Ruang Kelas, Aku dan Pemuda Arab

Pagi hari, masih di awal tahun ajaran baru. Hari ini adalah hari Senin di minggu pertama bulan O. Aku masuk kelas, ketika dosen kami sudah memulai. Sekitar lima menit. Kelasku terletak di lantai empat di dalam gedung tua bersejarah dengan beberapa pemanas ruangan yang sudah terlihat usang. Meskipun telah beberapa kali direnovasi dan dilakukan penambahan, gedung ini, yang jika dari luar terlihat seperti museum, masih terlihat kokoh dan tidak kehilangan kekhasan arsitekturnya. Sejauh pengamatanku, hampir tidak ada bagian-bagian yang diabaikan, hasil dari perencanaan dan pembangunan sepenuh hati di zaman Soviet.

Seperti biasa, kuliahku akan berlangsung hingga waktu makan siang. Dari sekitar tujuh belas orang yang terdaftar sebagai mahasiswa di semester ini, hanya lima orang yang hadir di kelas. Artyom, pemuda Rusia asli dari wilayah Kirov, berkarakter kaku namun cerdas dan bercita-cita menjadi dosen. Seingatku, laki-laki Rusia ini tidak pernah berbasa-basi. Ada juga ibu muda dengan dua anak bernama Lina, wanita Rusia keturunan Yahudi, terlihat dari sikap keras kepala, banyak bicara, mendominasi dalam perdebatan dan menganggap bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Tipikal sekali, dan tentu saja kalian pasti akrab dengan sifat itu.

Kemudian, seorang wanita Tatar berambut hitam, panjang dan ikal. Namanya Linara. Dia menghias wajahnya dengan tawa renyah dan senyum yang manis. Perawakannya mungil serta sikapnya cenderung pendiam dan tenang tanpa banyak bicara, seolah hidup di kutub berbeda dengan Liza. Selebihnya adalah perwakilan Asia. Aku dan seorang Arab yang ketika memandang wajahnya kalian pasti pernah melihat mereka ketika sedang melewati wilayah beriklim dingin, di wilayah P. Pria itu bernama Sufyan, berasal dari Timur Tengah yang ketika cerita ini ditulis, negaranya sedang dilanda perang di mana dua kekuatan besar terlibat di sana dan seolah-olah menjadi perang mereka.

Sufyan pernah bercerita kepadaku, bahwa dia dan keluarganya beruntung, karena wilayah tempat mereka tinggal jauh lebih aman bahkan hampir tidak tersentuh oleh deru pesawat tempur yang berputar di udara serta tembakan dari tank dan senjata berat pihak-pihak yang bertikai. Bayangkan, dia pun masih merasa beruntung di tengah negaranya yang menuju kehancuran. Pemuda yang tabah nan syahdu.

Tema kuliah hari ini adalah tentang sejarah kota Kazan di awal abad XX. Dengan penuh semangat, dosen kami hari itu, Anna Aminova, yang mampu berbicara nyaris tanpa henti selama sembilan puluh menit, bercerita (yang kemudian baru kutahu isinya di asrama setelah memutar alat perekam suara) tentang kehidupan sehari-hari masyarakat, arsitektur kota, serta pembagian wilayah pemukiman di pusat kota sesuai dengan strata sosial. Kalian perlu tahu kawan, dosen-dosen yang mengisi perkuliahan di sini lebih senang menyampaikan kuliahnya dengan model ceramah, kecuali terkadang dipotong oleh Lina yang tidak sependapat dan kemudian mendebat (ahh, lagi-lagi Lina).

Mereka mampu berbicara dalam waktu lama tanpa henti dan dengan irama yang cepat, persis seperti beberapa wakil rakyat bergelar tinggi dan terhormat yang berebut bicara dengan saling berteriak kemudian menghujat dan memperlihatkan ketololannya dengan bahasa tinggi tak tentu arah di sidang paripurna yang katanya untuk kesejahteraan rakyat. Bedanya, semua dosen-dosen di sini berbicara dengan muatan ilmu satu semester yang seringkali dirangkum dalam satu atau dua perkuliahan. Bahkan, semua dosen bergelar profesor yang mengajarku di sini, jejak hidup serta karya-karyanya sangat mudah ditemui dan sering dijadikan rujukan penulisan ilmiah. Tentang hal ini, aku pernah berkenalan dengan seseorang, yang aku sendiri tidak tahu dia pernah sekolah di mana dan bagaimana dia bisa mendapatkan gelar itu. Karya yang aku pernah lihat pun hanya berupa dua buah buku panduan kuliah yang dijual di kelas serta disertasinya. Tak lebih. Lain waktu, kuceritakan tentang dia, kawan.

Kembali ke cerita di kelas. Aku memilih duduk di kursi paling depan sudut sebelah kanan, dengan harapan bisa lebih jelas terdengar dan memahami apa yang akan disampaikan. Meski sesungguhnya aku tidak terlalu mengerti tentang isi kuliah hari itu. Mungkin, hanya sekitar tiga puluh persen dari seluruh isi perkuliahan yang aku bisa pahami secara sempurna. Sisanya, seperti kertas putih dan di sampingnya terletak pena yang isinya telah habis, sehingga di atas kertas itu tidak pernah tertulis apapun.

Sebagian besar waktu di kuliah hari itu digunakan tanganku untuk menggaruk kulit kepala, sekalipun tidak gatal, dan sesekali menunduk menahan kantuk. Penguasaan bahasa asing ilmiah yang lemah masih menjadi kendala dan seolah-olah berupa tembok yang menantang untuk dirobohkan. Toh, perlahan-lahan aku mulai melubangi tembok itu. Aku harap kalian bisa memakluminya, pembaca yang budiman.

Lain halnya dengan Sufyan, pemuda Arab yang tabah nan syahdu itu. Penguasan bahasanya, jika boleh aku menilai, sama sekali tidak lebih baik dariku. Ia baru saja selesai kelas persiapan bahasa beberapa bulan yang lalu. Pun, di setiap kuliah, termasuk hari itu, Sufyan lebih memilih duduk berselang dua bangku dibelakangku. Entah apa yang ada di pikirannya. Selama Anna Aminova menyampaikan ceramahnya, yang kudengar Sufyan beberapa kali bersin. Kusempatkan menghitungnya, tepat lima kali.

Kepalanya pun tidak pernah mengangguk seperti halnya seseorang yang mengerti dan mendapatkan pengetahuan baru. Karena memang hampir seluruh waktu di kelas ia manfaatkan untuk menunduk. Kutaksir, Sufyan sedang berdo’a meminta agar Tuhan mempercepat jalannya waktu hingga ia bisa pulang dan menegakkan kepalanya. Malang benar nasib sahabatku ini.

Kazan, 18 Desember 2014

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s