Belajar dari Sejarah?

Sore itu, dari kumpulan bacaan yang terserak, masih tertulis kalimat brilian di buku dan halaman yang sama. Cerdas dan bernas.
 
“Sejarah telah memperlihatkan semua hal tentang kerakusan, kesombongan, kekejaman, keikhlasan, pengorbanan, dan daya juang dimana setiap orang dapat becermin. Namun, tampaknya manusia lebih bernafsu membuat sejarah ketimbang belajar dari sejarah.” (11 Patriot, Andrea Hirata)
 
Rangkaian kata yang selalu mengingatkan saya dengan sepak terjang Hitler dan Impiannya tentang Kekaisaran Ketiga di Perang Dunia II yang terlihat bernafsu membuat sejarah dengan menaklukkan Rusia. Namun, dia lupa bahwa lebih seabad sebelumnya, Napoleon Bonaparte, kaisar sekaligus jenderal Perancis yang brilian itu, harus kandas dan pulang menanggung malu bersama pasukannya ketika mencoba mengusik sang Beruang. Fase itu pula yang menandai awal keruntuhan Pasukan Besar Perancis sebelum penderitaan yang lebih menyakitkan lagi yang diberikan oleh Inggris dan koalisinya di Waterloo. Dan bagaimana nasib Hitler dan Impian-impiannya setelah menyerang Rusia? Tak jauh berbeda dengan Napoleon, hancur.
 
Dan saya, dari kalimat jenius dan fragmen sejarah itu, setidaknya, saya sendiri, harus sadar bahwa sudah saatnya kekuasaan asing yang melekat terlalu lama di bumi pertiwi untuk pergi karena jelas terbukti, kekayaan melimpah ruah yang mereka “curi” tak pernah benar-benar dinikmati oleh pemiliknya sendiri. Sudah saatnya anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa kepada bangsa ini dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya dengan sepenuhnya, hingga kita akan kesulitan mencari si Miskin dan berhak menerima.
 
Saya percaya, negara impian itu memang ada. Dan pasti ada, ketika kita mau melihat kembali sejarah penderitaan di masa lalu dan berusaha memperbaikinya untuk kegemilangan di waktu yang akan datang. Pertanyaan sederhana, Mau atau Tidak? Karena seperti kata orang bijak yang tidak pernah saya kenal namun kata-katanya selalu diulang milyaran orang, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.” Semoga apa yang sedang dilakukan saat ini sudah berada di jalurnya. Dan selama itu baik, saya pikir, wajib untuk didukung.
 
Ahh, naif sekali apa yang saya tulis dan pikirkan hari ini. Tapi setidaknya, sebagian kecil dari kita memang harus memelihara impian tentang bangsa yang sejahtera, tentang negara yang damai sentosa, dimana tidak ada lagi yang menderita di tanah dan lautan luas yang kaya. Karena tanpa impian-impian itu kita akan terus tunduk, kalah dan yang paling buruk, melihat Indonesia gulung tikar dan terkapar tak berdaya. Syaratnya, belajar dari sejarah, dan keinginan untuk mengubahnya.
 
Kazan, 28 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s