Lagi-lagi FPI!

Jujur, saya baru pertama kali melihat video ini karena iseng di sela menggunungnya tugas-tugas kuliah dan sedang membaca berita di beberapa media massa tentang organisasi ini. Saya mulai menelusuri berita-berita tentang FPI mulai dari pembentukannya, kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, hingga terbentuknya stigma negatif di masyarakat (pernah juga dikatakan sebagai organisasi bajingan oleh salah satu mantan presiden), yang saya sebut sebagai hasil “kerajinan tangan” media-media tertentu. Yang terbaru tentunya adalah sikap FPI terhadap sistem kepemimpinan di kampung saya, Jakarta, serta usaha pihak-pihak yang ingin melarang kegiatan bahkan sampai membubarkan FPI. Sekali lagi, saya harus jujur bahwa saya terhasut juga oleh tulisan dan liputan para wartawan tersebut.

Penelusuran saya akhirnya sampai pada dialog antara Jaya Suprana dengan Habib Rizieq dalam video ini. Di sini, saya melihat sosok yang berbeda dari laki-laki yang digambarkan provokator, intoleran, modal otot dan menjadi musuh utama orang-orang yang dalam bahasa saya, sesungguhnya mereka adalah “Intoleran Tulen”. Saya melihat kejujuran penyampaian (bahkan disajikan dengan data) dan pemahaman terhadap proses penerapan dakwah Islam yang sesungguhnya (lisan, tangan dan hati). Pencitraan (kah)? Sayangnya, saya tidak sependapat. Terkadang saya berpikir, seharusnya masyarakat, apalagi mungkin dia seorang sarjana, ilmuwan, doktor, profesor atau sebut saja orang-orang berijazah tinggi (yang wajib melakukan riset dari awal hingga muncul sebuah tesis), hanya melihat FPI bahkan umat Islam hari ini melalui pemberitaan-pemberitaan di media massa, seharusnya mereka keluar dari rumahnya sambil membawa ijazah atau penghargaan-penghargaan lainnya, kemudian diterawang di bawah sinar matahari. Saya khawatir, di ijazah atau penghargaan-penghargaan itu ada kesalahan. Mungkin nama yang tertulis di sana bukan namanya, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Ahh, lagi-lagi saya seperti diingatkan oleh kata-kata Pramoedya Ananta Toer di roman Bumi Manusia : “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”.

Kazan, 19.10.2014

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s