Hari Ini dan Kisah Kucing Kecil

Elista. Sudah seminggu kota ini diselimuti kabut tebal. Sementara salju menghilang untuk sementara, kabarnya bersiap untuk datang kembali di Januari, lebih banyak lagi. Jalan raya menjadi becek dan penuh tanah, membuat corak warna kendaraan di sini menjadi sama, coklat. Ini bukan waktunya untuk mencuci. Penduduk kota sibuk menyiapkan malam hari nanti, malam tahun baru.

Pagi tadi aku harus ke kampus, ada janji dengan seorang perempuan bertubuh subur. Seorang penerjemah bahasa Inggris yang sangat jarang ditemui di sini. Kemarin aku sudah ke kampus, dia tak datang. Dia bilang, “Kita bertemu besok jam 9 pagi”. Aku pun datang, pagi, jam 9. Lagi-lagi, dia tak datang dan dengan seenaknya mengubah jadwal, “Danial, sekarang saya tidak bisa datang, Silahkan datang kembali jam 12 siang, maaf.” Ahh, di Rusia semuanya bisa terjadi, jarang-jarang orang Rusia minta maaf ke orang Indonesia. Itu pasti, sedikit sekali orang Indonesia di sini, hanya aku dan tiga orang temanku. Akhirnya, aku pun pulang. Tak biasanya, hari itu aku ingin jalan kaki. Meski suhu di luar hampir mendekati titik beku, 2 derajat celsius. Dan kenyataannya lebih dingin dari itu.

Jarak dari kampus ke asrama sekitar 30 menit. Seperti yang sudah kukatakan, jalanan menjadi becek dan penuh tanah. Aku pun harus pintar-pintar memilih tempat berpijak. Saat itu juga aku teringat dan menjadi sangat rindu dengan suasana gunung di Indonesia. Kota ini mirip sekali seperti hutan-hutan dan gunung-gunung yang pernah kujelajahi, tenang, relatif sunyi, tanah yang becek dan lembab. Lupakan dulu gunung tropis, di depan ada Elbrus, puncak tertinggi Eropa. Nanti, aku akan ke sana, musim semi. Selama perjalanan aku banyak melamun, sambil sesekali mengeluarkan lelucon untuk membuat nyaman teman seperjalananku, entah apa yang aku lamunkan.

Kira-kira kurang dari sepuluh menit lagi aku akan sampai di asrama, ketika tiba-tiba aku mendengar suara rintihan di seberang jalan. Rintihan binatang. Aku pun mendekat ke asal suara itu. Ternyata benar, itu seekor kucing kecil berwarna hitam. Saat aku sampai, kucing itu berada dalam posisi wajah menghadap ke aspal. Dia terlihat kedinginan, bisa kupastikan dari bulunya yang basah. Dia hanya bisa merintih, rintihan yang memilukan, menyayat hati. Aku angkat kucing itu dengan tangan kananku. Kupindahkan dia ke tempat yang lebih hangat. Kuberikan dia alas untuk berbaring, dan kuselimuti dia. Setelah kurasa semua sudah lebih baik, aku pulang dan mengambil makanan untuk kucing itu. Dan ketika aku kembali, kucing itu sudah tiada.

Hidup dan mati itu memang beda tipis, tak lebih tebal dari seutas benang jahit. Dan tak lebih lama dari waktu subuh hingga terbit matahari. Aku masih ingat matanya yang terbuka di akhir hidupnya. Mungkinkah dia menahan rasa sakit yang tak tertahankan ketika ruhnya dijemput sang malaikat? Kalau benar, bagaimana denganku? Kucing itu saja sudah mengalami sakit luar biasa di saat-saat nafas terakhir hidupnya, padahal dia masih kecil, belum banyak catatan dosanya. Dan aku, usiaku 24 tahun, tak terkira catatan dosanya. Oh, Tuhanku, maafkan aku. Terima kasih sudah mengirim hikmah melalui ilmuMu.

One thought on “Hari Ini dan Kisah Kucing Kecil

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s