Makan Siang, Uzbek, dan Tajik

Akhir pekan ini, saya bangun dari tidur agak siang. Sekitar pukul 10. Setelah membersihkan diri, saya luangkan beberapa saat untuk melihat cuplikan pertandingan sepak bola Eropa yang berlangsung malam sebelumnya. Juventus hampir kalah. MU menang lawan Liverpool meski saya lebih terkagum dengan gol Benteke. Ronaldo terlihat semakin mengerikan. Dan Arsenal tetap seperti biasa. Lapar pun datang ketika saya sedang melihat umpan brilian Ozil kepada Walcott yang menghasilkan gol pertama untuk Arsenal. Saya ingat, masih ada nasi di dapur serta abon sapi yang saya bawa dari Jakarta.

Tahun ini saya pindah asrama. Sebelumnya saya tinggal di kamar yang disiapkan untuk satu orang di bangunan berlantai 5 dengan dapur yang dilengkapi lemari es dan hanya digunakan untuk 3-4 orang yang tinggal di kamar tersebut. Sangat nyaman untuk belajar atau sekedar membaca buku, dan untuk semua kenyamanan itu saya hanya membayar 360 rubel atau kurang lebih Rp.108.000 sebulan. Sangat terjangkau. Sementara tahun ini, saya berkesempatan untuk tinggal di dalam bangunan 12 lantai, tepat di depan asrama saya yang lama. Konsep kamar tidur dan dapur pun berbeda. Saya tinggal bersama 3 orang lainnya dalam satu kamar besar. Satu orang pemuda Uzbekistan yang seringkali semaunya, Nodir. Seorang warga negara Turki berperawakan tinggi besar yang kabarnya seorang petinju bernama Can. Dan wakil komunitas lokal, suku Tatar, mahasiswa sarjana semester akhir yang dipanggil Rauzil. Hikmahnya, ada lebih banyak kesempatan untuk bersosialisasi.

Saya pun beranjak ke dapur untuk memenuhi hak si perut yang minta dicukupkan. Di dapur ternyata sudah ada Nastya, wanita berwajah Rusia namun tinggal di Turkmenistan, sebuah negara kecil di Asia Tengah. Orthodox tulen. Ayahnya asli Rusia. Ibunya keturunan Ukraina. Wajahnya terlihat lebih mirip mayoritas wanita muda Rusia pada umumnya, menarik untuk dipandang dan jika tersenyum sering membuat lupa bahwa hari Ahad sudah berganti menjadi hari Senin. Di Kazan, dia belajar bahasa mandarin untuk menjadi penerjemah. Saya sempatkan menyapa dan bertanya kabarnya dalam bahasa mandarin sehingga memaksa saya untuk membongkar sedikit ingatan saya tentang pelajaran itu di SMA, meskipun yang saya ingat lebih banyak tentang kegemaran Laoshi menjewer kuping murid-muridnya yang sedikit atraktif hingga berubah menjadi merah. Jangan berprasangka buruk. Bukan, saya menyapanya dalam bahasa mandarin bukan untuk memancing kekaguman wanita itu. Saya memang sedang berusaha untuk belajar lagi, toh sang Naga memang sedang bangkit. Rencananya untuk bekal masa depan. Kalaupun saya berhasil membuatnya tersenyum, itu lain lagi ceritanya.

Tak lama, makanan saya pun siap, nasi hangat yang ditemani abon sapi beserta kacang atom. Ini adalah menu bintang lima di saat merantau dan jauh dari rumah. Saya pun berusaha mencairkan kebekuan dengan menawarkan Nastya makanan Indonesia itu. Katanya, rasanya enak. Tentu saja itu enak. Indonesia selalu juara dalam hal ini. Kami berbincang banyak hal di dapur, mulai dari kuliah saya yang tak kunjung dimulai sementara dia sudah memasuki minggu ketiga, hingga keisengan kami yang serupa, yaitu menebak asal seseorang hanya melalui wajah dan atau pakaiannya. Meskipun beberapa kali sering meleset, namun mayoritas tebakan kami juga tidak tepat.😀

Obrolan dilanjutkan dengan Nastya yang bercerita bahwa dia pernah mengira bahwa Nodir, teman satu kamar saya yang orang Uzbek itu, sebagai orang Tajik. Katanya, Nodir sangat tidak suka jika dikira seperti itu. Waktu pertama kali saya berkenalan dengan Nodir pun, dia terlihat enggan jika harus berbagi kamar orang Tajik. Sejak saat itu, mulai timbul rasa penasaran untuk mencari tahu penyebabnya. Dengan niat semata-mata untuk berlaku adil dalam melihat masalah, saya pun mulai mencari informasi tentang apa yang pernah dan sedang terjadi di antara kedua negara bertetangga di Asia Tengah yang kaya sejarah tersebut. Awalnya, karena keterbatasan pengetahuan, saya hanya mengira bahwa itu hanyalah perasaan kesukuan yang berlebihan di kalangan anak muda. Dan ternyata sejarah memang berkata lain.

Bisa dikatakan, hubungan antara kedua bangsa ini tidak terlalu baik. Suku Uzbek mendiami wilayah yang saat ini dikenal sebagai negara Uzbekistan, dengan salah salah satu kotanya yang sangat familiar di telinga sebagian masyarakat Indonesia, yaitu Bukhara, tempat tinggal seorang perawi hadits terkemuka dan perwakilan generasi keemasan Islam yang sangat cerdas, Imam Bukhari. Suku Uzbek merupakan saudara serumpun bangsa Turki. Sementara itu, suku Tajik, yang saya kira masih asing bagi beberapa orang Indonesia yang sangat terbelakang dalam urusan pengetahuan umum dan geografi, mendiami wilayah Tajikistan modern, dan memiliki garis keturunan serta kebudayaan yang lebih dekat dengan bangsa Persia.

Awal mula berkembangnya konflik antara suku Uzbek dan Tajik berkaitan erat dengan perebutan pengaruh politik dunia di abad pertengahan antara Kesultanan Ottoman yang berpusat di Istanbul dan Kekaisaran Persia yang berbasis di wilayah Iran sekarang. Beberapa kali pertempuran terjadi di antara dua imperium besar ini dan memberikan pengaruh besar kepada suku bangsa yang tinggal di dalam wilayahnya. Orang-orang Uzbek merupakan sahabat setia Kesultanan Ottoman. Sementara orang Tajik membantu Persia dengan latar belakang kesamaan budaya dan pandangan keagamaan. Meskipun dua dinasti yang sempat menguasai sebagian dunia itu sudah tumbang, ingatan konflik yang ada masih membekas bahkan sudah mendarah daging hingga memasuki abad modern.

Berlanjut ke masa ketika orang-orang Uzbek dan Tajik ditaklukkan oleh Kekaisaran Rusia yang tak lama kemudian juga tumbang dan digantikan sebuah negara besar bernama Uni Soviet. Dalam pandangan saya, konflik antar kedua bangsa di masa ini sedikit mereda karena memang sikap represif pemerintahan sosialis Soviet yang membutuhkan stabilitas politik untuk melawan dominasi Amerika Serikat. Namun, berkurangnya intensitas konflik ini hanya berlangsung sementara. Pasca pecahnya pemerintahan sosialis Soviet, ketegangan pun mulai muncul ke permukaan lagi, apalagi setelah berlangsungnya perang saudara yang cukup lama di Tajikistan. Selama perang tersebut, Uzbekistan, yang seperti halnya Tajikistan, juga baru merasakan kemerdekaan dari Soviet, turut campur dalam konflik dalam negeri Tajikistan. Hal ini menambahkan kebencian di antara kedua bangsa.

Sayang memang ketika melihat sejarah dua bangsa besar yang notabene bermayoritas muslim tersebut hampir sepenuhnya diwarnai konflik panjang dan menyelimuti pikiran serta cara pandang generasi mudanya seolah tak bisa hilang. Meskipun seringkali juga saya melihat kontingen kedua negara ini di masjid saling mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan erat, terlihat damai. Cocok dengan perkataan teman satu kamar saya yang lain, Can si agnostik dari Turki, semalam sebelumnya, sepulang dia merayakan ulang tahun temannya dalam keadaan sedikit mabuk. Selama kita hidup, kita harus berbuat baik kepada sesama manusia yang lain. Kita buat hidup kita penuh dengan kedamaian bukan kebencian. Ahh, diskusi saya malam sebelumnya memang lebih asyik, saya bisa bertukar pikiran dengan tanpa harus menyerang keyakinan masing-masing. Nanti saya ceritakan dialog itu. Sekarang, saya ingin menyelesaikan dulu tulisan ini.

Ketika saya sedang berbicara dengan Nastya, Nodir pun masuk ke dapur dan katanya dia sedang sakit karena dia baru pulang ke asrama jam 8 pagi. Katanya semalam sibuk dengan teman-teman wanitanya. Itu urusan dia, saya tak berniat ikut serta. Iseng, saya bertanya kepada Nodir, benarkah Nastya pernah mengira bahwa dia orang Tajik. Dan dia kembali terlihat tidak senang. Tidak, saya tidak bermaksud menyinggung SARA sedikitpun. Rasa ingin tahu saya yang terkadang meluap, membuat saya harus menelusuri penyebab suatu masalah dengan benar dan berhati-hati dalam menentukan kesimpulan sehingga mengharuskan saya untuk mencari tahu langsung dari sumbernya. Mungkin lewat jalan itu, saya dapat memberikan solusi terbaik. Mudah-mudahan mereka segera berbaikan. Dan yang agak melegakan, Nastya masih sempat tersenyum.

*Ditulis di musim gugur, di kota Kazan, 150915 dan di lantai 11 dengan jendela terbuka yang menghasilkan udara segar namun cukup dingin sehingga saya harus memakai baju hangat di dalam kamar.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s