Saya dan Polisi Rusia

Hari itu, Kamis 9 Januari 2014. Hari masih sore, dan saya sedang mempersiapkan diri untuk ujian kuliah esok hari. Malam nanti saya harus menjemput seorang kawan Indonesia dari kota lain, juga di Selatan Rusia. Sesuai rencana, dia akan menginap sementara di asrama kampus saya, Universitas Negeri Kalmyk, sebelum bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Moskow keesokan harinya. Sekitar jam 23.30 saya keluar dari asrama. Sesuai jadwal, dia akan tiba di Elista jam 1 pagi. Artinya, saya punya waktu sekitar 90 menit untuk jalan kaki dan menunggunya di terminal bus.

Ketika di Indonesia, banyak orang yang melarang saya untuk keluar di malam hari. Mereka bilang, angin malam itu jahat, ga bagus untuk kesehatan. Dan ternyata mereka betul. Bahkan di Rusia lebih jahat. Sekalipun saya sudah berusaha membungkus seluruh anggota badan serapat mungkin dan menutup celah untuk mereka masuk, angin malam di Rusia masih tetap berasa sampai ke tulang. Ternyata selain jahat, angin malam di Rusia sangat pintar mencari peluang untuk membuat badan menggigil. Maka tepatlah rasanya saya memanggil mereka dengan sebutan “keparat yang jenius”.🙂

Sebenarnya, sepanjang hari itu cuaca sangat bagus untuk ukuran bulan Januari, hanya berada di antara angka 3-5 derajat celcius. Salju sudah empat belas hari tidak turun. Namun, angin yang berhembus kencang menjadikan kondisinya kurang lebih sama dengan keadaan di bawah titik beku. Setelah berjalan lebih kurang 15 menit, saya pun tiba di terminal bus. Kedatangan saya disambut hangat polisi yang berjaga di terminal. Dia memberikan hormatnya dan tanpa buang-buang waktu langsung bertanya seakan-akan dia sudah tahu kalau saya mau menjawab pertanyaannya. “Ваш документ, пожалуйста!”. Ahh, ternyata dia benar, saya memang menjawab pertanyaannya dan tak lupa menunjukkan paspor saya.

“Ada keperluan apa malam-malam ke terminal bus?,” si polisi itu mengharapkan jawaban dari saya lagi.

“Kami mau menjemput teman, dari Krasnodar,” dan saya memang menjawab pertanyaannya.

“Siapa namanya?,” si polisi belum bosan.

“Rifky,” saya mulai bosan.

“Mari ikut saya,” pungkas si polisi dengan harapan saya mengikutinya. Ternyata dia benar lagi, saya memang berjalan mengikutinya. Sayup-sayup saya mendengar suara kentut yang berbunyi, “Waduh, gue gak bawa duit.” Tak hanya sekali, kentut itu berbunyi dua kali. Yang kedua berbunyi, “Yah, gue juga gak bawa duit”, kira-kira seperti itulah bunyi kedua kentut tersebut.

Saya pun diajak berkunjung ke kantornya. Di dalam, sudah ada tiga temannya yang sedang menunggu. Mungkin menunggu giliran untuk bertanya. Benar saja, mereka juga ikut bertanya. Antara rasa takut dan tenang yang berkembang menjadi gelisah, saya menduga-duga pertanyaan yang akan mereka ajukan. Maklum, bahasa Rusia saya belum sebagus teman-teman yang lain. Saya pun memperhatikan sekeliling kantor tersebut, sangat bersih dan rapih jika dibandingkan dengan kantor polisi Rusia yang sering digambarkan film-film Hollywood. Di dindingnya terpampang banyak wajah-wajah khas selatan Rusia sedang menenteng AK, yang tentu saja sedang mereka cari. Wajah saya tidak ada. Saya hanya mengirimkan foto untuk daftar ulang di kampus, bukan ke mereka.

Benar dugaan saya, mereka juga ikut-ikutan bertanya seperti temannya yang menyambut saya di depan terminal.

“Ada keperluan apa malam-malam ke terminal bus?,” sangat tidak kreatif, dia mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakan temannya. Bisa kan dia mencari pertanyaan lain, misalnya, “Tadi teman saya sudah nanya apa saja?.” “Ух, Ты!”

“Saya mahasiswa KalmGU, mau menjemput teman saya dari Krasnodar.”

“Anda dari Indonesia? Anda merokok? Memakai narkoba?”, dia mulai ingin tahu diri saya lebih jauh.

“Tidak,” jawab saya tetap dengan nada datar namun dengan hati yang gelisah.

Sebelum melanjutkan pertanyaan untuk mengenal saya lebih jauh, dia menyempatkan diri untuk memeriksa paspor saya, dan menulis beberapa bait kata di buku piketnya. 

“Kalau di Indonesia, apa hukuman untuk pemakai narkoba?.” Ahh, dia tidak hanya ingin mengenal saya lebih jauh, tapi juga negara saya. Setelah sempat terdiam sejenak antara mengerti atau tidak pertanyaannya. Saya menjawab singkat :

“Dipenjara.”

Polisi menutup percakapan malam itu dengan ucapan “Молодец!”. Seketika itu juga saya dilanda kebingungan, karena yang saya tahu bahwa ungkapan itu biasa digunakan orang Rusia untuk memuji orang lain yang melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Kebingungan yang baru saya dapatkan jawabannya sehari kemudian, dari seorang staf lokal Kedubes RI di Moskow. Dalam sebuah pertemuan sederhana di apartemennya, dia menjelaskan tentang karakteristik polisi Rusia.

“Begitulah cara polisi yang iseng untuk mendapatkan uang. Pertama, dia bertanya apakah kita merokok. Jika kita menjawab iya, bisa langsung dituduh memakai narkoba, dan kalau kita tidak pandai berargumen, itu akan menjadi celah untuk mereka mendapatkan beberapa lembar Rubel dari kantong kita. Jika tak ingin tenggelam, pandai-pandailah berenang.”🙂

Elista, 31 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s