Lagi-lagi FPI!

Jujur, saya baru pertama kali melihat video ini karena iseng di sela menggunungnya tugas-tugas kuliah dan sedang membaca berita di beberapa media massa tentang organisasi ini. Saya mulai menelusuri berita-berita tentang FPI mulai dari pembentukannya, kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, hingga terbentuknya stigma negatif di masyarakat (pernah juga dikatakan sebagai organisasi bajingan oleh salah satu mantan presiden), yang saya sebut sebagai hasil “kerajinan tangan” media-media tertentu. Yang terbaru tentunya adalah sikap FPI terhadap sistem kepemimpinan di kampung saya, Jakarta, serta usaha pihak-pihak yang ingin melarang kegiatan bahkan sampai membubarkan FPI. Sekali lagi, saya harus jujur bahwa saya terhasut juga oleh tulisan dan liputan para wartawan tersebut.

Penelusuran saya akhirnya sampai pada dialog antara Jaya Suprana dengan Habib Rizieq dalam video ini. Di sini, saya melihat sosok yang berbeda dari laki-laki yang digambarkan provokator, intoleran, modal otot dan menjadi musuh utama orang-orang yang dalam bahasa saya, sesungguhnya mereka adalah “Intoleran Tulen”. Saya melihat kejujuran penyampaian (bahkan disajikan dengan data) dan pemahaman terhadap proses penerapan dakwah Islam yang sesungguhnya (lisan, tangan dan hati). Pencitraan (kah)? Sayangnya, saya tidak sependapat. Terkadang saya berpikir, seharusnya masyarakat, apalagi mungkin dia seorang sarjana, ilmuwan, doktor, profesor atau sebut saja orang-orang berijazah tinggi (yang wajib melakukan riset dari awal hingga muncul sebuah tesis), hanya melihat FPI bahkan umat Islam hari ini melalui pemberitaan-pemberitaan di media massa, seharusnya mereka keluar dari rumahnya sambil membawa ijazah atau penghargaan-penghargaan lainnya, kemudian diterawang di bawah sinar matahari. Saya khawatir, di ijazah atau penghargaan-penghargaan itu ada kesalahan. Mungkin nama yang tertulis di sana bukan namanya, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Ahh, lagi-lagi saya seperti diingatkan oleh kata-kata Pramoedya Ananta Toer di roman Bumi Manusia : “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”.

Kazan, 19.10.2014

Ruang Kelas, Aku dan Pemuda Arab

Pagi hari, masih di awal tahun ajaran baru. Hari ini adalah hari Senin di minggu pertama bulan O. Aku masuk kelas, ketika dosen kami sudah memulai. Sekitar lima menit. Kelasku terletak di lantai empat di dalam gedung tua bersejarah dengan beberapa pemanas ruangan yang sudah terlihat usang. Meskipun telah beberapa kali direnovasi dan dilakukan penambahan, gedung ini, yang jika dari luar terlihat seperti museum, masih terlihat kokoh dan tidak kehilangan kekhasan arsitekturnya. Sejauh pengamatanku, hampir tidak ada bagian-bagian yang diabaikan, hasil dari perencanaan dan pembangunan sepenuh hati di zaman Soviet.

Seperti biasa, kuliahku akan berlangsung hingga waktu makan siang. Dari sekitar tujuh belas orang yang terdaftar sebagai mahasiswa di semester ini, hanya lima orang yang hadir di kelas. Artyom, pemuda Rusia asli dari wilayah Kirov, berkarakter kaku namun cerdas dan bercita-cita menjadi dosen. Seingatku, laki-laki Rusia ini tidak pernah berbasa-basi. Ada juga ibu muda dengan dua anak bernama Lina, wanita Rusia keturunan Yahudi, terlihat dari sikap keras kepala, banyak bicara, mendominasi dalam perdebatan dan menganggap bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Tipikal sekali, dan tentu saja kalian pasti akrab dengan sifat itu.

Kemudian, seorang wanita Tatar berambut hitam, panjang dan ikal. Namanya Linara. Dia menghias wajahnya dengan tawa renyah dan senyum yang manis. Perawakannya mungil serta sikapnya cenderung pendiam dan tenang tanpa banyak bicara, seolah hidup di kutub berbeda dengan Liza. Selebihnya adalah perwakilan Asia. Aku dan seorang Arab yang ketika memandang wajahnya kalian pasti pernah melihat mereka ketika sedang melewati wilayah beriklim dingin, di wilayah P. Pria itu bernama Sufyan, berasal dari Timur Tengah yang ketika cerita ini ditulis, negaranya sedang dilanda perang di mana dua kekuatan besar terlibat di sana dan seolah-olah menjadi perang mereka.

Sufyan pernah bercerita kepadaku, bahwa dia dan keluarganya beruntung, karena wilayah tempat mereka tinggal jauh lebih aman bahkan hampir tidak tersentuh oleh deru pesawat tempur yang berputar di udara serta tembakan dari tank dan senjata berat pihak-pihak yang bertikai. Bayangkan, dia pun masih merasa beruntung di tengah negaranya yang menuju kehancuran. Pemuda yang tabah nan syahdu.

Tema kuliah hari ini adalah tentang sejarah kota Kazan di awal abad XX. Dengan penuh semangat, dosen kami hari itu, Anna Aminova, yang mampu berbicara nyaris tanpa henti selama sembilan puluh menit, bercerita (yang kemudian baru kutahu isinya di asrama setelah memutar alat perekam suara) tentang kehidupan sehari-hari masyarakat, arsitektur kota, serta pembagian wilayah pemukiman di pusat kota sesuai dengan strata sosial. Kalian perlu tahu kawan, dosen-dosen yang mengisi perkuliahan di sini lebih senang menyampaikan kuliahnya dengan model ceramah, kecuali terkadang dipotong oleh Lina yang tidak sependapat dan kemudian mendebat (ahh, lagi-lagi Lina).

Mereka mampu berbicara dalam waktu lama tanpa henti dan dengan irama yang cepat, persis seperti beberapa wakil rakyat bergelar tinggi dan terhormat yang berebut bicara dengan saling berteriak kemudian menghujat dan memperlihatkan ketololannya dengan bahasa tinggi tak tentu arah di sidang paripurna yang katanya untuk kesejahteraan rakyat. Bedanya, semua dosen-dosen di sini berbicara dengan muatan ilmu satu semester yang seringkali dirangkum dalam satu atau dua perkuliahan. Bahkan, semua dosen bergelar profesor yang mengajarku di sini, jejak hidup serta karya-karyanya sangat mudah ditemui dan sering dijadikan rujukan penulisan ilmiah. Tentang hal ini, aku pernah berkenalan dengan seseorang, yang aku sendiri tidak tahu dia pernah sekolah di mana dan bagaimana dia bisa mendapatkan gelar itu. Karya yang aku pernah lihat pun hanya berupa dua buah buku panduan kuliah yang dijual di kelas serta disertasinya. Tak lebih. Lain waktu, kuceritakan tentang dia, kawan.

Kembali ke cerita di kelas. Aku memilih duduk di kursi paling depan sudut sebelah kanan, dengan harapan bisa lebih jelas terdengar dan memahami apa yang akan disampaikan. Meski sesungguhnya aku tidak terlalu mengerti tentang isi kuliah hari itu. Mungkin, hanya sekitar tiga puluh persen dari seluruh isi perkuliahan yang aku bisa pahami secara sempurna. Sisanya, seperti kertas putih dan di sampingnya terletak pena yang isinya telah habis, sehingga di atas kertas itu tidak pernah tertulis apapun.

Sebagian besar waktu di kuliah hari itu digunakan tanganku untuk menggaruk kulit kepala, sekalipun tidak gatal, dan sesekali menunduk menahan kantuk. Penguasaan bahasa asing ilmiah yang lemah masih menjadi kendala dan seolah-olah berupa tembok yang menantang untuk dirobohkan. Toh, perlahan-lahan aku mulai melubangi tembok itu. Aku harap kalian bisa memakluminya, pembaca yang budiman.

Lain halnya dengan Sufyan, pemuda Arab yang tabah nan syahdu itu. Penguasan bahasanya, jika boleh aku menilai, sama sekali tidak lebih baik dariku. Ia baru saja selesai kelas persiapan bahasa beberapa bulan yang lalu. Pun, di setiap kuliah, termasuk hari itu, Sufyan lebih memilih duduk berselang dua bangku dibelakangku. Entah apa yang ada di pikirannya. Selama Anna Aminova menyampaikan ceramahnya, yang kudengar Sufyan beberapa kali bersin. Kusempatkan menghitungnya, tepat lima kali.

Kepalanya pun tidak pernah mengangguk seperti halnya seseorang yang mengerti dan mendapatkan pengetahuan baru. Karena memang hampir seluruh waktu di kelas ia manfaatkan untuk menunduk. Kutaksir, Sufyan sedang berdo’a meminta agar Tuhan mempercepat jalannya waktu hingga ia bisa pulang dan menegakkan kepalanya. Malang benar nasib sahabatku ini.

Kazan, 18 Desember 2014

Rakyat

Pernah kau datang pada kami,
Saat itu kau katakan,
Kami adalah kawan,
Sedia bergandengan tangan,
Pemberhentian ketika lelah berjalan,
Juga sandaran harapan.

Belum lama waktu itu berlalu,
Semua berubah begitu cepatnya,
Kini kau anggap kami tak lebih dari beban,
Hanya menyusahkan.

Padahal kau tahu,
Itu bukan salah kami,
Kami hanya rakyat,
Yang tak pernah lelah berkeringat,
Sejak diperintah para Tuan Putih,
Hingga dijajah saudara sendiri,

Tak bisakah kau membiarkan kami mengecap kebahagiaan?

Sejarah mengajarkan kami untuk tidak menangis,
Untuk tidak meminta dan mengiba,
Dan benar kata ayah kami :
Lawan!

Kazan, 18.11.2014

Kelu

Pandanganku melayang ke sekeliling ruangan,
Gedung tua yang menemaniku mempelajari masa lalu,
Ada tujuh orang hari ini,
Aku dan seorang profesor paruh baya
yang berusaha mati-matian melawan usia,
Kawan-kawanku yang lahir di negeri ini,
Serta pemuda Arab berwajah syahdu
Yang negerinya sedang hancur karena perang.

Sungguh, aku tak menemukan diriku di tempat ini ,
Aku pergi jauh,
Jauh melebihi khayalanku,
Tentang dunia yang belum pernah kulihat.

Bibirku kelu,
Tak mampu kuucapkan sepatah kata pun,
Bahkan hanya untuk memanggil diriku yang telah menjauh,
Aku tak di sini.

Kazan, 12.11.2014

Tentang Ngerasa Sukses Itu

Dua hari lalu, saya mendapat pesan di salah satu jejaring sosial. Pesan itu datang dari teman SMP saya dulu di Jakarta. Rumahnya juga tidak jauh dari tempat di mana saya tinggal. Bunyi pesannya seperti ini : “Boy, gimana kabarnya nih? Ajak-ajak dong, kalo deh ngerasa sukses.”

Memerlukan waktu lama untuk saya membalas pesan itu. Kira-kira seratus dua puluh menit. Sejujurnya saya bingung memilih kata-kata yang harus dituliskan sekaligus kesulitan mencerna kata-kata yang dimaksud teman saya. Terutama pada kalimat “kalo deh ngerasa sukses”.

Sampai hari ini pun saya meyakini bahwa definisi sukses bagi setiap orang tidaklah sama. Tapi, saya tidak mau sibuk-sibuk membahas makna sukses untuk orang lain. Toh, saya punya pemahaman sendiri tentang hal itu. Ketika dahulu di sekolah dapat nilai bagus, saya pahami itu sebagai kesuksesan. Bisa menang tawuran lawan anak sekolah lain juga merupakan kesuksesan.

Mencapai Mahameru dua kali, itu juga kesuksesan. Mendapatkan pekerjaan tak lama setelah lulus kuliah, saya kategorikan itu sebagai kesuksesan. Bisa menyisihkan gaji walaupun tak seberapa untuk orang tua, hingga akhirnya saya bisa ke Rusia seperti saat ini, itu semua adalah bentuk kesuksesan yang saya pahami.

Di sinilah letak missing linknya. Saya memahami kesuksesan tak lebih dari itu, sangat sederhana. Sedangkan saya tidak tahu di mana tempat saya bisa mengikutsertakan kawan kecil saya yang baik ini. Atau mungkin Mungkin dia melihat foto-foto saya di jejaring sosial dan menganggap saya bisa ke luar negeri karena saya anak yang punya banyak uang?. Ahh, saya tidak mau mengira-ngira lagi.

Entahlah, mungkin perasaan saya saja yang sedang tidak enak hati. Saya terlempar jauh lagi ke masa-masa di SMP dan SMA dulu. Di mana teman-teman saya sudah bisa bawa sepeda motor sendiri. Bahkan sepeda saja pun waktu itu saya tak punya. Minta belikan motor? Tak tega saya melakukan itu. Kejam rasanya. Lebih baik saya sabar dan memahami kondisi yang ada. Pada akhirnya saya sukses untuk bersabar.

Saya pun mengingat-ingat lagi, tepatnya hampir 6 tahun lalu ketika saya mau masuk kuliah. Saat itu entah mengapa dengan sangat percaya dirinya saya memilih bidang yang sama sekali tidak terkenal oleh banyak orang, termasuk saya sendiri. Padahal, pada saat yang bersamaan saya punya peluang untuk melanjutkan sekolah ke tempat yang lebih menjanjikan. Saat itu keinginan kuliah saya bisa jadi hanya tinggal keinginan. Saya paham, kedua orang tua saya tidak mungkin punya uang untuk menuruti keinginan saya kuliah, apalagi dengan pilihan yang sangat tidak menjanjikan untuk mendapatkan profesi yang layak. Usaha mereka sangat keras untuk meyakinkan bahwa saya tidak salah pilih atau tidak sedang terganggu kewarasannya.

Dan saya memang berbeda dari saudara-saudara yang lainnya, sangat tidak bisa ditebak. Saya lebih memilih pilihan seolah-olah anti kemapanan. Padahal saya sama sekali bukan tipe orang seperti itu. Saya hanya seorang dewasa yang punya pilihan dan meyakini pilihan itu. Hal ini pula yang menjadikan saya harus meyakinkan orang-orang tentang pilihan saya, terutama orang-orang yang selanjutnya berperan sebagai pemegang kendali bisa atau tidaknya saya kuliah. Bisa dikatakan kalau saya sukses meyakinkan mereka. Dan tak lupa saya berdo’a, semoga Allah, Tuhan saya dan Tuhan anda selalu memberikan kebaikan untuk mereka yang baik dan peduli dengan pendidikan saya. 

Saya teringat hampir dua tahun lalu, pasca lulus kuliah. Anda tahu kawan, apa yang saya lakukan setelah lulus kuliah. Saya tidak langsung dapat kerja seperti teman-teman lainnya. Mungkin ramalan orang-orang yang dahulu benar adanya. Dan akhirnya saya lebih memilih naik gunung. Ke Mahameru, untuk kedua kali tepatnya. Saya sukses lagi. Malah, beberapa hari setelahnya saya justru mendapatkan pekerjaan yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Jujur, saya tidak pernah berpikir berapa yang akan saya dapat untuk pekerjaan ini. Saya bukan orang yang sibuk memikirkan berapa. Bagi saya, apa yang saya lakukan, dan itu layak, itulah yang akan saya ambil. Wawancara resmi pertama saya pasca kuliah itu benar-benar tak biasa, dan bagi saya unik. Pewawancara yang kemudian menjadi manajer saya itu tak banyak bertanya, hanya beliau perlu tahu apakah saya siap untuk pekerjaan ini. Kami sama sekali tidak membicarakan masalah gaji. Bahkan saya tidak tahu berapa gaji yang akan saya terima sampai bulan berikutnya ketika memeriksa perubahan saldo di rekening saya. Mungkin bagi sebagian orang itu tak layak bagi seorang lulusan universitas ternama dengan nilai yang bisa dibilang termasuk tinggi. Tapi, itu lebih dari cukup untuk saya. Saya berpenghasilan. Dan bagi saya itu sukses lagi.

Kemudian, kurang lebih setahun lalu ketika saya memutuskan untuk keluar dari tempat kerja yang banyak memberikan saya kenyamanan. Lagi-lagi saya bertaruh dengan ketidakpastian jalan di depan dengan mendaftar program beasiswa ke Rusia. Mau apa sekolah lagi? Udah dapat kerja kan enak?. Saya memutuskan berhenti bekerja padahal belum tentu saya dapat lulus dan dapet beasiswa. Anda tahu bagaimana kondisi saya saat itu? Galau pisan. Rentang waktu 6 bulan menjelang pengumuman saya paksakan untuk membuka seluas-luasnya jejaring yang sudah saya bangun sejak lama. Secara logika, beasiswa yang akan saya terima nantinya hanya untuk kuliah saja, sementara biaya lainnya harus saya tanggung sendiri.

Saya hubungi perusahaan-perusahaan yang memungkinkan untuk memberikan bantuan dana, bahkan untuk sekedar tiket pesawat. Dalam masa penantian itu, saya juga berusaha untuk mencari profesi baru lagi untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Masa iya, sarjana pengangguran terus dan hidupnya disuapi terus. Saya tidak bisa terus menerus seperti itu. Pilihan saya waktu itu adalah menjadi wartawan. Sempat beberapa kali menjalani wawancara dengan perusahaan media ternama, tapi hasilnya tak sesuai harapan. Digantung tanpa pasti, dan ada juga yang akhirnya saya tolak.

Bisa jadi itu adalah salah satu periode paling sulit selama hidup saya dari yang pernah saya rasakan. Merasa menjadi tak berguna, dan kadang terlunta-lunta tak tentu arah. Pergi ke luar rumah, seolah-olah seorang karyawan, padahal hanya sibuk melihat-lihat kota Jakarta dan membeli koran terbitan hari Sabtu dan Minggu hanya untuk melihat halaman lowongan pekerjaan. Untungnya dalam beberapa hal saya masih beruntung. Sesekali beberapa teman menghubungi saya untuk membantu pekerjaannya dan apa yang saya dapat setelah itu tentunya sangat berguna untuk mencukupi kebutuhan hidup saya.

Bulan bulan menjelang Ramadhan tahun lalu, saya sudah mulai fokus untuk mencari sponsor untuk kuliah saya nantinya. Tahukah anda kawanku yang baik, lebih dari dua puluh proposal yang saya ajukan dan hanya 5 yang memberikan jawaban. Bahkan, mungkin karena sudah kecanduan, saya merasa senang mendapatkan jawaban meskipun itu sebuah penolakan. Silahkan dibayangkan sendiri. Dan mungkin saja saya hampir gila saat itu. Hingga akhirnya saya dapat jawaban positif dari dua perusahaan. Dalam hal ini, saya sukses lagi.

Menjelang keberangkatan, saya akhinya mendatangi sponsor utama yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pendidikan warga negaranya. Siapa lagi kalau bukan pemerintah yang diwakili Kementerian yang mengurusi pendidikan itu. Kabarnya, ada program beasiswa di sana untuk mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Saya sangat berharap besar saat itu. Tapi, setelah beberapa kali bolak balik tak tentu arah, saya malah mendapatkan kenyataan bahwa beasiswa itu dialihkan ke lembaga lain. Dan hampir saja saya putus asa. Betapa sulitnya situasi saat itu. Serba tak pasti, namun penuh kejutan.

Dan benar saja, akhirnya saya dapat kepastian dapat beasiswa itu setelah sampai di sini. Saya lupa tepatnya, kalau tidak salah awal Januari lalu saya tanda tangan kontraknya untuk bantuan biaya hidup saya selama 2 tahun. Tak bisa saya pungkiri, saya sangat bersyukur untuk nikmat ini. Tentu saja, perjuangan saya berhasil dan sukses. Meski terkadang ada nyamuk-nyamuk yang terbang di kanan dan kiri kuping saya yang iri dan hanya melihat bahwa begitu enaknya saya saat ini. Padahal mereka mungkin saja bisa menangis dan bunuh diri kalau tahu perjuangan saya untuk bisa dapat itu. Ahh, mungkin terlalu berlebihan. Tapi tak apalah sesekali. Toh tak ada nama yang disebutkan. :)

Akhir cerita hari ini, saya masih dilanda kebingungan dengan definisi sukses bagi kawan saya itu. Mudah-mudahan saya segera menemukan jawabnya. Terkadang memang sebagian orang memang lebih melihat hasil daripada proses.

Elista, 23 Mei 2014

Saya dan Polisi Rusia

Hari itu, Kamis 9 Januari 2014. Hari masih sore, dan saya sedang mempersiapkan diri untuk ujian kuliah esok hari. Malam nanti saya harus menjemput seorang kawan Indonesia dari kota lain, juga di Selatan Rusia. Sesuai rencana, dia akan menginap sementara di asrama kampus saya, Universitas Negeri Kalmyk, sebelum bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Moskow keesokan harinya. Sekitar jam 23.30 saya keluar dari asrama. Sesuai jadwal, dia akan tiba di Elista jam 1 pagi. Artinya, saya punya waktu sekitar 90 menit untuk jalan kaki dan menunggunya di terminal bus.

Ketika di Indonesia, banyak orang yang melarang saya untuk keluar di malam hari. Mereka bilang, angin malam itu jahat, ga bagus untuk kesehatan. Dan ternyata mereka betul. Bahkan di Rusia lebih jahat. Sekalipun saya sudah berusaha membungkus seluruh anggota badan serapat mungkin dan menutup celah untuk mereka masuk, angin malam di Rusia masih tetap berasa sampai ke tulang. Ternyata selain jahat, angin malam di Rusia sangat pintar mencari peluang untuk membuat badan menggigil. Maka tepatlah rasanya saya memanggil mereka dengan sebutan “keparat yang jenius”. :)

Sebenarnya, sepanjang hari itu cuaca sangat bagus untuk ukuran bulan Januari, hanya berada di antara angka 3-5 derajat celcius. Salju sudah empat belas hari tidak turun. Namun, angin yang berhembus kencang menjadikan kondisinya kurang lebih sama dengan keadaan di bawah titik beku. Setelah berjalan lebih kurang 15 menit, saya pun tiba di terminal bus. Kedatangan saya disambut hangat polisi yang berjaga di terminal. Dia memberikan hormatnya dan tanpa buang-buang waktu langsung bertanya seakan-akan dia sudah tahu kalau saya mau menjawab pertanyaannya. “Ваш документ, пожалуйста!”. Ahh, ternyata dia benar, saya memang menjawab pertanyaannya dan tak lupa menunjukkan paspor saya.

“Ada keperluan apa malam-malam ke terminal bus?,” si polisi itu mengharapkan jawaban dari saya lagi.

“Kami mau menjemput teman, dari Krasnodar,” dan saya memang menjawab pertanyaannya.

“Siapa namanya?,” si polisi belum bosan.

“Rifky,” saya mulai bosan.

“Mari ikut saya,” pungkas si polisi dengan harapan saya mengikutinya. Ternyata dia benar lagi, saya memang berjalan mengikutinya. Sayup-sayup saya mendengar suara kentut yang berbunyi, “Waduh, gue gak bawa duit.” Tak hanya sekali, kentut itu berbunyi dua kali. Yang kedua berbunyi, “Yah, gue juga gak bawa duit”, kira-kira seperti itulah bunyi kedua kentut tersebut.

Saya pun diajak berkunjung ke kantornya. Di dalam, sudah ada tiga temannya yang sedang menunggu. Mungkin menunggu giliran untuk bertanya. Benar saja, mereka juga ikut bertanya. Antara rasa takut dan tenang yang berkembang menjadi gelisah, saya menduga-duga pertanyaan yang akan mereka ajukan. Maklum, bahasa Rusia saya belum sebagus teman-teman yang lain. Saya pun memperhatikan sekeliling kantor tersebut, sangat bersih dan rapih jika dibandingkan dengan kantor polisi Rusia yang sering digambarkan film-film Hollywood. Di dindingnya terpampang banyak wajah-wajah khas selatan Rusia sedang menenteng AK, yang tentu saja sedang mereka cari. Wajah saya tidak ada. Saya hanya mengirimkan foto untuk daftar ulang di kampus, bukan ke mereka.

Benar dugaan saya, mereka juga ikut-ikutan bertanya seperti temannya yang menyambut saya di depan terminal.

“Ada keperluan apa malam-malam ke terminal bus?,” sangat tidak kreatif, dia mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakan temannya. Bisa kan dia mencari pertanyaan lain, misalnya, “Tadi teman saya sudah nanya apa saja?.” “Ух, Ты!”

“Saya mahasiswa KalmGU, mau menjemput teman saya dari Krasnodar.”

“Anda dari Indonesia? Anda merokok? Memakai narkoba?”, dia mulai ingin tahu diri saya lebih jauh.

“Tidak,” jawab saya tetap dengan nada datar namun dengan hati yang gelisah.

Sebelum melanjutkan pertanyaan untuk mengenal saya lebih jauh, dia menyempatkan diri untuk memeriksa paspor saya, dan menulis beberapa bait kata di buku piketnya. 

“Kalau di Indonesia, apa hukuman untuk pemakai narkoba?.” Ahh, dia tidak hanya ingin mengenal saya lebih jauh, tapi juga negara saya. Setelah sempat terdiam sejenak antara mengerti atau tidak pertanyaannya. Saya menjawab singkat :

“Dipenjara.”

Polisi menutup percakapan malam itu dengan ucapan “Молодец!”. Seketika itu juga saya dilanda kebingungan, karena yang saya tahu bahwa ungkapan itu biasa digunakan orang Rusia untuk memuji orang lain yang melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Kebingungan yang baru saya dapatkan jawabannya sehari kemudian, dari seorang staf lokal Kedubes RI di Moskow. Dalam sebuah pertemuan sederhana di apartemennya, dia menjelaskan tentang karakteristik polisi Rusia.

“Begitulah cara polisi yang iseng untuk mendapatkan uang. Pertama, dia bertanya apakah kita merokok. Jika kita menjawab iya, bisa langsung dituduh memakai narkoba, dan kalau kita tidak pandai berargumen, itu akan menjadi celah untuk mereka mendapatkan beberapa lembar Rubel dari kantong kita. Jika tak ingin tenggelam, pandai-pandailah berenang.” :)

Elista, 31 Januari 2013

Утром восходит солнце

Говоришь ты,
Утром восходит солнце,
Не знаю, не вижу,
Тяжёлые дни для нас,
Два раза, вчера и сегодня,
Никто не хочет, взрывы,
Это не люди.

Товарищ,
Знаешь ты о человеке?
Почему так жестоко,
Война, и война, и война
Не знаю, когда закончится.

Элиста, 3 Января 2014

Hari Ini dan Kisah Kucing Kecil

Elista. Sudah seminggu kota ini diselimuti kabut tebal. Sementara salju menghilang untuk sementara, kabarnya bersiap untuk datang kembali di Januari, lebih banyak lagi. Jalan raya menjadi becek dan penuh tanah, membuat corak warna kendaraan di sini menjadi sama, coklat. Ini bukan waktunya untuk mencuci. Penduduk kota sibuk menyiapkan malam hari nanti, malam tahun baru.

Pagi tadi aku harus ke kampus, ada janji dengan seorang perempuan bertubuh subur. Seorang penerjemah bahasa Inggris yang sangat jarang ditemui di sini. Kemarin aku sudah ke kampus, dia tak datang. Dia bilang, “Kita bertemu besok jam 9 pagi”. Aku pun datang, pagi, jam 9. Lagi-lagi, dia tak datang dan dengan seenaknya mengubah jadwal, “Danial, sekarang saya tidak bisa datang, Silahkan datang kembali jam 12 siang, maaf.” Ahh, di Rusia semuanya bisa terjadi, jarang-jarang orang Rusia minta maaf ke orang Indonesia. Itu pasti, sedikit sekali orang Indonesia di sini, hanya aku dan tiga orang temanku. Akhirnya, aku pun pulang. Tak biasanya, hari itu aku ingin jalan kaki. Meski suhu di luar hampir mendekati titik beku, 2 derajat celsius. Dan kenyataannya lebih dingin dari itu.

Jarak dari kampus ke asrama sekitar 30 menit. Seperti yang sudah kukatakan, jalanan menjadi becek dan penuh tanah. Aku pun harus pintar-pintar memilih tempat berpijak. Saat itu juga aku teringat dan menjadi sangat rindu dengan suasana gunung di Indonesia. Kota ini mirip sekali seperti hutan-hutan dan gunung-gunung yang pernah kujelajahi, tenang, relatif sunyi, tanah yang becek dan lembab. Lupakan dulu gunung tropis, di depan ada Elbrus, puncak tertinggi Eropa. Nanti, aku akan ke sana, musim semi. Selama perjalanan aku banyak melamun, sambil sesekali mengeluarkan lelucon untuk membuat nyaman teman seperjalananku, entah apa yang aku lamunkan.

Kira-kira kurang dari sepuluh menit lagi aku akan sampai di asrama, ketika tiba-tiba aku mendengar suara rintihan di seberang jalan. Rintihan binatang. Aku pun mendekat ke asal suara itu. Ternyata benar, itu seekor kucing kecil berwarna hitam. Saat aku sampai, kucing itu berada dalam posisi wajah menghadap ke aspal. Dia terlihat kedinginan, bisa kupastikan dari bulunya yang basah. Dia hanya bisa merintih, rintihan yang memilukan, menyayat hati. Aku angkat kucing itu dengan tangan kananku. Kupindahkan dia ke tempat yang lebih hangat. Kuberikan dia alas untuk berbaring, dan kuselimuti dia. Setelah kurasa semua sudah lebih baik, aku pulang dan mengambil makanan untuk kucing itu. Dan ketika aku kembali, kucing itu sudah tiada.

Hidup dan mati itu memang beda tipis, tak lebih tebal dari seutas benang jahit. Dan tak lebih lama dari waktu subuh hingga terbit matahari. Aku masih ingat matanya yang terbuka di akhir hidupnya. Mungkinkah dia menahan rasa sakit yang tak tertahankan ketika ruhnya dijemput sang malaikat? Kalau benar, bagaimana denganku? Kucing itu saja sudah mengalami sakit luar biasa di saat-saat nafas terakhir hidupnya, padahal dia masih kecil, belum banyak catatan dosanya. Dan aku, usiaku 24 tahun, tak terkira catatan dosanya. Oh, Tuhanku, maafkan aku. Terima kasih sudah mengirim hikmah melalui ilmuMu.

Tuhan

Tuhanku, aku takut,

Itu bukan karenaMu.

Bahkan air mata pagi ini,

 Bahkan sajak ini.

Tuhanku,

Hidupilah hatiku, Tegarkan,

Desember

Kita sudah sampai di Desember,
Ketika mereka turun dari langit,
Wajah bumi pun berubah,
Dan menjadi semakin indah.

Oh, Desemberku,
Putih, yang ada,

Kulukiskan keindahanmu,
Pada kertas-kertas kosong ini.
Ditemani burung-burung hitam,
Yang melaju gagah melintas angkasa,
Membersamaimu dalam perjalanan waktu.

(Di Selatan Rusia, 8 Desember 2013)

Общие сведения о России (Informasi Umum tentang Rusia)

Российская Федерация, или Россия, – одно из самых больших государств мира. Она занимает площадь 17,1 (семнадцать целых одну десятую) миллиона квадратных километров. Российская Федерация расположена на материке Евразия : она занимает восточную часть Европы и северную часть Азии.

Население России составляет 145,3 (сто сорок пять целых три десятых) миллиона человек. В составе Российской Федерации 89 субъектов федерации, из них 21 (двадцать одна) равноправная республика, например : Республика Алтай, Республика Татарстан, Республика Саха (Якутия), Республика Карелия … Столица России – город Москва. Государственный язык – русский. Денежная единица – рубль.

Российская Федерация является президентской республикой. Это значит, что главой государства является Президент, который избирается всеми гразданами страны на 4 года. Президент РФ может быть избран любой гразданин РФ не моложе 35 лет, если он постоянно проживает в России не менее 10 лет.

Государственная власть в России делится на мри ветви. Это законодательная, исполнительная и судебная власти. Что такое законодательная власт? Чем она занимается? Законодательная власт в России осуществляется Федеральным Собранием (парламентом). Федеральное Собрание состоит из Совета Федерации и Государственной Думы. Парламент разрабатывает и принимает государственные законы.

Что такое исполнительная власт? Как она работает? Исполнительная власт в России осуществляется Правительством Российской Федерации. Правительство РФ выполняет законы, принятые Президентом и Парламентом. Что такое судебная власт? Это власт который контролирует выполнение законов всеми организациями и гразданами страны. Главный суд называется Верховныйм Судом.

(По Учебнику “Дорога В Россию”, СПБ, 2006)

Federasi Rusia, atau Rusia, adalah salah satu negara terbesar di dunia. Rusia menempati wilayah seluas 17,1 juta km persegi dan berada di wilayah Eurasia, yaitu di sebelah timur benua Eropa dan di sebelah utara benua Asia. Saat ini, penduduk Rusia mencapai 145,3 juta orang.

Federasi Rusia terbagi ke dalam 89 subyek federasi, 21 diantaranya memiliki pemerintahan tersendiri (disebut Republik, hampir sama dengan daerah otonomi di Indonesia), yakni Republik Altai, Republik Tatarstan, Republik Sakha (Yakuts), Republik Karel, dll. Ibukota Rusia adalah Moskow. Bahasa utamanya yaitu bahasa Rusia dengan mata uang Rubel.

Federasi Rusia menganut sistem Presidensial. Artinya, presiden merupakan kepala pemerintahan yang dipilih oleh seluruh warga negara Rusia untuk waktu 4 tahun. Siapa saja dapat dipilih sebagai Presiden Rusia, dengan syarat : warga negara Rusia yang berusia sekurang-kurangnya 35 tahun, dan menetap di Rusia tidak kurang dari 10 tahun.

Sistem pembagian kekuasaan di Rusia terbagi ke dalam 3 cabang, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Apa yang dimaksud dengan kekuasaan legislatif? Apa yang dilakukan oleh legislatif? Kekuasaan legislatif di Rusia diwujudkan dalam Perhimpunan Federasi (parlemen). Perhimpunan Federasi terdiri dari Dewan Federasi dan Duma. Parlemen menyusun dan menerima usulan pembuatan Undang-undang.

Apa itu kekuasaan eksekutif? Apa yang dikerjakannya? Kekuasaan eksekutif diwujudkan oleh pemerintah. Pemerintah melaksanakan undang-undang yang sudah disetujui oleh Presiden dan Parlemen. Terakhir, apa yang dimaksud dengan kekuasaan yudikatif? Yudikatif melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang yang dilaksanakan oleh seluruh organisasi dan lembaga negara. Di Rusia, Mahkamah Agung memiliki kekuasaan tertinggi.

(Diterjemahkan dari buku “Perjalanan ke Rusia”, St.Peterburg, 2006)

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Persiapan di Universitas Negeri Kalmyk, Elista, Rusia

Жди меня, и я вернусь

Жди меня, и я вернусь.
Только очень жди,
Жди, когда наводят грусть
Желтые дожди,
Жди, когда снега метут,
Жди, когда жара,
Жди, когда других не ждут,
Позабыв вчера.
Жди, когда из дальних мест
Писем не придет,
Жди, когда уж надоест
Всем, кто вместе ждет.

Жди меня, и я вернусь,
Не желай добра
Всем, кто знает наизусть,
Что забыть пора.
Пусть поверят сын и мать
В то, что нет меня,
Пусть друзья устанут ждать,
Сядут у огня,
Выпьют горькое вино
На помин души…
Жди. И с ними заодно
Выпить не спеши.

Жди меня, и я вернусь,
Всем смертям назло.
Кто не ждал меня, тот пусть
Скажет: – Повезло.
Не понять, не ждавшим им,
Как среди огня
Ожиданием своим
Ты спасла меня.
Как я выжил, будем знать
Только мы с тобой,-
Просто ты умела ждать,
Как никто другой.

(Konstantin Simonov)

Memaknai Keputusan Tuhan

Selasa, 23 April 2013. Sejak pagi, bahkan dua minggu sebelumnya, sebagian besar pecinta sepakbola mulai sibuk memperkirakan serunya pertandingan antara Bayern Muenchen melawan Barcelona. Kedua tim dianggap mewakili kelompok yang mengedepankan penampilan atraktif, menghibur, dan menghancurkan. Prediksinya, permainan akan berjalan dengan seimbang. Namun, tidak ada seorang pun yang pernah mengira bahwa Barcelona akan terkapar tak berdaya di ibu kota Jerman. Terlepas dari kontroversi yang ada, faktanya adalah Barcelona tetap hancur.

Sehari setelahnya, Rabu, 24 April 2013. Setelah menyaksikan kehancuran Barcelona, kondisi yang sama juga terjadi menjelang pertarungan di babak semifinal leg I Liga Champions Eropa yang mempertemukan Borussia Dortmund dengan Real Madrid. Klub asuhan Juergen Klopp dan Jose Mourinho dikenal memiliki counter attack yang mematikan. Hasil di fase grup, yang memunculkan Dortmund sebagai pemenang, menimbulkan aroma balas dendam dalam setiap individu yang ada di Madrid. Beberapa pengamat sepakbola pun yakin bahwa kali ini Madrid tidak akan kalah. Siapa sangka, Madrid pun harus menanggung malu ketika kembali ke negaranya.

Sementara itu, Kamis 25 April 2013. Selain berita kekalahan telak Real Madrid, hampir tidak ada yang mengejutkan saya hari ini. Kondisi Indonesia masih belum berubah. Hanya beberapa negara di belahan bumi lain yang terus sibuk dengan kepentingan di Suriah, Iran, Korea Utara, dan negara lainnya. Mungkin hanya warna langit yang sejak pagi terus menghitam kelam. Selebihnya hampir tidak ada yang istimewa, hingga malam menjemput dan meminta untuk ditemani.

Kejutan justru terjadi keesokan pagi. Seperti biasa, selepas tidur, sekitar lima menit, biasanya saya selalu membuka perangkat elektronik untuk memeriksa kejadian-kejadian yang saya lewatkan selama terlelap dalam tidur. Sekali lagi, tak disangka dan sangat sulit untuk dipahami. Pagi itu, saya mendapatkan kenyataan bahwa seorang guru yang sederhana dalam tutur kata dan mampu menggetarkan hati saya ketika mendengarnya menyampaikan keindahan ayat Al-Qur’an harus meninggalkan dunia ini dalam usia yang relatif masih muda. Orang mengenalnya dengan sebutan Uje.

Ustad Jefri, penceramah yang sangat ramah dan sangat dekat dengan kaum muda. Sekali saya pernah bertatap muka sekaligus bersalaman dengannya. Waktu itu, saya mengenal beliau sebagai pribadi yang menarik dan mampu membangkitkan minat untuk mendengarkan dan memahami. Dan yang saya tahu, tak ada perubahan setelahnya. Beliau tetap saja begitu luar biasa. Namun, sekali lagi tidak ada yang menyangka, bahwa dia akan pergi begitu cepat, karena masih banyak orang yang ingin mereguk ilmu darinya.

Tiga kisah di atas memberikan pemahaman pada saya bahwa keputusan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, adalah rahasia yang tak akan pernah bisa diketahui isinya oleh manusia. Melalui kisah di atas pula saya ingin memaknainya dengan usaha tanpa lelah untuk memberikan segala terbaik yang dimiliki untuk mendapatkan hasil terbaik. Bayangkan jika pelatih dan pemain Barcelona telah mengetahui bahwa mereka akan ‘diserang’ habis-habisan oleh Muenchen. Mungkin mereka akan menempatkan seluruh pemainnya di depan gawang. Bahkan, mungkin juga Tito Villanova akan mencadangkan Lionel Messi dan menggantinya dengan pemain yang memiliki kekuatan dalam pertahanan.

Begitu juga apabila sebelum bertanding, Jose Mourinho telah mengetahui bahwa Robert Lewandowski akan mencetak empat gol ke gawang timnya. Bisa jadi, dia akan menyuruh Pepe, Sergio Ramos, dan Raphael Varane untuk menempel ketat Lewandowski. Sementara itu, mengenai kecelakaan yang terjadi pada Uje, bagi saya bukanlah itu yang menyebabkan kematian. Kecelakaan itu hanya media pengantar saja. Meskipun di tengah sakit, beliau tetap memutuskan untuk mengendarai sepeda motornya. Ada sesuatu yang harus dipenuhinya. Apakah jika malam itu Uje keluar, apakah takdir akan berkata lain, dan beliau masih berdakwah seperti biasa.

Inilah kerahasiaan Allah. Saya mencoba mengambil makna singkat bahwa manusia seharusnya tidak boleh berpikir untuk mendahului kenyataannya. Karena itu hanya akan membuat manusia takut untuk melangkah dan berusaha menggapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Meskipun Allah memberikan keputusan yang berbeda dari harapan, manusia tetap memiliki nilai di mata Tuhannya bahwa mereka telah berusaha dan memberikan terbaik yang dimilikinya. Dan yang terpenting, manusia tidak mendahului keputusan Tuhannya dengan menyerah.

*Tetap tabah Barcelonistas dan Madridistas, masih ada Leg II. Uje, Allahumaghfirlahu, Warhamhu, Wa’afihi, Wa’fu ‘anhu. Ya Rabb, berikan tempatnya yang mulia di sisi-Mu.

Drunken Marmut : Dan Saya Pun Mabuk

Drunken Marmut. Judul buku ini menggugah minat saya untuk membelinya ketika sedang ‘mampir’ di sebuah toko buku di wilayah Depok. Beberapa pertanyaan sempat muncul seolah-olah menebak isi buku (buku ini masih dibungkus plastik, sehingga saya tidak bisa melihat isinya. Ahh, betapa pelitnya toko buku itu … hehe), “Bagaimana kisah hidup seekor Marmut yang sedang mabuk?. Siapa yang membuat Marmut tersebut mabuk? Kok bisa, penerbit sekelas Mizan berurusan dengan seekor Marmut yang mabuk?”. Hingga akhirnya pertanyaan tersebut berhenti ketika saya membayar buku tersebut di kasir dan segera membacanya ketika sampai di rumah.

Don’t judge a book by its cover. Waktu itu, saya harus menanggalkan pepatah dalam bahasa Inggris yang berisikan nasihat agar setiap orang tidak melakukan penilaian terhadap keseluruhan buku hanya melalui sampulnya. Namun, ketika saya melihat Drunken Marmut, saya justru tertarik saat melihat sampul depannya. Gambar karikatur sebuah keluarga kecil yang sedang memperhatikan seseorang sedang membaca sebuah kertas, hanya dengan ditemani cahaya lilin. Seorang laki-laki yang sepertinya sang kepala keluarga sedang memegang lilin didampingi oleh seorang wanita (kemungkinan istrinya) yang sedang menggendong anak kecil (mungkin anaknya) dan di sebelahnya juga ada anak kecil (mungkin anaknya lagi).

Melalui gambar tersebut, saya menerka bahwa kejadiannya berlangsung di malam hari atau mungkin saja listrik di tempat tersebut sedang padam, karena penerangan yang hanya bergantung kepada lilin. Namun, yang lebih penting, di balik temaramnya cahaya lilin, saya melihat bahwa ada hal yang mulai jarang terlihat pada masa kini, yaitu kehangatan sebuah keluarga. Pada masa kini, terutama di malam hari, hampir sebagian keluarga di dunia ini sudah melupakan saat-saat berkumpul dan berinteraksi antar anggota keluarga. Seorang ayah biasanya sudah terlalu lelah untuk sekedar bercengkrama dengan anak dan istrinya karena seharian bekerja di kantor. Seorang ibu yang sudah mulai banyak bekerja juga seperti memiliki “penyakit” yang sama dengan suaminya. Anak pun kehilangan panutan serta teman bermain terbaiknya. Sepertinya itu merupakan hal yang sepele, namun dampaknya terlalu besar terasa bagi sebuah keluarga. Dan melalui buku ini, Pidi Baiq (yang kemudian sering dipanggil Ayah) seperti menyampaikan pesan kepada saya untuk menciptakan kembali kehangatan itu, minimal di keluarga saya. Pidi menyampaikan itu semua dengan praktek, tidak hanya dengan teori.

Kemudian, pelajaran hidup itu bertambah ketika saya membaca cerita pertama yang berjudul “Oh, Pram”. Cerita pertama buku ini, menyadarkan saya kembali tentang hal-hal yang dianggap sepele namun memberikan efek besar pada hubungan antar manusia, yang dapat dilihat dari cara seorang Pidi Baiq dalam mencoba membangun keakraban dengan orang yang baru dikenalnya. Sebuah cara yang mungkin oleh sebagian orang sangat aneh. Namun, bagi saya itu merupakan cara brilian untuk lebih mengenal orang lain dan cara brilian untuk menembus batas kekakuan dengan orang yang baru saja dikenal. Mengenai dampak yang ditimbulkan, tentunya itu tidak akan pernah bisa diduga dengan pasti, tapi pasti selalu berharap pada respon yang positif.

Cerita-cerita berikutnya memiliki pesan yang hampir sama dengan cerita pertama, ketika hal atau cara yang dianggap kecil mampu memberikan pengaruh besar pada hubungan antar manusia. Bagaimana seorang Pidi harus menyamar menjadi gelandangan atau pengemis, hanya untuk memberikan kejutan kepada ibunya saat Hari Ibu. Sekali lagi, bagi sebagian orang, hal tersebut seperti memperlihatkan penyakit “gila” Pidi yang sudah mencapai tahap kronis. Namun, di balik itu semua saya menyadari bahwa terkadang sebuah kejutan yang didasari niat baik akan membuat hubungan antar manusia akan menjadi semakin baik. Bagi saya, Mizan dan Pidi Baiq beruntung bisa bekerjasama dalam terbitnya buku ini. Buku yang bagus. Pesan cerdas yang sederhana, dan saya pun mabuk.

Kereta Rakyat

Seorang anak menangis di dekat ibunya,
Tubuh sekecil itu harus berdesakan di antara ribuan tubuh kekar yang seperti tak peduli,
Sementara anak lainnya tertawa, ia baru saja dibelikan mainan oleh ibunya,
Ah, itu hanya sebuah pensil yang menyerupai tokoh kartun kesayangannya,
Dan dia tetap tertawa,

Hari berikutnya, seorang bapak hendak ke kantornya di Jakarta,
Pagi itu, jarum jam masih tertahan di angka enam,
Sang bapak berlomba dengan yang lainnya, memperebutkan satu pijakan yang tersisa,
Terkadang untuk berdiri pun ia kesulitan,
Bapak itu tidak menyerah,
Kelelahan ini, rasa kantuk ini, kucuran deras keringat ini,
Semuanya demi keluarga.
Yang lainnya memilih untuk bertaruh nyawa
Mereka naik ke atap kereta rakyat
Kereta bekas Jepang itu, atau mungkin China
Ah, pak Menteri, apa kita tidak bisa membuatnya sendiri?
Yang baru? Lebih bagus daripada ini.

Bagi semuanya, tak penting itu mewah, rasa-rasanya kami belum pantas,
Hidup dalam kemewahan seperti bapak di sana,
Ini saja sudah cukup, murah, lebih cepat pula sampainya
Jangan hilang ya. Apa jawabnya?

Selamat Jalan, Chavez

Begitulah adanya. Anda mendapat giliran menghadap yang Kuasa. Di dunia ini, hampir sebagian mengenal anda. Apalagi rakyat anda di sebuah negara kaya minyak di Amerika Selatan sana. Dan yang saya tahu, anda orang baik. Bagi saya, anda hanya ingin menyampaikan kebenaran. Anda hanya ingin rakyat anda sejahtera. Anda melawan hegemoni yang membuat rakyat anda dulu menderita. Meskipun saat ini masih banyak yang hidup susah, tapi kondisi sekarang harusnya jauh lebih baik. Terkadang saya bingung, anda menjalankan Pasal 33 dasar konstitusi negara saya dengan sangat tegas, sementara di negara saya, pasal itu diinjak-injak, tak pernah dianggap. Ahh, mungkin juga pasal seperti itu ada dalam konstitusi negara anda. Mudah-mudahan, pengganti anda adalah orang yang juga baik dan berani menyampaikan kebenaran. Tahun depan negara saya akan dapat presiden baru. Anda tak sempat bertemu dengannya.

*selepas kereta kelas ekonomi, di negara yang sedang dikuasai para Kurawa

6 Maret 2013, Depok.

See you

How are you, Dear?
Days, Months, and Years,
I’ve never seen you,
And I miss you.

Your face at the morning,
When you laughing of me at the afternoon,
And your smile at the evening,
I really missed you.

Where are you now?
I’ve heard you always help others,
The dreams comes true, right?

Everyday, I hope you still remember me,
Only fallin’ in love with me,
And give me many chance to build a house of love for us,
Until the end of day.

Your smile more than Bromo’s sunrise,
Your eyes like a moon at the darknight.
That’s the reason why I’m here,
Praying.

Dear, see you in the way of Allah.

Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia Kunjungi Universitas Padjadjaran

IMG_4631

JATINANGOR – Di Indonesia, studi tentang kebudayaan Rusia masih kurang diminati. Hingga saat ini, hanya ada dua universitas di Indonesia yang menyelenggarakan studi tersebut, yaitu Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia dengan presentase mahasiswa yang diterima masing-masing setiap tahunnya berjumlah 40 orang. Hal ini merupakan bukti bahwa masih kurangnya minat masyarakat Indonesia untuk belajar tentang kebudayaan Rusia.

Melihat problem tersebut, Program Studi Sastra Rusia Universitas Padjadjaran, berinisiatif untuk menyelenggarakan Kuliah Umum yang bertemakan “Kebudayaan Rusia” di Gedung D Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Kamis (21/2). Dalam acara tersebut, hadir sebagai pembicara adalah Vyacheslav Tuchnin, Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Indonesia. Acara ini sekaligus sebagai kunjungan pertamanya sejak dilantik menjadi Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia pada Desember 2012.

Dalam paparannya, Tuchnin menyampaikan bahwa Rusia merupakan negara yang memiliki sejarah kebudayaan yang sangat panjang dan terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Kebudayaan Rusia tetap eksis hingga saat ini karena berhasil beradaptasi dengan kebudayaan-kebudayan modern. Di Eropa sendiri, beberapa karya sastrawan Rusia seperti Pushkin, Tolstoy, Chekhov dan Dostoevsky, menjadi bacaan wajib dalam dunia akademis, karena dianggap memiliki keunikan tersendiri. Rusia juga memiliki boneka Matryoshka sebagai salah satu produk budaya yang tetap eksis dan terkenal hingga saat ini.

Sementara itu, Supian M.A., Ketua Program Studi Sastra Rusia Universitas Padjadjaran, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Menurut Supian, kegiatan-kegiatan seperti ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini penting untuk menjalin hubungan yang lebih baik serta mengenalkan Rusia sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya, seperti halnya Indonesia.

“Ini merupakan momentum untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih baik antara Program Studi Sastra Rusia Universitas Padjadjaran dan PIPKR (Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, -red), sekaligus media untuk mengenalkan kepada Civitas Academica dan masyarakat umum tentang sejarah serta perkembangan kebudayaan Rusia mulai dari zaman dahulu hingga sekarang” tandas Supian.

Ditambahkan oleh Supian, bahwa nantinya kegiatan ini akan dilaksanakan setiap 3 bulan dengan topik berbeda-beda yang meliputi Politik, Ekonomi, Budaya, Sosial, dll. [AID]

Dan, Selamat Tinggal …….

Tak terasa, empat bulan sudah berlalu, sejak saya memulai aktivitas di sini. Hampir setiap hari saya melewati jalan yang sama dan berada di tempat yang sama. Sungguh, sebuah harmoni yang indah. Hingga hari ini pun, saya masih kerasan dan berupaya untuk terus di sini. Namun, ada mimpi-mimpi lain yang harus saya kejar, yang harus saya raih, dan harus saya wujudkan dalam bentuk nyata. Mungkin di pelosok negeri ini. Atau dalam balutan salju di belahan bumi lain. Dan, selamat tinggal. Saya harus menutup dahulu kisah saya di sini, untuk membuka lembaran kisah kebaikan di tempat lain.

Simprug, 15 Januari 2013 

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 3.000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 5 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Pertamina Foundation Siapkan Rp 2,5 Milyar untuk Beasiswa Sobat Bumi

Jakarta—Pertamina Foundation menyiapkan dana Rp 2,5 milyar untuk Program Beasiswa Sobat Bumi di tahun 2013. Dana sebesar itu diperuntukkan bagi 205 mahasiswa berprestasi yang memiliki kepedulian dan rekam jejak terhadap lingkungan. Saat ini proses seleksi yang dimulai sejak September 2012 melalui pendaftaran di situs http://www.beasiswa-sobatbumi.com telah tuntas dilaksanakan di 16 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan terpilih 200 mahasiswa. Sedangkan satu PTN lain, yakni Universitas Cendrawasih baru akan menyelesaikan seleksi untuk mementukan lima mahasiswa penerima beasiswa awal Desember 2012 mendatang.

Peminat Beasiswa Sobat Bumi terbilang besar. Dari data yang masuk, teregister sebanyak 4.620 mahasiswa. Dari jumlah itu yang dinyatakan lolos administrasi dan layak untuk meneruskan tahapan wawancara sebanyak 410 mahasiswa. Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali, Jumat (23/11) ini mengatakan, ada beberapa alasan mengapa peminat Beasiswa Sobat Bumi begitu besar. Diantaranya, Pertamina Foundation selain memberikan fasilitas berupa pembiayaan studi, biaya hidup, juga membiayai proyek kelompok yang bertemakan lingkungan dan pendidikan.

“Yang istimewa para penerima Beasiswa Sobat Bumi akan diberikan Pelatihan Kepemimpinan dan secara otomatis tergabung dalam ikatan keluarga Pertamina Foundation Scholars yang tersebar dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Lebih dari itu, tegas Ahmad para penerima beasiswa juga diberikan kesempatan untuk menjadi volunteer di setiap kegiatan yang dilakukan Pertamina Foundation. Itulah sebabnya, para penerima beasiswa ini harus memiliki kriteria khusus selain nilai akademik. Dari 200 mahasiswa yang kini telah menerima Beasiswa Sobat Bumi, kesemuanya memiliki rekam jejak dan memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan. Sebagian besar dari mereka tergabung dalam LSM Lingkungan dan Pramuka.

“Yang kami cari adalah mahasiswa dan mahasiswi aktivis kampus, tidak hanya si jenius dengan IPK 4 yang tidak melakukan apa-apa selain belajar”, tegas Ahmad.

Dalam waktu dekat, para penerima beasiswa Sobat Bumi akan dipertemukan dalam kegiatan “Gathering Pertamina Foundation Scholars” yang rencananya akan dilaksanakan pada 13 hingga 15 Desember 2012 di kawasan Pertamina Geothermal Energy, Kamojang, Jawa Barat.
Berikut jumlah penerima beasiswa di 16 PTN. Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) 10 mahasiswa, Universitas Sumatera Utara (USU) 8 mahasiswa, Universitas Sriwijaya (Unsri) 12 mahasiswa, Institut Teknologi Bandung (ITB) 6 mahasiswa, Universitas Padjadjaran (Unpad) 16 mahasiswa, Institut Pertanian Bogor (IPB) sebanyak 18 mahasiswa, Universitas Indonesia (UI) 22 mahasiswa, Universitas Gadjah Mada (UGM) 16 mahasiswa, Universitas Diponegoro (Undip) 14 mahasiswa, Universitas Brawijaya (UB) 5 mahasiswa, Universitas Airlangga (Unair) 18 mahasiswa, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) 18 mahasiswa, Universitas Udayana (Udayana) 13 mahasiswa, Universitas Mataram (Unram) 6 mahasiswa, Universitas Mulawarman (Unmul) 5 mahasiswa, Universitas Hasanuddin (Unhas) 13 mahasiswa. []

Layaknya Permata

Seperti Permata 
Yang berkilauan di hadapan mata 
Dan melekat di dalam hati 
Penuh dengan cahaya 
Tak tahu siapa pemilik sesungguhnya 

Ketika sebuah tanya 
Terus membayangi kepala 
“Wahai Permata, siapa pemilikmu sesungguhnya?” 

Dan aku harus pergi 
Menuruti panggilan hati 
Tidak untuk menjalani pengorbanan 
Hanya untuk memastikan sebuah jawaban 
“Siapa pemilikmu sesungguhnya”.

Mereka dan Saya

Beberapa hari setelah Idul Fitri tahun ini, seusai mengunjungi salah satu kerabat di daerah Cibening (Bekasi), dan dalam perjalanan pulang ke rumah, saya bertemu kembali dengan sang penjual senter. Seorang pria tua dengan usia yang telah melewati setengah abad. Sudah dua hari ini, di dalam kereta listrik tujuan Bogor, saya bertemu dengan pria tua itu. “Senter-senter, 10 ribuan senternya,” seperti itulah suara yang keluar dari mulutnya selama dua hari. Di usianya yang tak muda lagi, pria tua itu harus menghadapi dua pilihan yang sangat tidak menjanjikan, menjual senter untuk kelangsungan hidupnya, atau berdiam diri saja di rumah menunggu dan merutuki hidupnya. Entah di mana anaknya.

Mudah saja menemukan keadaan-keadaan seperti ini, seorang yang sudah tua, entah pria atau pun wanita, dengan keadaan yang terlihat menderita, terkadang bersama anak yang ada di dalam gendongannya, bahkan ada yang harus meminta-minta belas kasihan orang lain. Untuk mereka, pilihan terbaiknya hanyalah dengan berniaga, berpindah dari satu kereta ke kereta lainnya, bergelantungan dari satu bus ke bus lainnya, mengetuk pintu rumah yang satu dan yang lainnya, meski tak tentu hasilnya.

Mereka tidak punya pilihan untuk memiliki mobil dengan berbagai merk dan warna, berdiam diri di butik mewah sambil menunggu rancangan jas atau gaun Limited Edition dari desainer terkenal, atau mengganti gaya rambut sesuai dengan selera pasar. Mereka lebih banyak menggunakan kakinya untuk melangkah, memakai pakaian dengan desain seadanya, dengan potongan lusuh seperti tak pernah mandi. Hanya makan, bertahan hidup dan kadang sedikit berbagi.

Dan saya yang hidup dalam masa ini, yang tidak lagi menderita seperti mereka (*entahlah, ini hanya opini saya bahwa mereka menderita, padahal terkadang mereka justru merasa tidak sedang menderita), sehingga bisa memilih untuk hidup sederhana atau pun mewah, bukan menderita. Saya memilih untuk hidup sederhana. Setiap pagi pergi berkarya dalam hentakan semangat mencari nafkah dan beribadah. Dalam kesederhanaan ini, setidaknya saya menikmati dan menjalani pilihan saya, seperti halnya mereka yang tetap berusaha di samping keterbatasannya.

 

Simprug, 3 Oktober 2012

Ketika Mereka Menjadi Terlatih, Bukan Terdidik

Ratusan pemuda berseragam
Berkerumun dalam satu tujuan
SERANG! TANPA AMPUN!
BUNUH dan KAU PASTI MATI!

Sejak awal hingga akhir
Hanya menerima perintah penuh kemarahan
Entah apa penyebabnya
Mereka terus menerus bermusuhan
Entah kapan berakhirnya

Potret buram perjuangan pahlawan
Yang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan
Tapi kini, semua tak berarti lagi
Pemuda-pemuda berseragam itu tak peduli, tak mengerti
Para pahlawan rela mati demi negeri ini
Sedangkan mereka, apa yang mereka cari

Para pemuda itu seperti terlatih
Terlatih membuat kerusakan, membunuh
Tak melekat pada mereka, gelar terdidik
Karena kita seperti tak melihat hasilnya
Tak pernah ada manusia terdidik yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhan
Sekali lagi, mereka hanya terlatih
Dan hasilnya, Sekian mati.

Kemenangan Putin, Kemenangan Iran, dan Kemenangan Suriah : Momentum Penyelesaian Krisis Secara Lebih Adil

“Kami akan melakukan segala kemungkinan untuk mencegah konflik militer baik di Iran atau di sekitarnya,” kata Putin. (Republika, 2 Maret 2012)

Itulah pernyataan Vladimir Putin, Perdana Menteri Federasi Rusia, dua hari menjelang Pemilihan Presiden Rusia 2012. Putin yang saat ini sudah dipastikan memenangi Pilpres 2012, akan memimpin Rusia selama enam tahun ke depan. Pada dua fase kepemimpinannya terdahulu, Putin sangat terkenal dengan pernyataan-pernyataan kerasnya terhadap segala bentuk intervensi militer Barat (AS dan sekutunya) dalam memulihkan keamanan atau menyelesaikan masalah di sebuah negara. Bahkan, pada konferensi tahunan internasional tahun 2007, mengenai kebijakan keamanan di Munich, Jerman, Putin pernah mengeluarkan pernyataan bahwa AS dan sekutunya telah secara liar dan sembrono membuat dunia ini menjadi lebih berbahaya akibat kebijakan perangnya dan keinginan untuk mendikte dan memaksakan kehendak di negara lain (Kompas, 14 Desember 2007).

Kemenangan Putin dalam Pilpres tahun ini dapat dianggap sebagai bagian dari kemenangan Iran dan Suriah. Sebagai Presiden Rusia, ia memiliki kewenangan penuh atas kebijakan luar negeri Rusia, jika dibandingkan ketika menjadi Perdana Menteri di era Medvedev. Putin selama ini dikenal dengan sikap kerasnya terhadap intervensi dan embargo militer negara Barat atas negara-negara yang “bermasalah”. Ia akan terus mempertahankan Rusia pada jalur yang adil dalam melihat permasalahan nuklir Iran dan krisis Suriah. Putin akan tetap melakukan upaya-upaya dialogis untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan internasional seperti ini.

Hal inilah yang tercermin dalam penyelesaian masalah nuklir Iran dan krisis Suriah. Keinginan AS dan sekutunya untuk melakukan intervensi militer dan memberikan sanksi ekonomi terhadap kedua negara tersebut ditolak oleh Rusia. Meskipun Rusia juga memiliki kekhawatiran terhadap Iran mengenai potensi pengayaan nuklir sebagai senjata, namun permasalahan ini seharusnya diselesaikan dengan dialog-dialog yang seimbang bagi semua pihak. Rusia bersikeras bahwa serangan militer ataupun sanksi ekonomi terhadap Iran tidak akan menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Opsi tersebut malah akan membuat permasalahan menjadi semakin rumit untuk diselesaikan.

Sementara itu terkait kebijakan Rusia terhadap krisis Suriah, Rusia telah memveto resolusi PBB pada sidang DK PBB, 5 Februari 2012. Rusia menyatakan keberatan atas campur tangan asing di negara tersebut. Penolakan juga disebabkan oleh redaksi yang digunakan dalam resolusi yang menyatakan bahwa DK PBB mendukung penuh rencana Liga Arab mendesak Presiden Bashar al-Assad menyerahkan kepemimpinan kepada wakilnya dan menyelenggarakan pemilu bebas. Menurut Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia untuk PBB, resolusi tersebut akan menempatkan Suriah pada kondisi yang pernah terjadi di Libya. Churkin juga menambahkan bahwa redaksi yang terdapat dalam resolusi tidak mencerminkan keadaan sebenarnya dan tidak berimbang dalam mewakili permalahan yang terjadi di Suriah. Melalui upaya dialog, Rusia berusaha untuk meminta pemerintah Suriah agar menyelesaikan permasalahannya dengan sebaik-baiknya, tanpa harus dicampuri negara lain.

Secara keseluruhan, sikap Rusia atas permasalahan nuklir Iran dan krisis Suriah tidak bisa diterima secara bulat-bulat. Sikap ini mungkin saja merupakan upaya Rusia untuk mengamankan kepentingannya di kedua negara tersebut. Selama ini, Iran dan Suriah merupakan wilayah utama pasar ekspor persenjataan dan uranium dari Rusia. Rusia juga mengirimkan ilmuwan-ilmuwan yang dimilikinya untuk membantu perkembangan teknologi kedua negara tersebut. Sehingga kedekatan antar negara-negara ini juga akan mempengaruhi keputusan-keputusan Rusia sebagai anggota tetap DK PBB. Dan Putin, sang Presiden, sebagai pemegang kendali urusan diplomasi luar negeri Rusia, tentu saja lebih memlih untuk mengamankan kepentingan nasional negaranya.

Namun, sudah saatnya masyarakat dunia melihat secara lebih adil. Sikap Rusia atas kedua permasalahan tersebut patut diapresiasi. Keinginan atau itikad baik untuk mengedepankan upaya-upaya dialogis terhadap permasalahan nuklir Iran merupakan langkah maju dalam membina hubungan antar negara yang lebih adil dan seimbang. Kebijakan luar negeri Rusia atas pengutamaan hak otonomi pemerintah Suriah terhadap krisis di negaranya juga harus dilihat secara lebih adil. Sikap Rusia bukan berarti sebagai pembiaran terhadap penggunaan kekerasan yang dilakukan pemerintah Suriah terhadap warga negaranya. Melainkan hanya sebagai upaya untuk memberikan kewenangan bagi pemerintah Suriah untuk menyelesaikan permasalahan bangsanya. Karena, intervensi militer hanya akan membuat masalah ini menjadi semakin rumit. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya di Irak, Afganishtan dan Libya, bahwa opsi ini hanya akan membuka kran kekerasan menjadi semakin deras.

*Opini ini ditulis oleh Ahmad Ilham Danial, mahasiswa semester delapan Program Studi Sastra Rusia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.

Kuharap Esok Bukan yang Terakhir

Hari ini,
Ketika aku tak peduli dengan sekitarku,
Kau datang dengan ketulusanmu,
Menawarkan persahabatan,
Menjabat tanganku erat ketika terjatuh,
Membagi ketiadaan yang kau miliki,
Walau ku tahu engkau pun sedang kesulitan.

Kuharap esok bukan yang terakhir kita bertemu,
Dalam kehangatan bersama.

Kau yang datang dari tempat jauh di sana,
Tak pernah ku tahu di mana itu,
Tak pernah kita saling mengenal sebelumnya,
Namun, kau tak pernah memilih kawan sebagai tempatmu berbagi,
Dan sampai saat ini pun, aku tak tahu bagaimana memberikan ketulusan,
Seperti yang kau berikan padaku.

Mungkin benar kata seorang penyair muda,
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta,
Kita sama-sama mencinta,
Cinta Indonesia,
Mencintai alamnya, hutannya,
dengan cara kita.

Kuharap esok bukan yang terakhir kita berjumpa,
Karena masih banyak cita yang kita miliki bersama,
Yang selalu kita tuliskan dalam hati-hati kita,
Sebagai penyemangat ketika lelah menghampiri.

Kawanku, jika pun esok engkau harus pergi dan tak kembali lagi,
Aku tak akan melepasnya begitu saja,
Akan kulakukan semua yang ku bisa,
Berusaha memberikan terbaik yang kumiliki.

Kita pernah sampai di atas sana,
Bersama-sama dalam genggaman mesra,
Atas nama persahabatan dan cinta,
Juga perenungan akan cinta-Nya.

Tergenang air di pelupuk mata,
Ketika kuingat impian kita bersama,
Menantang dunia dan menggenggamnya.

*Ketika seseorang harus pergi. Jangan sampai kita terlambat menyadari. Betapa baiknya ia. Betapa dekatnya ia. Betapa ikhlasnya ia kepada kita. Selalu berikan yang terbaik kepada orang-orang di sekitar kita. Tanpa pamrih dan tak ada alasan untuk menyesal akhirnya.

Celoteh Siap-siap (Coba-coba Belajar dari kisah Napoleon)

Begini ceritanya, tulisan kali ini berjudul ‘Celoteh’. Celoteh yang muncul sehabis membaca novel bersampul hitam itu. Entah untuk yang ke berapa kali baca. Lagi, dan lagi Dalam novel tersebut ada kisah tentang Napoleon yang sejak kecil memiliki keinginan untuk menjadi seorang tentara. Ceritanya, sewaktu Napoleon masih bersekolah dia bawa bekal dari rumah.

Alkisah, Napoleon yang menggebu-gebu ingin menjadi tentara, selalu menukarkan bekal makanannya tersebut dengan ransum atau makanan khas tentara. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk mencapai keinginannya menjadi seorang anggota militer dan dengan cara seperti ini Napoleon berusaha merasakan atmosfer seorang militer lewat ransumnya. Menurut Napoleon, ketika seseorang menginginkan sesuatu atau memiliki obsesi yang tinggi terhadap sesuatu, maka kejarlah. Dan salah satunya dengan membiasakan diri untuk lebih sering berhubungan dengan hal-hal yang akan dialami nantinya. Mungkin menurut Napoleon, supaya kita gak kaget nantinya. Proses itu juga bisa jadi pelajaran untuknya agar tidak selalu makan makanan yang terlihat enak-enak saja dan terlihat mewah-mewah saja. Kalaupun gak jadi tentara juga dan hidup susah, Napoleon sudah siap dengan makanan yang apa adanya dan bukan ada apa-apanya.

Zaman sekarang kan banyak tuh orang kaya (berlebihan harta) yang tiba-tiba jatuh miskin, entah karena ketauan korupsi, ditipu, atau apalah itu, yang kemudian turut serta memiskinkan hatinya. Mereka (baca:orang-orang kaya yang kasiian itu) gak pernah mencoba merasakan kehidupan seorang miskin sehingga mereka gak siap menjadi orang miskin. Padahal gak ada jaminan mereka akan terus-terusan kaya (Walopun mereka bilang kekayaannya tujuh turunan gak akan abis, tetep gak ada jaminan). Mereka gak siap dengan kemiskinannya, kemudian hidup jauh dari Allah dan segala ciptaannya. Bahkan ada yang sampai mengalami gangguan kejiwaan.

Belajar memahami hidup seorang miskin bukan berarti mau menjadi miskin. Jika, ditanya ke setiap orang juga jawabannya akan sama, yaitu “TIDAK MAU!” Belajar memahami dan menikmati kehidupan seorang miskin adalah sebuah persiapan untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang beserta manusianya yang akan terus berubah sesuai hakikatnya yang kadang di atas, dan lebih banyak di bawah. Segala hal bisa terjadi, meskipun kita tidak pernah mau dan mengharapkan akan kehilangan kekayaan dan kekuasaan yang kita punya saat ini untuk kemudian menjadi miskin. Jadi, siap-siap yah.

Eh, nanti dulu, sebelum ditutup, saya jadi teringat celotehan siap-siap juga dari seorang kawan. Beliau pernah berkata (terkait keinginan saya nih, yang saya terus memohon kepada Allah agar dikabulkan, tapi yang jelas Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan manusia melebihi apa yang menjadi keinginan mereka), “kalo lu mau punya bini dokter, lu harus biasa sama jarum suntik dan darah. (Mengenai jarum suntik, teman saya ini bukan junkies, lho. Untuk darah, di SMA, waktu masih menjadi ‘pecandu’ tawuran, saya udah sering ngeliat dan saya juga suka nonton film action yang kadang-kadang, bahkan sering banyak darahnya, jadi ya, udah biasa. Tapi, kenapa yah sampe saat ini saya masih takut sama jarum suntik? Padahal dari SD sering ikut yang program suntik-suntik dari pemerintah. Kalo ke dokter juga pernah disuntik. Sebenarnya gak takut sih, kulit saya malu-malu aja. hehe.) Jadi, ketika lu punya bini dokter, lu udah biasa menghadapinya dan sudah siap dengan segala konsekuensinya. (hehe, nyambung gak yah sama kisah di atas. Udah, nyambungin aja. Hehehe, dokter di pulau seberang, tungguin saya yah, bentar lagi saya mau lulus, bantuin do’a juga deh, hehehe.

Selamat menikmati. Selamat menempuh hidup baru. Mohon do’a restu. :) :) :)

(Ditulis di sebuah tempat nun dekat di sana. Di tengah hantaman dari pengurus beasiswa yang banyak alasannya, sehingga saya gak jadi gantiin sisa uang kosan dan beli komputer. Ketika musim hujan mulai turun sesering mungkin yang mengakibatkan pendakian ke Mahameru ditutup dan saya gak jadi naik. Sewaktu, saya mulai kembali menemukan semangat untuk lebih memaknai hidup. Dan ketika setiap waktu menjadi momen yang paling indah. Mari nikmati saja.

Tempat Terakhir

Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna
Bila itu tanpamu

Lama sudah kau menemani
Langkah kaki di sepanjang
Perjalanan hidup penuh cerita

Kau adalah bagian hidupku
Dan akupun menjadi bagian
Dalam hidupmu yang tak terpisah

Kau bagaikan angin
Di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang
Apa jadinya bila kau tak di sisi

Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna
Bila itu tanpamu

Aku ingin kau menjadi
Bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan
Hidup di keabadian

Bila nanti aku kehilangan
Mungkin itu hanya sesaat
Karena ku yakin kita kan bertemu lagi.

-Padi-

Akhirnya, Piyu dan kawan-kawannya menghasilkan lagi karya yang sangat keren. Angkat dua jempol untuk lagu ini. Apalagi kalo liat video klipnya. Banyak simbol-simbol yang berhasil menerjemahkan lirik dengan sangat sempurna. Semoga banyak lagi band Indonesia yang bisa nyiptain karya kaya’ gini. Ini salah satu karya anak bangsa terbaik yang pernah saya lihat. Terima kasih buat Padi, atas inspirasinya.

Namanya Cinta

Tentang waktu
Yang tak pernah kembali dan berhenti
Selalu diingatkanku
Tentang keikhlasan

Satu hal yang ku mengerti
Cinta itu akan menjadi indah
Jika bersamanya kita bisa bersabar
Menikmati keindahan yang ada
Menahan segala yang akan menjerumuskan diri
Dengan keinginan untuk segera memiliki
Seperti yang sudah digariskan.

Biarkan Saya Bermimpi, Kawan

21 Juli 2011 (21.13-mulai menulis)

Bulan ini sudah dua kali saya pulang ke Jakarta. Pertama, ketika saya berniat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (susulan) pada awal bulan di rumah dosen (walaupun tidak jadi). Serta tepat seminggu yang lalu untuk menghadiri seminar yang diadakan oleh salah satu Kementerian, plus ke rumah dosen lagi. Sungguh, sebuah hal yang tak biasa, saya pulang ke Jakarta dalam waktu yang berdekatan.

Ada kejadian yang membuat saya geram, ketika kepulangan saya untuk waktu yang kedua kalinya. Sepulang dari seminar, saya langsung pulang ke rumah dan mendapati bahwa di rumah saya sedang diadakan pengajian menyambut bulan Ramadhan. Dan saya pun tidak bisa masuk ke dalam rumah, karena memang rumah saya penuh sesak manusia (yang hampir semuanya ibu-ibu), dan semoga juga penuh dengan berkah orang-orang yang ada di dalamnya. Saya pun memutuskan untuk ‘main’ ke ‘warung sederhana’ milik teman sekolah saya di sekitar stasiun J.

Di sana saya bertemu dengan empat teman saya semasa Sekolah Menengah Pertama. Pertama, yang mempunyai warung itu. Dan terjadilah percakapan di antara kami :
P (Teman saya yang punya warung) : Wey Nan, dari mana lu?
D (Saya): Dari rumah.
P : Mau minum apa lu?. Ambil aja yah.
D : Sip. Yang berwarna boleh yah. :)
P : Udah, ambil aja.

Saya pun mengobrol banyak dengannya. Tentang Jakarta dan kabar teman-teman sekolah yang pernah mengisi hari-hari kita. Tak lama kemudian, datanglah satu orang lagi teman saya. Ia baru pulang dari kantornya. Saya pun mencoba menyapanya lebih dahulu :
D : Wey Ji. Makin ganteng aja lu?
O : Haha, bisa aja lu, Nan. Lu libur, Nan?
D : Iya nih.
O : Iya, Nan. Sekolah lu yang bener, biar jadi orang.
D : Haha, emang sekarang gue jadi apa?

Percakapan itu tidak berlangsung lama, selain hanya bercerita tentang kabar masing-masing, kami hanya berbicara seputar pekerjaannya di bidang perangkat komputer. Dan saya juga bercerita tentang usaha pembuatan ‘baju’ yang sedang saya jalani. Tak lama kemudian ia pun pulang. Tujuannya ke warung itu awalnya (mungkin) memang hanya untuk membeli peralatan rumah tangga.

Kemudian saya pun menghubungi salah satu kawan SMP saya yang memang sudah lama tidak berjumpa. Dia datang sekitar satu jam setelah saya menghubunginya lewat sebuah pesan singkat. Namanya W. Dia pun mentraktir saya Mie Ayam yang ada tak jauh dari warung. Mungkin pertimbangan saya yang masih mahasiswa dan dia sudah bekerja (padahal sejak dulu saya memang jarang mentraktir). Banyak sekali yang saya bicarakan dengannya. Salah satunya adalah tentang Laptop yang ingin saya beli (mudah-mudahan dalam waktu dekat….Amiiiin).

Lalu, datang lagi seorang teman SMP saya (sekelas waktu kelas 1). Sebut saja namanya T. Dia adalah salah seorang yang menurut saya pintar ketika di SMP. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa perbedaan nilai saya dengan dia ketika awal masuk, sangat jauh. Nilai saya hanya tiga puluh satu dari lima pelajaran, sedangkan dia, tiga puluh tujuh dari lima pelajaran. Dan kenyataannya dia memang ‘cukup’ pintar di kelas. Kami pun mengobrol panjang lebar tentang kehidupan masing-masing yang sedang dijalani. Saya dan punya warung masih kuliah. Sedangkan dua yang lainnya sudah bekerja. Keduanya bekerja di bidang yang tidak terlalu jauh, perangkat alat elektronik dan komputer (juga). Saya lebih banyak berbicara dengan W. Dan dalam satu kesempatan saya bertanya kepada W :
D : Udah lu nikah aja! Mau dikemanain lagi tuh duit. he
W : Gue kerja tuh buat kuliah, Nan. Gue ngumpulin duit buat kuliah.
D : Wah, keren tuh. Mantaplah kalo gitu.
W : Iya, paling yang kuliah sambil kerja.

Tiba-tiba T menimpali :
T : Kalo ijazahnya SMP doang bisa kuliah gak tuh?

Saya yang mengira pertanyaan ini serius, menjawab :
“Bisa, ikut aja paket C. Murah kok. Banyak kampus-kampus yang nerima ijazah paket C.
(Saya tak tahu apakah pertanyaan T ini sekedar bergurau atau serius, tapi yang jelas, saya serius menjawab pertanyaan tersebut).

T pun menambahkan :
“Gue ngikut kata orang dulu aja dah, -Ngapain sekolah tinggi-tinggi, belum tentu bisa dapet kerja. Gue aja yang SMP bisa kerja-.

Saya hanya mengiyakan dengan anggukan lemah. Dan percakapan sempat berhenti di situ. Saya pun berpikir, kenapa anak yang dahulu punya otak cemerlang, harus berpikir realistis atau mungkin lebih tepat saya sebut sebagai sikap pesimis. Dia tak seperti Lintang dalam cerita Laskar Pelangi, yang semangatnya untuk menimba ilmu hanya terhenti karena punya tanggung jawab menggantikan peran ayahnya yang meninggal. Saya tahu, dia tidak bernasib seperti Lintang. Dia tak semiskin Lintang dan tidak mengemban amanah yang sangat berat seperti Lintang. Walaupun begitu, kekurangannya (kemiskinannya) telah menghilangkan semangatnya untuk bermimpi, tidak demikian halnya dengan Lintang. Apa karena dahulu belum ada cerita Laskar Pelangi, yang mengajarkan manusia untuk bermimpi setinggi-tingginya?. Mimpi yang hanya bisa dicapai dengan usaha yang sangat keras.

Dan saya, sebenarnya hanya sedikit lebih beruntung dari T. Sejak ayah saya memutuskan untuk menganggur permanen, saya hanyalah seorang anak manusia yang seluruh hidupnya disubsidi oleh saudara-saudara saya. Bahkan, saya tak pernah menyadari kelebihan itu. Saya adalah anak yang sangat tidak penurut dan terkenal ‘cukup’ nakal di sekolah, seolah tak tahu cara berterima kasih dalam menggunakan subsidi yang diberikan.

Setelah SMP, T dan teman-teman yang lain memang banyak yang memutuskan untuk masuk STM. Katanya, biar bisa langsung kerja. Tapi nyatanya, hanya sedikit yang bertahan. Momok bernama ‘biaya’ dan solidaritas antar teman yang ‘terlalu’ kelewatan, melucuti impian mereka satu persatu. Biaya erat kaitannya dengan kemiskinan, yang memang menjadi masalah yang belum dapat diselesaikan hingga saat ini, bahkan entah sampai kapan. Mungkin saja karena salah kebijakan yang diambil oleh pemerintah, atau pun memang mental masyarakat yang belum ‘siap’ untuk kaya (saya enggan menggali lebih jauh lagi). Tentang solidaritas antar teman yang saya sebut ‘kelewatan’ adalah mengenai efek domino apabila ada seorang teman yang memutuskan untuk berhenti sekolah, maka yang lain pun mulai malas untuk bersekolah dan akhirnya berhenti sekolah juga. Tapi, ini hanya dugaan saya saja.

Dari percakapan malam itu, saya pun teringat dengan koran pagi yang saya baca di Bus Transjakarta. Ada artikel menarik mengenai kemiskinan yang diawali perkataan Ali Bin Abi Thalib, “Kalaulah kemiskinan itu berbentuk manusia, sungguh aku akan membunuhnya”. Ya, itu bisa dibenarkan, dan memang harus dibenarkan. Kemiskinan sudah menjadi momok banyak anak muda yang cemerlang untuk pesimis dalam menjalani hidupnya. Masalah kemiskinan itu bagaikan badai yang datang terus menerus tanpa pernah berhenti. Dan di negeri ini, setiap hari ada orang yang bertambah miskin, dan (tak sedikit) bertambah pula yang kaya atau semakin kaya. Sungguh sebuah paradoks yang mengiris hati. Padahal konsep-konsep pengentasan kemiskinan, salah satunya yang pernah berhasil adalah zakat. Tapi sayang, pemerintah yang bebal itu selalu tak mau mendengar solusi yang brilian ini.

Saya sendiri sudah memutuskan, bahwa sampai kapanpun, saya tidak akan menyerah kepada kemiskinan. Biarlah ia menari-nari di depan saya tanpa pernah bisa mengajak saya menari. Saya akan tetap bergeming terhadap ‘tarian’nya. Dan saya selalu bersama kalian wahai orang-orang yang tak pernah menyerah pada keadaan yang sulit.Saya akan mengejar mimpi saya sampai batas yang sejauh-jauhnya. Meskipun nanti saya mungkin mendapati kenyataan bahwa saya akan tetap dalam keadaan seperti saat ini. Seperi yang dikatakan Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi, “Kita tak akan mendahului kenyataan”. Biarkan saya bermimpi, kawan. Biarkan saya mengejar harapan-harapan. Jangan kau halangi saya dengan geliat-geliat keadaan yang menggenaskan.

“12.56 (Selesai)

Mutiara hati 9

Bukan berarti Allah tidak adil ketika kemalangan demi kemalangan terus menimpamu. Bukan pula Allah salah mengambil keputusan ketika Dia mengirimkan badai yang menerjangmu. Justru melalui proses-proses itulah seharusnya kamu dapat memahami bahwa Allah Maha Adil dan Dia adalah Zat yang tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Bersabar dan bersyukurlah, karena hanya dengan itulah kamu dapat mengerti betapa Cintanya Allah kepadamu.

(Di Pojok Pondok Andrea, ketika pagi mulai beranjak)

Lubang Di Hati

Ku buka mata dan ku lihat dunia
‘tlah ku terima anugerah dunia
Tak pernah aku menyesali yang ku punya
Tapi ku sadari ada lubang dalam hati

Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Ku menanti jawaban apa yang dikatakan hati

Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang dalam hati

Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti

Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang ’kan mengisi lubang dalam hati

Eureka ( Aku mendapatkan-(nya) )

Tak terasa hampir setiap hari,
seringkali memandang langit di kala malam
Langit di mana aku berpijak sekarang ini.

Sudah berlalu masa tiga tahun itu,
Aku tetap tak bosan memandang langit
Dan kurenungkan apa yang ada di atas sana sebelum tubuh ini berbalut selimut yang menghangatkan
Kurenungkan tentang teduhnya langit di malam hari.

Musim panas ini,
Sungguh aku rindu
Dirimukah itu?
Setelah lama ku menunggu di sini
Kehadiranmu

Aku mendapatkannya
Dirimu yang kuingini
Selepas lelahku menanti

Ku rasa cukup sampai di sini
Aku lebih baik menanti, hingga kemudian menjemputmu lagi
Di penghabisanku di kota ini
Ketika kulemparkan topi pertanda kemenangan
Dan kukalungkan medali kebanggaan.

Karawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.

(Chairil Anwar)

Makna Sebuah Ucapan

“Maaf, saya tidak bisa menerima amanah ini, karena semester ini saya akan banyak keluar, jarang di kampus. Silahkan, cari orang yang lebih tepat, karena mungkin saya tidak sebaik yang anda kira.”

Begitulah kira-kira ucapan saya di awal tahun ini, ketika mendapatkan tawaran untuk membantu teman-teman yang bergerak dalam lingkup Eksekutif, di kampus Unpad tercinta. Kian hari ucapan tersebut semakin membenamkan saya pada kenyataan bahwa berhati-hatilah dengan lisan, karena kau tak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi esok hari sebagai akibat dari apa yang kau ucapkan. Awalnya tak mengira bahwa ucapan ini akan benar-benar terlaksana. Karena seingat saya pada waktu itu, hanya ada satu agenda besar yang mengharuskan saya untuk tidak berada di kampus dalam jangka waktu yang lama, yaitu Kuliah Kerja Nyata. Namun, pada kenyataannya, saya seringkali tidak berada di kampus, untuk semester ini. Bahkan, saya berhasil memaksimalkan jatah untuk tidak hadir, di semu mata kuliah! Hal istimewa yang saya selalu hindari pada masa-masa sebelumnya.

Sekarang saya hanya berusaha menikmati semua yang diberikan Allah kepada saya. Bahkan, saya merasa inilah salah satu periode terindah dalam hidup saya. Periode yang misterius. Penuh manis dan pahit. Dan menimbulkan energi baru dalam hidup saya. Energi keyakinan terhada masa depan, yang dimulai sejak hari ini. Karena sekarang bagi saya, setiap hari adalah masa depan.

*Subhanallah, ternyata setiap akhir itu indah tanpa pernah terduga.

Penantian

Tak kudapati diriku terlelap ketika malam menerjang menandaskan waktu
Sejauh itu pula aku tenggelam di keheningan malam
Terantuk kerikil dalam hamparan perasaaan

Dia berhasil mencuri perhatianku
Dan terus menerus datang menghampiri tanpa lelah
Membentuk pusaran keinginan yang terus menari di pelupuk mata

Dia datang, menghampiriku dalam lelapku lagi, malam ini
Tak bosankah, ia?
Tak lelahkah, ia?
Oh, akulah yang memintanya datang?
Dan baik sekali ia mau datang
Sambil tetap tersenyum, tersenyum padaku, menahan tawanya
Hanya senyumnya yang ia keluarkan padaku

Sayangnya, aku terjaga
Hingga kudapati sinar keemasan itu menghilangkan semuanya
Karena aku kembali dihadapkan pada penantianku akan dirinya

Aku tak ingin seperti penyair platonik lainnya
Yang mengatakan : Cintai aku atau benci saja aku sekalian
Asal jangan kau acuhkan diriku
Aku hanya ingin katakan : Cintai aku, cintai aku dan cintai aku
Jangan pernah kau benci aku sekalipun
Jangan pula kau acuhkan aku
Biarkanlah aku ada di hatimu
Seperti kau menerangi malamku dengan senyummu.

Takut ? Jangan Ngumpet!

Ada sebuah kisah menarik mengenai rasa takut. Mungkin saja kisah ini lucu mungkin juga garing. Tapi tak apa, selama itu tidak merugikan orang lain. :)

Begini ceritanya :

Tersebutlah tiga orang laki-laki yang sangat takut kepada istri mereka masing-masing. Mereka dipersatukan oleh nasib yang menyatakan bahwa ketakutan mereka terhadap istri-istri mereka sudah dalam taraf yang memalukan. Suatu saat ada seorang dari mereka yang bercerita bahwa dirinya baru seminggu yang lalu, berkelahi dengan istrinya. Dan dia pun menceritakan proses perkelahian tersebut.

Laki-laki pertama, dengan gaya sombongnya, mulai bercerita : “Eh, gue belum lama ini berantem sama istri gue.”

Laki-laki kedua dan ketiga heran tak percaya bercampur kagum, karena selama ini, laki-laki pertama itu yang paling takut terhadap istrinya. Laki-laki kedua pun bertanya :
“Lho, kok bisa? Dari kita bertiga, elu kan yang paling takut sama istri.”
“Iya, bener banget tuh,” sela laki-laki ketiga.

Laki-laki pertama pun dengan sangat meyakinkan, menambahkan ceritanya :
“Bahkan, istri gue sampe merangkak.”

Hal ini membuat laki-laki kedua dan ketiga bingung. Tiba-tiba mereka dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka harus mempercayai kata-kata laki-laki pertama, karena gaya bicaranya yang sangat meyakinkan. Mereka pun semakin bersemangat mendengarkan cerita sahabatnya itu, karena mereka menganggap bahwa sahabatnya tersebut sudah banyak berubah, dan sekarang telah menjadi laki-laki pemberani.

“Wah, hebat lu sekarang. Berani sama istri,” ucap laki-laki ketiga.

Dan, sebuah hal yang tak diduga oleh laki-laki kedua dan ketiga terjadi. Laki-laki pertama melanjutkan ceritanya.

“Tapi, kemudian istri gue (sambil merangkak) teriak kaya gini : “Eh pengecut, keluar lu dari kolong meja.”

Laki-laki kedua dan ketiga :

“Sialan, lu.”

Ini adalah sebuah cerita dari sebuah monolog yang dibawakan oleh Andy F. Noya dalam tayangan Kick Andy. Mungkin saja cerita ini hanya bermaksud lucu-lucuan saja. Tapi saya menangkap satu poin penting dalam cerita tersebut, mengenai ketakutan. Seringkali, seseorang yang mengalami ketakutan terhadap seseorang atau sesuatu, terkesan menghindar bahkan bersembunyi dari hal yang ia takuti, namun orang itu membual kepada orang lain bahwa ia sebenarnya tidak takut. Bagi saya, tentu saja itu tidak menyelesaikan masalah. Seorang yang bercita-cita masuk jurusan kedokteran atau keperawatan mungkin saja (sebelum masuk) banyak yang memiliki phobia atau ketakutan ketika melihat darah. Namun, setelah dia berhasil mendapatkan cita-citanya tersebut, dia mulai membiasakan diri menghadapi ketakutannya, tidak lari. Sehingga nantinya dia bisa menjadi dokter atau perawat yang baik. Dengan kata lain, lari bukanlah jawaban, karena hanya akan menghambat keinginan untuk mendapatkan atau mencapai sesuatu serta hanya menambah predikat pengecut dalam diri . Bangun dan hadapilah. Karena dengan itu, kita bisa berharap menemukan penyelesaiannya.

Dahulu dan Nanti

Di relung hatiku kini
Melekat wajah seorang ibu berusia sekitar lima puluh tahun
Yang rambutnya terus memutih perlahan, namun tetap tersenyum menantang hari
Dan terus membuatku sadar
Jika aku belum berbuat apa pun untuknya

Dialah Ibuku
Seorang berhati lembut yang banyak kukecewakan di masa lalu
Satu-satunya perempuan yang kuberi porsi lebih dalam hidupku
Tak akan pernah berhenti
Meskipun masa tak kembali

Ada pula bayangan seorang wanita lain
Yang memiliki tekad kuat untuk membaktikan dirinya
Untuk kehidupan manusia yang lebih baik
Yang kuharap benar
Tanpa pamrih
Wajah yang meneduhkan
Dengan balutan keimanan yang kuat padaMu
Tak banyak berucap, seperti yang kukenal
Seperti Ibuku

Wahai Tuhan, Aku akan berusaha membuat semuanya menjadi indah
Sehingga wanita-wanita hebat itu akan terus tersenyum padaku

Gathering, Sekali lagi……

“Jika sebelum hari ini saya mengandaikan diri saya sebagai bangsa Arab pada zaman jahiliyah, maka setelah hari ini saya menyatakan bahwa saya yang sekarang adalah bangsa Arab yang hidup setelah nabi Muhammad tiba. Dan jika sebelum hari ini, saya adalah bangsa Eropa pada zaman kegelapan, maka saya yang sekarang adalah bangsa Eropa setelah Renaissance.” (Satu hari setelah Gathering itu)

Inilah kalimat yang saya ucapkan setelah aksi “konkret” untuk lingkungan, yaitu dengan penanaman pohon massal yang saya lakukan bersama sekitar 140an orang yang tergabung dalam Pertamina Foundation. Tidak hanya penerima, namun yang memberikan juga ikut melakukannya. Banyak hal yang melatarbelakangi saya untuk berkata seperti itu. Intinya, saya merasa menjadi manusia yang tercerahkan setelah mengikuti agenda terbesar pertama yang dilakukan oleh pengurus Pertamina Foundation (dahulu YKPP Pertamina) sampai saat ini.

Rasanya, terbayar sudah pertentangan dalam perjalanan hati saya yang terus menentangkan apakah saya ikut Gathering di Bogor, atau ikut kuliah terakhir beberapa mata kuliah, sebelum Ujian Akhir Semester. Juga, pertikaian rasa malas untuk bangun pagi dan berdingin-dinginan, untuk berkumpul bersama teman-teman di kampus DU, pada hari pemberangkatan. Semua pertikaian itu tergantikan perdamaian yang mengesankan dan memaksa diri saya untuk terus berucap terima kasih ya Allah, skenariomu ini begitu indah.

Menyenangkan sekali bertemu dengan seluruh kawan-kawan penerima beasiswa Pertamina Foundation yang hadir pada saat itu. Melihat generasi masa depan bangsa, yang membuat diri saya seakan kecil, berada di tengah-tengah mereka.

bersambung…….

Tears in Heaven

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven…

Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way through night and day
‘Cause I know I just can’t stay here in heaven…

Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please…begging please

Beyond the door there’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more tears in heaven…

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven…

Sebuah Renungan

“Jika ada banyak orang yang mengenal saya karena keadilan, bisa saja itu bohong, karena belum tentu saya berlaku adil kepada banyak orang. Jika ada banyak orang yang karena kebaikan, itu pasti bohong, karena saya tidak selalu berbuat baik kepada setiap orang yang pernah saya temui. Jika ada banyak orang yang mengenal saya karena kejujuran, apakah benar semua orang dapat menilai saya sebagai orang yang jujur. Jadi, dari segi manakah saya dapat dikenal?.”

WCU (World Class Umi)

Awalnya saya mengira bahwa ada yang tidak beres dengan rambut saya, karena di saat gelombang air terus menerus tertumpah dari langit, orang-orang di trotoar depan Puskesmas itu tetap menyunggingkan senyum keheranan, sambil menatap bagian wajah ke atas. Saya sadar bahwa rambut saya sudah tak seperti dulu lagi, bahkan lebih rapih. Lantas, apa yang membuat mereka ikhlas tersenyum seperti itu?. Jawabannya : Payung Hijau Tua. Ternyata payung ini akan mengeluarkan motif bunga-bunga apabila terkena air. Inilah yang membuat orang-orang itu tersenyum. Mungkin karena saya yang memakainya. Mungkin juga karena, ….., ahhh, saya tidak ingin menerka-nerka tak tentu arah. Saya pun ikut tersenyum. Tentu saja ini senyum bahagia.

Terngiang kembali kisah sang payung, hingga sekarang berada di tangan saya. Ketika itu pagi hari menjelang keberangkatan saya kembali ke perantauan, setelah sehari penuh di hari sebelumnya, ingin membuktikan bahwa saya berani untuk belajar terbang ke angkasa. Berani berkata bahwa saya tidak takut. Walaupun sang operator akan semakin senang dengan teriakan-teriakan yang semakin keras dari peserta. Yah, permainan menjual ketakutan orang lain. Hampir sama halnya apabila saya melihat tukang gali kubur yang senang sekali jika ada yang meninggal. Mungkin ini hanya dugaan saja.

Pagi itu sekitar 8.00 A.M :

“Kok gak kuliah, Al?”

“Ngambil jatah libur. hehe”

“Lho? Emang bisa?”

“Iya, batasnya sampe tiga kali.”

“Uang kamu masih cukup kan?”

“Masih. Uang beasiswa yang kemarin masih ada.”

“Yauda nih, Mama kasih buat ongkos aja yah.”

“Mama ada gak? Masih ada kok yang kemarin.”

“Udah, kamu pegang aja.”

Dahsyat nian pemegang kunci surgaku yang satu ini. Beliau pun bertanya kembali :

“Sekarang di sana sering hujan yah?”

“Iya, hampir tiap sore.”

“Terus kamu ujan-ujanan yah kalo pulang kuliah?”

“Gak lah, kalo ujan paling juga neduh atau gak, main ke kosan temen yang deket kampus.”

“Lho? Emang gak ada payung? Kan waktu itu dikasih payung!

“Hilang. hehehe”

“(Sambil terlihat kesal) Kamu tuh kalo dikasih barang gak pernah awet yah.”

“(Nyengir).”

“Pake nih. Jangan sampe hilang lagi yah! (Sambil menyerahkan payung yang nampaknya masih baru dan tak lupa dengan senyum malaikatnya).

“Nanti Mama gimana?”

“Udah bawa aja”.

“mhsoawgywgejavdufdjfgjhvjdvej (Mama memang World Class Umi dah)

Dan sekarang, bagaimana riwayat payung itu?. Rusak. Kepentok dinding yang di kedua sisinya menyempit. Tak ada senyum lagi yang dihasilkan dari motif bunga-bunganya. Dan masih saja ketika hujan, saya tak berpenghalang lagi. Terkadang, ketika saya teringat Sang World Class Umi, saya merasa bersalah. Tapi saya yakin, walaupun begitu, hanya akan terurai senyum dari Sang Malaikat melihat anaknya yang satu ini. :)

Mama, Apa kabarmu di sana?
Setiap selesai sujudku
Tak lupa aku merekam wajah lelahmu yang berkeringat untukku
Untuk kuhadirkan dalam do’aku
Tak berkurang rasa sayangku
Tak kan hilang
Jika kau ada di sampingku, akan kuseka peluhmu yang mengucur karenaku
Dengan kain hatiku, kain terbaikku
(Rindu {Lagi})

Bahasa Rusia : Mampukah Meningkatkan Daya Saing Bangsa dan Perekonomian Nasional

Bahasa adalah kebutuhan hidup manusia yang hakiki setelah kebutuhan manusia terhadap sandang dan pangan. Sebagai makhluk sosial, manusia normal selalu merasa perlu berinteraksi dengan manusia lain. Dalam proses interaksi inilah manusia membutuhkan bahasa. Melalui sebuah proses interaksi, dengan media bahasa, kepentingan setiap manusia dapat tersampaikan dengan baik. Bahasa selain sebagai alat komunikasi yang utama dalam berinteraksi antar manusia, juga dapat digunakan sebagai jalan pembuka cakrawala dunia. Hal ini dapat dipahami sebagai suatu yang bernalar dan benar. Karena, semakin luas cakupan keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Untuk dapat berinteraksi di tingkat dunia, tentu saja penguasaan bahasa dan keterampilan berbahasa sangat diperlukan sebagai syarat mutlak dalam terciptanya hubungan antar bangsa yang lebih erat dan untuk mempermudah dalam memahami karakteristik suatu bangsa.

Bahasa Rusia merupakan salah satu bahasa resmi PBB yang digunakan secara luas oleh sekitar 300 juta orang di seluruh dunia. Namun, hampir seluruh penutur bahasa Rusia tersebut adalah penduduk yang tinggal di negara-negara pecahan Uni Soviet. Salah satu negara pecahan Uni Soviet yang masih memiliki penduduk yang dapat berbahasa Rusia adalah Estonia dengan presentase sebesar 58%. Juga terdapat 33.400 penutur bahasa Rusia di negara yang bukan pecahan Uni Soviet, seperti Finlandia. Bahkan, di Amerika Serikat dan Israel, terdapat sekitar 700.000 s.d 750.000 yang menggunakan bahasa Rusia dalam kehidupan sehari-harinya.

Berikut adalah presentase pengguna bahasa Rusia pada sekolah-sekolah di negara-negara pecahan Uni Soviet :
– Rusia, 97% – Belarusia, 75%
– Kazakhstan, 41% – Ukraina, 25%
– Kirgistan, 23% – Moldova, 21%
– Azerbaijan, 7% – Georgia, 5%
– Armenia serta Tajikistan, 2%.

Berdasarkan data di atas, saya berusaha menuangkan pemikiran saya dalam tulisan ini yang berjudul, “Pembelajaran Bahasa Rusia Sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) Sebagai Alternatif Pengajaran Bahasa Asing dalam Meningkatkan Perekonomian Nasional Serta Daya Saing Bangsa”. Hal ini dilandasi oleh kesadaran saya sebagai mahasiswa program studi sastra Rusia Universitas Padjadjaran, yang melihat bahwa potensi bahasa Rusia yang sangat besar tersebut belum terberdayakan dengan baik. Sebagian besar masyarakat Indonesia belum dapat melihat fakta-fakta bahwa Rusia memiliki kesamaan dengan Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang besar dan luas. Ditambah juga dengan posisi Rusia yang sangat strategis di dunia internasional sebagai salah satu pemegang hak veto di Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Saat ini, sebagian besar masyarakat Indonesia masih lebih senang jika anak-anaknya belajar bahasa-bahasa asing lain yang lebih terlihat berprospek, selain bahasa Inggris, seperti bahasa Jepang, Jerman, Prancis dan negara-negara lain dengan perekonomian yang terhitung maju. Padahal, dengan semakin berkembangnya negara Rusia,, dengan PDB sekitar US$ 1,3 triliun pada tahun 2009 dan US$ 1,5 triliun pada 2010, meningkatnya volume perdagangan Indonesia dengan Rusia, kemudian ditambah juga dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan Rusia atau para wisatawan yang berasal dari negara-negara yang masih menggunakan bahasa Rusia sebagai bahasa resminya, menjadikan bahasa Rusia sebagai bahasa yang lebih berprospek dari bahasa-bahasa asing tersebut. Oleh karena itu diperlukan penambahan orang-orang Indonesia yang mahir berbahasa Rusia, agar prospek yang sangat bagus ini tidak diambil oleh orang-orang dari negara lain.

Tujuan dan Manfaat yang Ingin Dicapai
– Memberikan alternatif dalam pembelajaran bahasa asing kepada seluruh masyarakat Indonesia.
– Dengan mempelajari bahasa Rusia sejak awal, diharapkan dapat terbentuk tatanan sosial masyarakat Indonesia yang lebih dinamis dan berimbang. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa selama ini masyarakat Indonesia lebih senang mempelajari bahasa negara-negara seperti Inggris (Amerika, Australia), Jepang, dan Jerman. Hal ini mengakibatkan penuhnya pemikiran-pemikiran masyarakat Indonesia oleh paham-paham yang berkembang dan berasal dari negara-negara tersebut. Tentu saja paham-paham yang diterima tidak seluruhnya baik dan jika pun itu baik, belum tentu dapat diterima dengan baik di Indonesia. Ditambah dengan pemberitaan tentang Rusia di Indonesia yang sebagian besar permasalahan yang diangkat hanyalah mengenai keburukan-keburukannya. Oleh karena itu, diperlukan perimbangan pemikiran sosial yang dapat ditemukan dari mempelajari bahasa Rusia.
– Terciptanya hubungan yang lebih baik di segala bidang kehidupan dengan bangsa Rusia. Saat ini hubungan tersebut sudah terjalin dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya volume perdagangan antara Indonesia dan Rusia, terutama dalam bidang persenjataan dan hal-hal yang berkaitan dengan militer, pertukaran pelajar dalam rangka misi kebudayaan, serta beasiswa-beasiswa yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.
– Meningkatkan posisi tawar atau bargaining position Indonesia dalam berdiplomasi di dunia Internasional, khususnya hubungan bilateral antara kedua negara. Hal ini disebabkan oleh karakter bangsa Rusia yang sangat bangga terhadap bahasanya, sehingga masih banyak dari orang-orang Rusia yang tidak mau berbahasa Inggris. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya proses komunikasi yang terjadi. Oleh karena itu, menjadi penting bagi masyarakat Indonesia untuk mahir berbahasa Rusia, agar proses-proses komunikasi yang dilakukan tidak terhambat dan agar dapat lebih mengenal kehidupan bangsa Rusia. Hal ini diperlukan untuk menentukan arah kebijakan politik luar negeri Republik Indonesia di masa-masa yang akan datang.
– Meningkatkan perekonomian nasional melalui potensi kunjungan wisatawan Rusia yang terus meningkat setiap tahun dengan memberdayakannya dengan baik. Hal ini dapat terjadi apabila semakin banyak orang-orang yang mampu berbahasa Rusia dengan baik dan benar.
– Meningkatkan jumlah pelajar yang belajar di Rusia.
– Indonesia dapat mempelajari kebangkitan yang dialami Rusia setelah krisis moneter pada tahun 1997-1999. Pada saat itu, Rusia juga mengalami efek yang sangat dahsyat akibat krisis keuangan dunia yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Namun, dengan pengelolaan kekayaan alam yang baik, krisis tersebut dapat dilewati dan menjadikan Rusia sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya selalu bagus setiap tahunnya. Sebenarnya, hal ini juga terlihat di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, namun belum dapat mengoptimalkan kekayaan alamnya sebagai faktor utama yang meningkatkan posisi Indonesia di dunia internasional.

Menurut Defense Language Institute Foreign Language Centre (DLIFLE), bahasa Rusia digolongkan sebagai bahasa yang tingkat kesulitannya menduduki peringkat kedua setelah bahasa Cina. Dalam mempelajari bahasa Rusia, dibutuhkan waktu 780 jam secara intensif aga dapat berbicara bahasa Rusia dengan cukup lancar. Jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia yang mempunyai abjad dengan jumlah huruf sebanyak 26 (seperti abjad latin), abjad dalam bahasa Rusia memiliki jumlah yang lebih banyak, yakni 33 huruf*. Hal ini menjadikan gramatika dan fonetika bahasa Rusia memiliki kompleksitas yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Secara gramatika, setiap kata kerja dalam bahasa Rusia mengalami sesuatu yang disebut konjugasi. Konjugasi adalah perubahan kata kerja tergantung pada subjeknya, yang kemudian disesuaikan dengan waktu dan jumlahnya. Perubahan juga terjadi dalam kata sifat maupun kata ganti milik yang mengalami deklinasi dengan mengikuti kata benda sesuai jenis kelamin (maskulin, feminin, netral) dan sistem kasus. Sedangkan, secara fonetik terdapat beberapa huruf bahasa Rusia yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, yang agak sulit dan harus berhati-hati dalam pelafalannya, karena tekanan kata dalam pengucapan, dapat membedakan arti dari sebuah kata.

Dalam mempelajari bahasa Rusia, terdapat kesulitan-kesulitan yang tidak kecil. Kesulitan yang paling utama adalah karena perbedaan rumpun bahasa. Bahasa Rusia termasuk dalam rumpun bahasa Slavia, sedangkan bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun bahasa Melayu. Hal ini mengakibatkan tidak selalu ditemukannya padanan beberapa kata dalam bahasa Rusia dengan Indonesia.

Hingga saat ini hanya dua institusi formal pendidikan yang secara serius bergelut di pembelajaran bahasa Rusia, yakni Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia. Pergerakan pembelajaran bahasa Rusia di dua universitas tersebut sebagian besarnya hanya ditopang oleh Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia. Sangat sedikit sekali bantuan langsung, baik berupa buku-buku pelajaran maupun pengadaan native speaker yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia maupun Federasi Rusia. Ditambah juga dengan kenyataan bahwa bahasa Rusia merupakan bahasa yang baru ada mata pelajarannya di kedua universitas tersebut. Sehingga mengakibatkan tidak maksimalnya proses pembelajaran yang terjadi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lulusan dari kedua universitas tersebut yang tidak terlalu mahir dalam berbahasa Rusia, sehingga tujuan dan harapan dari proses pembelajaran yang terjadi, tidak dapat tercapai dengan baik.

Federasi Rusia adalah negara yang sedang berusaha mengembalikan kejayaannya seperti yang mereka miliki pada zaman Uni Soviet. Usaha-usaha yang dilakukan dalam mengembalikan kewibawaannya di mata dunia internasional, antara lain dengan menjadikan energi sebagai alat diplomasi. Para ahli menyebut proses tersebut dengan ‘diplomasi energi’. Federasi Rusia sudah semakin sadar bahwa mereka adalah negara yang memiliki wilayah hutan terluas kedua di dunia, setelah amazon. Kemudian, Rusia juga memiliki cadangan gas terbesar di dunia, selain batu bara. Faktor-faktor inilah yang membuat Federasi Rusia berani untuk menjadikan energi sebagai alat diplomasi. Kekayaan sumber daya alam ini pula yang menyebabkan banyak negara memiliki ketergantungan di Indonesia. Saat ini, Republik Indonesia belum dapat mengoptimalkan kekayaan alam yang dimilikinya, untuk digunakan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Kontrak-kontrak pengelolaan sumber daya alam yang dilaksanakan, banyak yang dihargai terlalu rendah sehingga mengakibatkan tidak maksimalnya penyerapan keuntungan dari eksplorasi yang dilakukan.

Solusi yang Pernah Dilakukan untuk Menyelesaikan Permasalahan Ini

Secara garis besar, usaha-usaha yang dilakukan oleh Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia dalam melakukan pembelajaran bahasa Rusia, sudah berjalan dengan sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya peminat program studi sastra Rusia di kedua universitas tersebut. Kemudian, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, seperti les-les bahasa Rusia maupun kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan Rusia, juga sudah berjalan dengan baik. Namun, jika dilihat dengan seksama, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Dalam hal ini, publikasi memegang peranan penting dalam setiap kegiatan yang sudah, sedang, dan akan dilaksanakan. Hal inilah yang tidak terlihat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia. Les-les yang diadakan ataupun beasiswa-beasiswa untuk sekolah ke Rusia masih jarang tersampaikan dengan baik. Ini semua mengakibatkan banyaknya orang yang tidak mengetahui informasi-informasi penting yang seharusnya diketahui.

Hal-hal yang dapat dilakukan dalam mengurai permasalahan-permasahan yang terdapat dalam kondisi kekinian pembelajaran bahasa Rusia adalah :
– Bahasa Rusia adalah bahasa dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan banyak orang menjadi terlalu takut untuk mulai mempelajarinya. Oleh karena, pembelajaran bahasa Rusia seharusnya disesuaikan dengan kondisi tempat di mana bahasa tersebut dipelajari. Di Indonesia, dalam tahap awal pembelajarannya dapat dimulai dengan pengenalan abjad beserta cara bacanya. Contoh : Huruf “B” dibaca “Ve”.
– Tidak tercapainya tujuan pembelajaran bahasa Rusia di Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia, dengan lulusan yang belum tentu mahir berbahasa Rusia, dapat terfasilitasi dengan dimulainya pembelajaran bahasa Rusia sebagai salah satu bahasa asing pilihan yang harus dipelajari, minimal sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Nantinya hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah untuk membuka program studi sastra Rusia di universitas-universitas selain Unpad dan UI.
– Berkurangnya informasi-informasi tentang Rusia yang dikeluarkan oleh Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, yang hanya ada di Jakarta dapat diminimalisasi dengan membangun Pusat-pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di kota-kota lain yang strategis. Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia kemudian dapat melakukan publikasi besar-besaran terhadap segala kegiatannya, seperti halnya yang dilakukan oleh Pusat Kebudayaan Perancis (CCF).
– Pemerintah RI sudah harus bisa menjadikan kekayaan alam yang dimiliki sebagai faktor penting dalam meningkatkan daya saing bangsa dengan menjadikannya sebagai alat diplomasi. Hal ini bisa dilakukan dengan mempelajari apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah Federasi Rusia.

Pihak-pihak yang Dapat Membantu Mengimplementasikannya
– Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional.
– Pemerintah Federasi Rusia, yang diwakilkan oleh Kedutaan Besar Federasi Rusia untuk Indonesia.
– Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia.

Langkah-langkah Strategis yang Harus Dilakukan untuk Mengimplementasikannya
– Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional harus membuat aturan-aturan ataupun kebijakan-kebijakan yang mendukung program pembelajaran bahasa Rusia.
– Pemerintah Federasi Rusia, yang diwakilkan oleh Kedutaan Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, diharapkan dapat menyiapkan tenaga-tenaga pengajar yang sifatnya lebih sebagai penutur asli atau native speaker yang dapat menunjang proses pembelajaran.
– Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, menyiapkan diri sebagai pusat informasi untuk segala hal yang berhubungan dengan Rusia, terutama bahasa Rusia, selain institusi-insitusi formal yang berada dalam naungan Kementerian Pendidikan Nasional.

Gagasan yang Diajukan

Gagasan yang diajukan dalam makalah ini adalah dengan menerapkan pembelajaran bahasa Rusia di Indonesia, yang dapat dimulai dari Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga ke Perguruan Tinggi. Hal ini dilakukan selain sebagai alternatif pembelajaran bahasa asing di Indonesia, juga sebagai sarana untuk meningkatkan saya saing bangsa yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan perekonomian nasional.

Teknik Implementasi yang Akan Dilakukan
- Mengajukan usulan kepada pemerintah Republik Indonesia atau dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, untuk membuat aturan-aturan ataupun kebijakan-kebijakan yang mendukung program pembelajaran bahasa Rusia. Kemudian menyelenggarakan pendidikan bahasa Rusia sejak Sekolah Menengah Atas (SMA), maksimal tiga tahun sejak gagasan ini diajukan.
– Melakukan pertemuan dengan pemerintah Federasi Rusia, yang diwakilkan oleh Kedutaan Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, yang hasilnya diharapkan dapat meminta mereka untuk menyiapkan tenaga-tenaga pengajar yang dapat menunjang proses pembelajaran.
– Mengunjungi dan memberikan usulan serta membantu Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, untuk lebih mempublikasikan hal-hal yang berkaitan dengan Rusia.

Prediksi Hasil yang Akan diperoleh (Manfaat dan Dampak Gagasan)
- Menaikkan posisi tawar atau bargaining position Indonesia dalam berdiplomasi di dunia Internasional.
– Terciptanya tatanan sosial masyarakat Indonesia yang lebih dinamis dan berimbang, karena selama ini berita-berita tentang Rusia, hampir selalu mengenai hal-hal yang buruk seperti perang, bom nuklir, dan kediktatoran pemimpinnya. Hal ini tentu saja merupakan sebuah hal yang salah dan mengakibatkan sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap Rusia sebagai negara yang kejam. Hal tersebut dapat semakin dikikis dengan meningkatnya pembelajaran dan pemahaman mengenai Rusia.
– Meningkatnya kerjasama-kerjasama yang strategis di segala bidang kehidupan bangsa Indonesia dan Rusia.
– Meningkatnya volume perdagangan antara Indonesia dan Rusia yang saat ini masih bertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan militer. Melalui gagasan ini, diharapkan porsi perdagangan tidak hanya terkait masalah itu saja, namun sudah dapat menyentuh bidang garapan lain.
– Meningkatnya jumlah orang yang ingin belajar ke Rusia.

DAFTAR PUSTAKA

Saragih, Simon. 2008. Bangkitnya Rusia : Peran Putin dan Eks KGB. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

Makalah Kepala Bidang Pengembangan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (kini Kementrian Pendidikan Nasional) Republik Indonesia, Dr.Sugiyono, yang dipresentasikan dalam Forum Komunikasi Pendidikan, Badan Pendidikan dan Pelatihan, Departemen Pertahanan Republik Indonesia, tahun anggaran 2009, tentang Penguasaan dan Keterampilan Berbahasa Merupakan Jalan untuk Menguasai Dunia, pada tanggal 11 November 2009.

Makalah Ketua Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Indonesia, yang juga penutur asli atau native speaker bahasa Rusia serta staf pengajar di Pusat Bahasa Departemen Pertahanan (kini Kementrian Pertahanan) Republik Indonesia, Ir. Ny. Alexandra I. Kermite, yang dipresentasikan dalam Forum Komunikasi Pendidikan, Badan Pendidikan dan Pelatihan, Departemen Pertahanan Republik Indonesia, tahun anggaran 2009, tentang Penguasaan dan Keterampilan Berbahasa Merupakan Jalan untuk Menguasai Dunia, pada tanggal 11 November 2009.

SUMBER INTERNET

http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2010/11/stanchart-ri-masuk-10-raksasa-ekonomi-2020/

http://www.kopertis12.or.id/2011/01/12/20-negara-dengan-pdb-terbesar-di-dunia-indonesia-peringkat-no-18-menurut-data-bank-dunia-2009.html

http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/104-agustus-2010/887-peran-rusia-dan-indonesia-semakin-besar-dalam-mentransformasikan-struktur-perekonomian-dunia.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Rusia

http://www.wikipedia.org/wiki/Rusia.html

http://www.dlifle.edu.

LAMPIRAN
*Abjad bahasa Rusia
Huruf Nama huruf Transliterasi Transliterasi
nama huruf
А а а a a
Б б бэ b be
В в вэ v ve
Г г гэ g ge
Д д дэ d de
Е е йэ ye ye
Ё ё йо yo yo
Ж ж жэ zh zhe
З з зэ z ze
И и и i i
Й й и краткое y i kratkoye
К к ка k ka
Л л эл l el
М м эм m em
Н н эн n en
О о о o o
П п пэ p pe
Р р эр r er
С с эс s es
Т т тэ t te
У у у u u
Ф ф эф f ef
Х х ха h ha
Ц ц цэ ts tse
Ч ч чe ch che
Ш ш ша sh sha
Щ щ ща sch scha
Ъ ъ твёрдый знак * tvyordiy znak
Ы ы ы y y
Ь ь мя́гкий знак ´* myagkiy znak
Э э э e e
Ю ю йу yu yu
Я я йа ya ya

Tentang Malam

Mungkin lebih senyap dari malam
Begitu senyapnya malam,
Hingga banyak orang terlena karenanya
Terlena entah kemana,
Malam memang penuh pilihan

Ya, ada pula yang memilih sendiri
Untuk melenakan dirinya

Aku rindu air dingin di sepertiga malam
Yang sering terlupakan karena lelapnya
Aku ingin mengulanginya
Sangat ingin mengulanginya, tertunduk bersahaja padaNya

*Dari E.P dan I.D

Suatu Pagi di Jakarta

Pagi hari, setelah empat bulan gak balik ke Jakarta :

“Masak apa wa? (Uwa/tante).”

“Masak sayur asem, buat elu makan. Elu kan suka nanyain sayur asem kalo pulang. Tadi gue suruh aja abang lu pagi-pagi ke pasar buat beliin.”

“hmmmmmmm, (eiwedkjsbdbqsdygfbfnbkgzxcg,abvbkvh)

Keluarga memang yang paling dahsyat dah. :)

Al-I’tiraf (Sebuah Pengakuan)

Ilaahi lastu lilfirdausi ahlan
Walaa aqwaa ‘alannaaril jahimi
Fahabli taubatan waghfir dzunuubi
Fa innaka ghoofiruddzambil ‘adziimi

Dzunuubi mitslu a’daadir rimaali
Fahablii taubatan yaa dzaljalaali
Wa’umrii naaqishun fiikulliyaumi
Wa dzambii zaa-idum kaifahtimali

Ilaahi ‘abdukal ‘aashi ataaka
Muqirron biddzunuubi waqod da’aaka
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun
Wa in tadrud faman narjuu siwaaka

Wahai Tuhan, ku tak layak ke SurgaMu
Juga, Aku tidak sanggup ke neraka-Mu
Terimalah taubatku dan ampuni segala dosaku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar

Dosa-dosaku bagaikan pasir-pasir di pantai,
Terimalah taubatku Wahai Tuhan yang Maha Tinggi
Dan usiaku berkurang setiap hari,
Dan dosaku pula bertambah setiap masa

Tuhanku, hamba-Mu yang sering melakukan
maksiat telah datang kepada-Mu
Senantiasa Berbuat dosa, dan sesungguhnya
telah berdoa kepada-Mu

Jika Kau ampunkan, maka itu hak-Mu
Dan jika Kau tinggalkan, maka siapa lagi
yang hendak kami harapkan seperti-Mu