang mabuk?. Siapa yang membuat Marmut tersebut mabuk? Kok bisa, penerbit sekelas Mizan berurusan dengan seekor Marmut yang mabuk?”. Hingga akhirnya pertanyaan tersebut berhenti ketika saya membayar buku tersebut di kasir dan segera membacanya ketika sampai di rumah.

Don’t judge a book by its cover. Waktu itu, saya harus menanggalkan pepatah dalam bahasa Inggris yang berisikan nasihat agar setiap orang tidak melakukan penilaian terhadap keseluruhan buku hanya melalui sampulnya. Namun, ketika saya melihat Drunken Marmut, saya justru tertarik saat melihat sampul depannya. Gambar karikatur sebuah keluarga kecil yang sedang memperhatikan seseorang sedang membaca sebuah kertas, hanya dengan ditemani cahaya lilin. Seorang laki-laki yang sepertinya sang kepala keluarga sedang memegang lilin didampingi oleh seorang wanita (kemungkinan istrinya) yang sedang menggendong anak kecil (mungkin anaknya) dan di sebelahnya juga ada anak kecil (mungkin anaknya lagi).

Melalui gambar tersebut, saya menerka bahwa kejadiannya berlangsung di malam hari atau mungkin saja listrik di tempat tersebut sedang padam, karena penerangan yang hanya bergantung kepada lilin. Namun, yang lebih penting, di balik temaramnya cahaya lilin, saya melihat bahwa ada hal yang mulai jarang terlihat pada masa kini, yaitu kehangatan sebuah keluarga. Pada masa kini, terutama di malam hari, hampir sebagian keluarga di dunia ini sudah melupakan saat-saat berkumpul dan berinteraksi antar anggota keluarga. Seorang ayah biasanya sudah terlalu lelah untuk sekedar bercengkrama dengan anak dan istrinya karena seharian bekerja di kantor. Seorang ibu yang sudah mulai banyak bekerja juga seperti memiliki “penyakit” yang sama dengan suaminya. Anak pun kehilangan panutan serta teman bermain terbaiknya. Sepertinya itu merupakan hal yang sepele, namun dampaknya terlalu besar terasa bagi sebuah keluarga. Dan melalui buku ini, Pidi Baiq (yang kemudian sering dipanggil Ayah) seperti menyampaikan pesan kepada saya untuk menciptakan kembali kehangatan itu, minimal di keluarga saya. Pidi menyampaikan itu semua dengan praktek, tidak hanya dengan teori.

Kemudian, pelajaran hidup itu bertambah ketika saya membaca cerita pertama yang berjudul “Oh, Pram”. Cerita pertama buku ini, menyadarkan saya kembali tentang hal-hal yang dianggap sepele namun memberikan efek besar pada hubungan antar manusia, yang dapat dilihat dari cara seorang Pidi Baiq dalam mencoba membangun keakraban dengan orang yang baru dikenalnya. Sebuah cara yang mungkin oleh sebagian orang sangat aneh. Namun, bagi saya itu merupakan cara brilian untuk lebih mengenal orang lain dan cara brilian untuk menembus batas kekakuan dengan orang yang baru saja dikenal. Mengenai dampak yang ditimbulkan, tentunya itu tidak akan pernah bisa diduga dengan pasti, tapi pasti selalu berharap pada respon yang positif.

Cerita-cerita berikutnya memiliki pesan yang hampir sama dengan cerita pertama, ketika hal atau cara yang dianggap kecil mampu memberikan pengaruh besar pada hubungan antar manusia. Bagaimana seorang Pidi harus menyamar menjadi gelandangan atau pengemis, hanya untuk memberikan kejutan kepada ibunya saat Hari Ibu. Sekali lagi, bagi sebagian orang, hal tersebut seperti memperlihatkan penyakit “gila” Pidi yang sudah mencapai tahap kronis. Namun, di balik itu semua saya menyadari bahwa terkadang sebuah kejutan yang didasari niat baik akan membuat hubungan antar manusia akan menjadi semakin baik. Bagi saya, Mizan dan Pidi Baiq beruntung bisa bekerjasama dalam terbitnya buku ini. Buku yang bagus. Pesan cerdas yang sederhana, dan saya pun mabuk.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s