Tentang Ngerasa Sukses Itu

Dua hari lalu, saya mendapat pesan di salah satu jejaring sosial. Pesan itu datang dari teman SMP saya dulu di Jakarta. Rumahnya juga tidak jauh dari tempat di mana saya tinggal. Bunyi pesannya seperti ini : “Boy, gimana kabarnya nih? Ajak-ajak dong, kalo deh ngerasa sukses.”

Memerlukan waktu lama untuk saya membalas pesan itu. Kira-kira seratus dua puluh menit. Sejujurnya saya bingung memilih kata-kata yang harus dituliskan sekaligus kesulitan mencerna kata-kata yang dimaksud teman saya. Terutama pada kalimat “kalo deh ngerasa sukses”.

Sampai hari ini pun saya meyakini bahwa definisi sukses bagi setiap orang tidaklah sama. Tapi, saya tidak mau sibuk-sibuk membahas makna sukses untuk orang lain. Toh, saya punya pemahaman sendiri tentang hal itu. Ketika dahulu di sekolah dapat nilai bagus, saya pahami itu sebagai kesuksesan. Bisa menang tawuran lawan anak sekolah lain juga merupakan kesuksesan.

Mencapai Mahameru dua kali, itu juga kesuksesan. Mendapatkan pekerjaan tak lama setelah lulus kuliah, saya kategorikan itu sebagai kesuksesan. Bisa menyisihkan gaji walaupun tak seberapa untuk orang tua, hingga akhirnya saya bisa ke Rusia seperti saat ini, itu semua adalah bentuk kesuksesan yang saya pahami.

Di sinilah letak missing linknya. Saya memahami kesuksesan tak lebih dari itu, sangat sederhana. Sedangkan saya tidak tahu di mana tempat saya bisa mengikutsertakan kawan kecil saya yang baik ini. Atau mungkin Mungkin dia melihat foto-foto saya di jejaring sosial dan menganggap saya bisa ke luar negeri karena saya anak yang punya banyak uang?. Ahh, saya tidak mau mengira-ngira lagi.

Entahlah, mungkin perasaan saya saja yang sedang tidak enak hati. Saya terlempar jauh lagi ke masa-masa di SMP dan SMA dulu. Di mana teman-teman saya sudah bisa bawa sepeda motor sendiri. Bahkan sepeda saja pun waktu itu saya tak punya. Minta belikan motor? Tak tega saya melakukan itu. Kejam rasanya. Lebih baik saya sabar dan memahami kondisi yang ada. Pada akhirnya saya sukses untuk bersabar.

Saya pun mengingat-ingat lagi, tepatnya hampir 6 tahun lalu ketika saya mau masuk kuliah. Saat itu entah mengapa dengan sangat percaya dirinya saya memilih bidang yang sama sekali tidak terkenal oleh banyak orang, termasuk saya sendiri. Padahal, pada saat yang bersamaan saya punya peluang untuk melanjutkan sekolah ke tempat yang lebih menjanjikan. Saat itu keinginan kuliah saya bisa jadi hanya tinggal keinginan. Saya paham, kedua orang tua saya tidak mungkin punya uang untuk menuruti keinginan saya kuliah, apalagi dengan pilihan yang sangat tidak menjanjikan untuk mendapatkan profesi yang layak. Usaha mereka sangat keras untuk meyakinkan bahwa saya tidak salah pilih atau tidak sedang terganggu kewarasannya.

Dan saya memang berbeda dari saudara-saudara yang lainnya, sangat tidak bisa ditebak. Saya lebih memilih pilihan seolah-olah anti kemapanan. Padahal saya sama sekali bukan tipe orang seperti itu. Saya hanya seorang dewasa yang punya pilihan dan meyakini pilihan itu. Hal ini pula yang menjadikan saya harus meyakinkan orang-orang tentang pilihan saya, terutama orang-orang yang selanjutnya berperan sebagai pemegang kendali bisa atau tidaknya saya kuliah. Bisa dikatakan kalau saya sukses meyakinkan mereka. Dan tak lupa saya berdo’a, semoga Allah, Tuhan saya dan Tuhan anda selalu memberikan kebaikan untuk mereka yang baik dan peduli dengan pendidikan saya.

Saya teringat hampir dua tahun lalu, pasca lulus kuliah. Anda tahu kawan, apa yang saya lakukan setelah lulus kuliah. Saya tidak langsung dapat kerja seperti teman-teman lainnya. Mungkin ramalan orang-orang yang dahulu benar adanya. Dan akhirnya saya lebih memilih naik gunung. Ke Mahameru, untuk kedua kali tepatnya. Saya sukses lagi. Malah, beberapa hari setelahnya saya justru mendapatkan pekerjaan yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Jujur, saya tidak pernah berpikir berapa yang akan saya dapat untuk pekerjaan ini. Saya bukan orang yang sibuk memikirkan berapa. Bagi saya, apa yang saya lakukan, dan itu layak, itulah yang akan saya ambil. Wawancara resmi pertama saya pasca kuliah itu benar-benar tak biasa, dan bagi saya unik. Pewawancara yang kemudian menjadi manajer saya itu tak banyak bertanya, hanya beliau perlu tahu apakah saya siap untuk pekerjaan ini. Kami sama sekali tidak membicarakan masalah gaji. Bahkan saya tidak tahu berapa gaji yang akan saya terima sampai bulan berikutnya ketika memeriksa perubahan saldo di rekening saya. Mungkin bagi sebagian orang itu tak layak bagi seorang lulusan universitas ternama dengan nilai yang bisa dibilang termasuk tinggi. Tapi, itu lebih dari cukup untuk saya. Saya berpenghasilan. Dan bagi saya itu sukses lagi.

Kemudian, kurang lebih setahun lalu ketika saya memutuskan untuk keluar dari tempat kerja yang banyak memberikan saya kenyamanan. Lagi-lagi saya bertaruh dengan ketidakpastian jalan di depan dengan mendaftar program beasiswa ke Rusia. Mau apa sekolah lagi? Udah dapat kerja kan enak?. Saya memutuskan berhenti bekerja padahal belum tentu saya dapat lulus dan dapet beasiswa. Anda tahu bagaimana kondisi saya saat itu? Galau pisan. Rentang waktu 6 bulan menjelang pengumuman saya paksakan untuk membuka seluas-luasnya jejaring yang sudah saya bangun sejak lama. Secara logika, beasiswa yang akan saya terima nantinya hanya untuk kuliah saja, sementara biaya lainnya harus saya tanggung sendiri.

Saya hubungi perusahaan-perusahaan yang memungkinkan untuk memberikan bantuan dana, bahkan untuk sekedar tiket pesawat. Dalam masa penantian itu, saya juga berusaha untuk mencari profesi baru lagi untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Masa iya, sarjana pengangguran terus dan hidupnya disuapi terus. Saya tidak bisa terus menerus seperti itu. Pilihan saya waktu itu adalah menjadi wartawan. Sempat beberapa kali menjalani wawancara dengan perusahaan media ternama, tapi hasilnya tak sesuai harapan. Digantung tanpa pasti, dan ada juga yang akhirnya saya tolak.

Bisa jadi itu adalah salah satu periode paling sulit selama hidup saya dari yang pernah saya rasakan. Merasa menjadi tak berguna, dan kadang terlunta-lunta tak tentu arah. Pergi ke luar rumah, seolah-olah seorang karyawan, padahal hanya sibuk melihat-lihat kota Jakarta dan membeli koran terbitan hari Sabtu dan Minggu hanya untuk melihat halaman lowongan pekerjaan. Untungnya dalam beberapa hal saya masih beruntung. Sesekali beberapa teman menghubungi saya untuk membantu pekerjaannya dan apa yang saya dapat setelah itu tentunya sangat berguna untuk mencukupi kebutuhan hidup saya.

Bulan bulan menjelang Ramadhan tahun lalu, saya sudah mulai fokus untuk mencari sponsor untuk kuliah saya nantinya. Tahukah anda kawanku yang baik, lebih dari dua puluh proposal yang saya ajukan dan hanya 5 yang memberikan jawaban. Bahkan, mungkin karena sudah kecanduan, saya merasa senang mendapatkan jawaban meskipun itu sebuah penolakan. Silahkan dibayangkan sendiri. Dan mungkin saja saya hampir gila saat itu. Hingga akhirnya saya dapat jawaban positif dari dua perusahaan. Dalam hal ini, saya sukses lagi.

Menjelang keberangkatan, saya akhinya mendatangi sponsor utama yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pendidikan warga negaranya. Siapa lagi kalau bukan pemerintah yang diwakili Kementerian yang mengurusi pendidikan itu. Kabarnya, ada program beasiswa di sana untuk mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Saya sangat berharap besar saat itu. Tapi, setelah beberapa kali bolak balik tak tentu arah, saya malah mendapatkan kenyataan bahwa beasiswa itu dialihkan ke lembaga lain. Dan hampir saja saya putus asa. Betapa sulitnya situasi saat itu. Serba tak pasti, namun penuh kejutan.

Dan benar saja, akhirnya saya dapat kepastian dapat beasiswa itu setelah sampai di sini. Saya lupa tepatnya, kalau tidak salah awal Januari lalu saya tanda tangan kontraknya untuk bantuan biaya hidup saya selama 2 tahun. Tak bisa saya pungkiri, saya sangat bersyukur untuk nikmat ini. Tentu saja, perjuangan saya berhasil dan sukses. Meski terkadang ada nyamuk-nyamuk yang terbang di kanan dan kiri kuping saya yang iri dan hanya melihat bahwa begitu enaknya saya saat ini. Padahal mereka mungkin saja bisa menangis dan bunuh diri kalau tahu perjuangan saya untuk bisa dapat itu. Ahh, mungkin terlalu berlebihan. Tapi tak apalah sesekali. Toh tak ada nama yang disebutkan.🙂

Akhir cerita hari ini, saya masih dilanda kebingungan dengan definisi sukses bagi kawan saya itu. Mudah-mudahan saya segera menemukan jawabnya. Terkadang memang sebagian orang lebih melihat hasil daripada proses.

Elista, 23 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s